Tungku

BARA merupakan bagian terpenting bagi kehidupan ku. Tanpanya aku tidak bisa menyenangkan orang-orang yang menahan nafsu. Tetes demi tetes air meredam bara yang telah menyemburkan api. Aku berharap aku tidak diciptakan dengan fungsi seperti ini. Tahan panas tetapi rapuh.

            Sore itu mendung menjadikan uap-uap air turun. Tetapi beberapa orang masih sempat memuaskan nafsu mereka di sekitarku. Menunggu hingga daging-daging itu siap panggang. Lelaki berkaus putih itu menambah kembali bara pada ceruk tubuh ku yang lebarnya tidak seberapa. Apa yang akan ia buat adalah sebuah master  piece yang akan berakhir dengan tinja. Menu favorit di sini adalah tongseng kambing, sate sapi, sate kambing, dan nasi goreng sapi serta kambing. Orang-orang mulai menganggap remeh gumpalan ayam yang direbus hanya karena cita rasanya tidak segurih sapi maupun kambing. Betapa urat-urat di lengannya kencang setelah sekian lama berdiri di depanku mengabaikan hasratnya untuk mencumbu istrinya. Ia gunakan tangannya yang kekar demi dua puluh satu ribu rupiah untuk sepiring nasi. Kuakui, ini adalah caranya bertahan dari kehidupan yang kejam. Namun dia adalah lelaki yang cukup beruntung. Continue reading

Sebuah Review Anak Rantau: Menjadikan Alam Sebagai Guru

JADWAL bacaku tidak seperti dulu lagi, yang berarti menunggu membaca, bengong membaca di mana pun, dan kapan pun. Jadwal mencoret-coret ku juga tidak sama seperti dulu lagi, bisa coret-coret di mana saja, kapan pun. Ada banyak hal yang membuatnya berubah.

            Di lingkungan baru, ada seorang teman yang bertanya, kapan kamu suka menulis atau pun membaca, kenapa? kenapa harus membaca? apa orang tua mu tidak marah kamu membeli buku? bagi teman-teman lamaku mungkin sudah tidak kaget lagi melihat kegemaran ku pada buku seperti misalkan orang yang tidak bisa lepas dari kegilaannya pada rokok atau pun orang yang memiliki panggilan travelling. Ini bukan tentang gaya hidup, tetapi kebutuhan hidup. Continue reading

Berintim

“Salah satu tujuanku, membuat acara Literary Lunch, sekaligus aku pamitan untuk beberapa waktu, karena aku akan bertolak ke lowa, Amerika, pada tanggal 19 nanti, diundang sebagai pembicara di Lowa” -Okky Madasari

DI SIANG yang bersejarah di Kota Tua. Di sela-sela berlangsungnya agenda ASEAN Literary Festival, di Batavia Market terdapat pembicaraan yang santai, lebih dekat, tentu saja lebih intim tanpa sekat bersama Okky Madasari. Ada agenda khusus selain bentuk apresiasi Okky Puspa Madasari kepada para pembaca buku dan penikmat sastra, pamitan sebentar karena akan segera bertolak ke Progam Residensi di Amerika, Lowa.

            Aku beruntung sekali termasuk ke dalam lima belas orang yang bisa mengikut acara ini, senang sekali bisa bertemu dengan beberapa teman lain yang memiliki minat yang kuat di bidang sastra, sekaligus berkencan dengan beberapa teman media.

            Kapan lagi aku bisa bertemu dengan Okky Madasari lagi dengan suasana yang berbeda? ini merupakan kali kedua setelah pertemuan aku untuk pertama kalinya di Yogyakarta. Kesan pertama di Yogyakarta ketika waktu itu pertama kali bertemu adalah hangat. Sosok yang sangat inspiratif. Continue reading

Anak Rantau, Obat Luka: Maaf dan Melupakan

ASEAN LITERARY FESTIVAL 2017, 5 Agustus 2017 menghadirkan mantra baru di soft launching Anak Rantau, A. Fuadi.

“Obat luka adalah maaf,” begitu kata A. Fuadi di awal acara. Dengan maaf bisa menyembuhkan rasa sakit, sebab luka batin tidak ada obatnya, tetapi fisik memiliki obatnya, pada akhirnya maaf merupakan penawar yang menyehatkan.

 

            Anak Rantau membawa aura lengkap, selain karena terinspirasi dari kampung halaman A Fuadi sendiri, trilogi sebelumnya, dan pesan moral untuk pembaca. Ada beberapa hal yang mengusik pemikiran penulis asal Sumatera ini. Di desanya, sudah ada datuk yang tersandung kasus narkoba, struktur kampungnya sudah berubah, sehingga untuk memperbaiki kampungnya untuk menjadi lebih baik, A Fuadi memutuskan untuk menulis. Anak Rantau sudah ada berada di benak beliau sudah lama, membutuhkan waktu empat tahun untuk menyelesaikan Anak Rantau karena berbagai hal, antara lain karena kegiatan sehari-hari dan riset. Meluangkan waktu untuk menulis memang bukan hal mudah untuk seorang yang memiliki kewajiban di luar menulis sebagai disiplin diri. Continue reading

Mengikuti Panggilan Jiwa

BERUNTUNGLAH seorang yang memiliki wadah untuk panggilan jiwanya. Rumah Millennials menyediakan itu. Beruntunglah aku bisa ikut meliput launching Rumah Millennials mewakili Trivia, salah satu media di bawah naungan Zetta Media. Tidak terasa sudah tiga tahun aku diberi kesempatan untuk berkontribusi sebagai penulis lepas di portal trivia. Di sana, aku bertemu dengan teman-teman yang memiliki passion menulis, menyukai buku, ataupun beraksi untuk berkarya.

            Buku adalah candu bagi kehidupanku, begitu juga dengan teman-teman yang memiliki panggilan jiwa yang sama. Tak bisa lepas. Ditambah, beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 22 Juli 2017 aku menemukan suntikan baru untuk memotivasi diri sendiri. Bertemu dengan beberapa orang yang berkarya sesuai passion-nya ataupun memandang kehidupan dari segi yang berbeda membuatku bisa belajar lebih banyak lagi dari prespektif yang lain, sesuatu yang tak akan pernah didapat di bangku kuliah ataupun di diktat-diktat resmi. Dan salah satu hal yang paling berkesan adalah ketika seorang Diplomat Kemenlu, Ahmad A. Amri memberikan beberapa nasihat hidup. Continue reading

Health Is Wealth Very Precious

MENJADI sehat itu mudah jika diri sendiri memiliki sugesti yang baik. Menjadi sakit bisa karena suatu hal yang tak bisa dijelaskan ketika diri sendiri menolak sembuh.

Hari ini, keadaan membuatku merindukan nikmat sehat. Diare menuntunku pergi ke Puskesmat Kebon Jeruk. Jujur saja, aku merindukan percakapan-percakapan tentang kesehatan dengan teman-teman ku yang penuh dengan aroma kertas-kertas berserakan di lantai. Sebelum memutuskan untuk pergi ke Puskesmas Kebon Jeruk, kucari beberapa fakta lewat google tentang Puskesmas tersebut. Continue reading

Keajaiban Semesta Kata

Kata merupakan kekuatan satu semesta -M. Aan Mansyur.

BENTARA BUDAYA JAKARTA, hari Sabtu 8 Juli 2017 memiliki suasana yang penuh dengan makna kehidupan lebih daripada biasanya. Menulis Kisah dalam Sajak merupakan momen yang secara pribadi kutunggu, di sani merupakan pertemuan pertama kaliku dengan penulis Puisi Tidak Ada New York Hari Ini, Kumpulan Cerita Pendek Kukila, Melihat Api Bekerja, ya, dia adalah M. Aan Mansyur.

            Kelak jika aku lupa diri bahwa hidup ini sebenarnya tentang hal lain di luar makna memaknai hal dalam setiap perjalanan bukan tentang bagaimana caranya saja, tetapi melihat hal-hal lain di luar zona nyaman yang membuatku akan bertutur kepada keturunanku kelak, jika puisi adalah bagian yang sangat penting dalam hidup.

            Sejalan dengan berjalannya waktu, aku melihat rupa-rupa yang sebenarnya memiliki makna tersendiri ketika aku mengunjungi suatu tempat baru dan bertemu dengan orang-orang baru dengan berbagai macam watak dan budaya hidup yang membaur pada sebuah kota metropolitan seperti Jakarta bukanlah hal yang harus digaungkan sebagai masalah yang mewah dalam artian sebenarnya. Di sana terdapat banyak pertanyaan-pertanyaan tentang hidup. Dan jauh sebelum hari ini, aku telah menaruh perhatian lebih terhadap semua yang suka menulis dan membaca, hingga hari ini tiba, kudiberi kesempatan bertemu dengan M. Aan Mansyur di Bentara Budaya Jakarta. Continue reading

Jakarta, Selamat Pagi

Pernyataan teman-teman yang telah lahir dan besar di Kota Jakarta tidak jauh-jauh dari kalimat-kalimat ini; 1) Jakarta itu keras banyak kejahatan 2) Jakarta itu kota para koruptor 3) Jakarta itu tempat orang-orang menggantungkan impian setinggi-tingginya, namun ada banyak sekali kenyataan yang membenturkan impian mereka.

Adakah yang memiliki pemikiran jika Jakarta adalah kota yang paling bersahabat untuk para pendatang budiman atau pendatang yang bajingan? 

Kelak yang memiliki pendapat bahwa lingkungan yang harus beradaptasi akan disadarkan oleh hal-hal yang tidak kasat mata. Continue reading

Review Buku Ketika Lampu Berwarna Merah: Yang Tersembunyi di Antara Kemegahan Jakarta

“Apa yang Anda mau ada di sana. Dari garam sampai mobil paling mewah. Segala macam hiburan tersedia. Dari yang kelas kambing sampai utama. Jakarta. Jakarta. Selalu melayani selera Anda.” Ketika Lampu Berwarna Merah, Hal 101.

Membaca adalah cara menjelajahi fisik dan jiwa tempat-tempat tokoh-tokoh dibuat oleh penulisnya. Manusia dan keseharian, seperti feature, yang dituangkan oleh Hamsad Rangkuti, melalui wajah novel Ketika Lampu Berwarna Merah akan membuat pembaca berpikir lebih arif mengenai kehidupan lokal Ibu Kota dan sebab akibat dari transmigrasi.

Exif_JPEG_420

dok pribadi

            APA yang kamu inginkan dari hidup? Pikiran orang tentu berbeda, tentang menghadapi pasar, mereka dibentuk pasar atau membentuk pasar? beberapa teman saya yang bekerja di beberapa perusahaan swasta internasional dan negeri menjadikan gaya hidup yang menurut saya memaksakan hal-hal yang bersifat duniawi secara berlebihan, misalnya, setelah membeli jam tangan dengan merk tertentu yang harganya mungkin bisa digunakan untuk mencicil uang gedung sekolah anak, mereka menginginkan yang lebih mahal lagi dengan merk yang berbeda, kata mereka itu adalah hadiah bagi diri sendiri. Namun secara pribadi jika kesempatan tersebut datang, saya lebih memilih menumpuk koleksi buku-buku. Sebab sebenarnya semua orang mampu membeli jam, tetapi apakah waktu itu bisa dibeli? tentu saja hidup itu perkara pilihan-pilihan, apa iya, kita semua akan terbuai dengan prinsip ekonomi mengenai sikap dasar manusia mengenai kepuasan? ada sisi kepuasan yang tamak. Continue reading