Pindah Rumah

Kingkin Kinamu

Advertisements

KEBIASAAN

DULU sebelum tahun 2017, aku lebih sering mengetik blog, cerita pendek, dan lain-lain di atas tuts keyboard laptop.
Namun semenjak bekerja untuk media yang memberiku ruang untuk terbiasa mengetik dengan smartphone, kebiasaan tersebut berangsur-angsur berubah.
Dari mengetik di atas keyboard laptop berubah menjadi mengetik di smartphone, sekali mengumpulkan fakta-fakta langsung diketik dan kuolah menjadi berita. Continue reading

Review Film The Gift

“Dokter adalah cita-cita yang diinginkan semua orang tua, bu. Sedangkan penulis tidak,”

Itulah tukilan percakapan Tania yang diperankan oleh Ayu Sitha bersama Christin Hakim.

Banyak kearifan perasaan yang ditampilkan selama film ini berlangsung selama kurang lebih dua jam.
Dear neter, saya bukan tipikal pengkritik teknik pembuatan film, saya hanyalah penikmat film, masuk bioskop duduk makan popcorn ataupun tidak, nikmati pertunjukkan.
Masalah teknik nanti tanyakan sama sutradara dan produsernya langsung, ya. Maaf, jika kali ini reviewnya hanya terkait isi filmnya.

Saya mengapreasiasi karya mas Hanung melalui review ini, kelak secara teknik biar diperbaiki sendiri di karya selanjutnya.

Terima kasih mas Hanung, atas karyamu yang satu ini.
Kembali ke review.

Film yang menggandeng aktor Reza Rahardian ini, mengisahkan jika cinta hanyalah hal abstrak yang perlu banyak pengorbanan.

Continue reading

Perjalanan

Ketika meninggalkan sebuah tempat untuk melanjutkan perjalanan hidup, hal yang lumrah dibawa-bawa adalah sebuah catatan kecil.
Pertama kali singgah di Kota Tegal, November 2017, aku masih tampak asing dengan suasana Kota Tegal, namun hal yang kulakukan secepatnya yakni adaptasi.
Adaptasi lingkungan, perilaku, dan budaya.
Aku tidak pernah menduga, dinamika seorang perwarta di lapangan penuh dengan kejutan-kejutan kecil yang membuatku menerima pelajaran kehidupan.

Continue reading

Aroma Karsa, Indra Penciuman dan Kisah Cinta

Dua suku kata yang mengisahkan tentang kisah cinta serta perjalanan hidup beberapa tokoh yang ada di dalam buku ini tentu membuat pembaca sepertiku selalu mencium terlebih dahulu aroma kertas buku ini, Aroma Karsa.

Aroma Karsa, Dee melibatkan indra yang sangat vital untuk aroma yakni penciuman, hidung adalah komponen penting bagi jalannya cerita ini. Tokoh utamanya memiliki keunikan dalam penciuman, ia mampu mencium semua aroma baik sampah hingga molekul terkecil, ia Jati Wesi.

 

Aku dengan senang hati akan mengategorikan novel ini ke dalam genre drama fantasi cinta. Penciuman Jati Wesi menemukan siapa jati dirinya sebelumnnya. Hidupnya terdiri dari beberapa hal yang rumit dalam hidup, masa lalu, asal usul, masa depan dan cinta. Continue reading

Embung Prabanlintang

Dengan waktu tempuh sekitar 45 menit dari pusat Kabupaten Tegal, Embung dengan sumber mata air ini menjadi daya tarik sendiri kawasan hutan pinus di Desa Danasari, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal.

embung (2)

tiket masuk 5.000 rupiah/orang

Embung ini terletak di Wana Wisata Prabanlintang.

Konon di antara teduhnya pepohonan pinus ini menjadi lokasi jatuhnya bintang ratusan tahun yang lalu.

Secara harfiah, nama Prabanlintang memiliki arti lokasi bintang jatuh.

Praban: lokasi/tempat, Lintang: bintang/lintang. Continue reading

Pelajaran yang Bisa Dipetik Hari Ini

Suatu kali orang-orang akan menertawakanmu seolah-olah kamu salah supaya mereka terihat paling benar. Ya, suatu kali kamu akan bertemu ddengan hal demikian. Namun, ibu selalu berpesan untuk terus bersikap positif atas apa-apa yang mereka lakukan.

Suatu kali orang-orang akan menertawakanmu karena kamu memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memandang masalah. Ibu selalu berpesan biarlah, teruslah bermanfaat untuk sesama.

Suatu kali orang-orang akan menerwatakanmu seolah-olah kamu adalah biang keladi. Meski kamu benarpun, tetap kamu ada seorang biang keladi. Ibumupun kemudian menasihati, merubah sudut pandang yang terlanjur keliru namun sudah berjamaah sangat susah, teruslah menanamkan kebaikan dan bersikap positif. Continue reading

Sepagi Ini Mengejan

Sajakku terlalu pagi, ini untukmu, anonim .
Nafasku tidak teratur kali ini, aku melanggar aturan: memikirkanmu dalam sebuah perjalanan.
Hatiku gelisah, aku merasakan gusar, karena aku telah berbohong kepada diri sendiri. Kataku, kepadamu aku tidak memikirkanmu. Padahal.

P_20180217_090917
Sepagi ini aku mengejan jejak-jejak kereta api menuju pulang.
Kuakui, langkah kecil ini masih terlalu dini.
Apa defisini pulang?
Dalam ejanku yang tersendat pilu, aku tak mampu menyapamu lebih dari tiga kali sehari. Continue reading

Review Film Dilan 1990

Aku pernah bertemu beberapa orang yang memaksakan sudut pandang, padahal sebenarnya keberagaman adalah hal yang indah. Lalu, pernah suatu kala aku bertemu dengan para hakim-hakim sosial yang tidak saling mengenal lalu salingĀ  berspekulasi tentang hal baru yang belum dikenalnya dari dalam, ah sudahlah, ini caraku menghabiskan hari libur di sela-sela pekerjaan (ho-ho-ho).

Kupersembahkan, review untuk Mas Bidi Baiq yang telah memberikan kami hiburan.

Ini caraku menghabiskan hari libur di sela-sela pekerjaan (ho-ho-ho).

Doakan aku kali ini kawan, aku tidak menghakimi.

Baik menghakimi sutradara (Fajar Bustomi) ataupun penulis novel Dilan 1990, Pidi Baiq, yang sangat ramah kepadaku, bahkan kepada debu sekalipun ia tak pernah merasa dia adalah senior, guru, ataupun soto(i) sapi -eh, keblablasan bercandanya.

Mari kita mulai dari, ini.

IMG_20180127_174934

dok pribadi

Film Dilan 1990 garapan Fajar Bustomi ini sebenarnya telah ditunggu-tunggu oleh penikmat buku.

Banyak di antara teman-temanku yang telah khatam buku-buku Bidi Baiq penasaran, seperti apakah sosok Dilan dengan gaya flamboyan yang bertanggungjawab.

Film dengan judul yang sama dengan novelnya ini, berdurasi kurang lebih selama 2 jam.

Bagiku, wujud visualisasinya menciptakan rasa buku.

Aku tidak akan mengobrolkan masalah teknik penggarapan film. Sebagai penikmat hiburan aku lebih suka duduk manis menikmati jalannya alur hingga teringat isi bukunya sembari nyemil popcorn, dan menyiapkan air mineral (sudah menyimpan di dalam tas, don’t try this at cinema, ho-ho), sudah cukup.

Sabtu lalu, aku ditemani seorang kawan dari Kabupaten Tegal yakni Rachma Utari menikmati film karya Fajar Bustomi. Continue reading