Politik Yang Menyembuhkan Penyakit Negara

Selamat pagi, Hari Minggu.

Aku banyak belajar dari Sindhunata, penulis kolom feature Harian Kompas, mengenai memberitakan sebuah frame kehidupan-kehidupan.

Kubelajar cara dia memandang masalah yang dilewatkan oleh orang awam pada umumnya. Bukan mencari-cari hal besar agar orang membaca.

Selain Sindhunata tentu aku belajar langsung dengan Yusran Pare ketika masa penggodokan sebagai jurnalis Tribun Jateng. Banyak hal unik dan passionate dari teman-teman di Tribun Jateng. Kuakui, aku jatuh hati dengan beberapa temanku yang passionate.

Ini bukan idealisme, ini sebuah tanggungjawab memadukan kasusastraan ke dalam sebuah tulisan jurnalis. Andai semua orang meleburkan dalam keseharian mereka, tentu mereka memahami hal-hal tak kasat mata tanpa verbal-verbal yang bagiku adalah cacian dan penghakiman semata. Continue reading

Advertisements

aku, cita-cita, dan keputusan-keputusan

Di bangku kuliah aku lebih suka mencari-cari buku non akuntansi, aku lebih suka membaca sastra atau pun isu-isu mengenai sosial ekonomi.

Aku lebih sering menulis daripada mengikuti kegiatan teman-teman di bidang akuntansi.

Keberadaan dosen yang juga memiliki hobi menulis, Junaidi, membuatku merasa tidak menjadi alien seorang diri.

Kawan, kamu tahu? teman-temanku waktu itu berdemo karena fungsi BEM dimatikan. Hingga beberapa dari mereka dikeluarkan.

BEM pusat sementara beku. Entah beku sampai kapan aku ingin pura-pura lupa waktu itu. Kami lahir diera demokrasi tapi entah kenapa waktu itu ada masalah intern yang tidak terbuka. Terbentang tinggi. Kokoh. Rapat. Tidak tertembus kami.

Tidak pasti alasannya kenapa waktu itu demikian.

Jadi semasa kuliah, jurnalis kampus jalan sendiri.

Dan aku ikut berkontribusi di dalamnya. Untung ada Junaidi, jadi aspirasi-aspirasi di kampus tetap jalan.

Kuikut membantu diterbitkannya buku ke-2 Junaidi ini. Senang sekali rasanya. Kurasa di dalam kampus aku tidak sendiri karena memiliki orang aneh yang suka dengan buku-buku lain selain akuntansi. Continue reading

Memori Dongeng Masa Kecil (2)

Ini merupakan bagian akhir tentang pendongeng yang ada dalam kehidupanku di waktu kecil*

Selain Bapak, Nenek adalah pendongeng ulung juga di masa kecilku.

Saat kedua orangtuaku bekerja, Neneklah yang ngemong. Saat itu, aku tidak tahu kenapa selalu saja minta digendong dan dinyayikan lagu salepok. Ini adalah memori yang paling aku ingat. Nenek menggendongku, menyanyikan lagu itu hingga aku terlelap.

Ada lagi kegemaranku dikala kecil ketika diasuh Nenek. Ketagihan mendengarkan dongeng. Continue reading

Memori Dongeng Masa Kecil [1]

Huma. Bapak memberikan nama itu. Induk nya suka sekali melindungi Huma ini. Telinganya besar, memiliki belalai,  berkaki empat.

Kali bertama aku melihat kebun binatang ini sekitar usia 5 tahun.  Aku penasaran sekali dengan cerita bapak sebelum pergi ke kebun binatang pagi itu,  terus terngiang-ngian. Hingga aku tumbuh dewasa memori itu masih menempel kuat.

“Ceritakan lanjutannya Pak” Pekikku membuntuti ke mana pun bapak pergi. Ke ruang tamu, ke kamar,  ke teras. Kukuntit bapak waktu itu. Sampai ibu jengkel karena ulahku.

“Sudah lah.  Nanti lagi. Bapak juga nih! Tak perlu lagi cerita yang aneh-aneh. Kasihan masih kecil, nanti kepikiran terus. Nagih-nagih janji terus. ” Ha-ha.  Ibu begitu rasional hingga malas mendengarkanku merengek  imaginasiku yang liar terhadap  cerita bapak. Begitulah ibu menegur kami berdua. Continue reading

Nostalgia Dolanan Tradisional Indonesia

Terdapat pesan luhur di balik permainan tradisional

SORE tadi selepas mengantarkan benda kesayangan seorang teman, aku  melewati lapangan dan taman sebuah perumahan yang asri. Terdapat anak-anak bermain girang tiada beban. Mereka bermain lompat karet.

            Meskipun zaman millenials telah merajai semua kalangan, nyatanya sore ini kudapati sebuah pemandangan yang damai. Tidak ada benda smartphone di antara mereka. Hanya ada canda tawa dan peluh. Kebetulan aku juga tidak membawa smartphone sore ini.

Cara bermain lompat karet sangat mudah, dua orang berjaga. Saling terhubung menggunakan tali karet yang sudah mereka buat sedemikian rupa. Kemudian yang giliran melompat mengambil ancang-ancang supaya bisa melompati karet. Continue reading

Currently Reading Royyan Julian: Tanjung Kemarau

Bekerjalah sebaik-baiknya dan Tuhan tidak akan meninggalkanmu. Roti dan susu bisa datang dari arah mana saja, melalui tangan siapa saja — Tanjung Kemarau, halaman 48.

PERNAH aku ditanya tentang buku yang bagus di toko buku biasanya dilihat dari mana?

            Secara pribadi aku tidak pernah membeda-bedakan jenis buku. Biasanya aku memilih yang sedang ingin aku baca. Namun memang aku menggandrungi beberapa seniman dibidang tulis menulis sehingga beberapa karya beliau-beliau ini selalu aku tunggu-tunggu; Okky Madasari, Eka Kurniawan, George Orwell, Andrea Hirata, Haruki Murakami, Arafat Nur, Vabyo, M Aan Manyur, SDD, Hamsad Rangkuti dan masih banyak lagi  akan ada banyak list, lain waktu bisa dibahas lebih panjang. Jika kamu memiliki buku rekomendasi yang bagus untuk dibaca, aku sangat senang jika kamu mau berbagi.

Pernah tidak memilih buku dengan hanya mencium buku kemudian mengambilnya dari rak buku berdasarkan aroma kertas yang paling menggairahka? Harap jangan ditiru — aku hanya mencoba mencairkan suasana ketika kamu membaca blog ku.

            Sebenarnya aku memilih buku itu biasanya dari cerita yang akan disampaikan penulisnya. Ketika aku tanpa sengaja melihat deretan buku-buku baru di raknya, aku melihat Tanjung Kemarau, buku dengan aroma memikat ini memiliki cerita yang menarik dan memiliki pesan sarat makna. Continue reading

Pesta Kopi, Moke, dan Sopi di Kampung Nanu

*sebelumnya artikel ini dimuat di wewerehere.id sebagai artikel yang ikut serta lomba #BeautifyingIndonesia

It’s easier to build a strong children than to repair broken men.

– Frederick Douglass

“Langit Indonesia bukan hanya Jawa, lho!” begitu seloroh seorang teman. Namanya, Irine Rahma Maulidia, yang saat itu mengikuti progam pengajar di pedalaman Nusa Tenggara Timur. Tepatnya di Manggarai, Desa Buar, di Kampung Nanu.

sederhana

dok pribadi, taken by Irine Rahma Maulidia

Berkontribusi sebagai pengajar di pedalaman membuat Irine sangat antusias. Bagi Irine, mendidik anak-anak bukan soal tawar-menawar lagi. Lebih baik mendidik anak bangsa sejak dini, sebelum terlambat. Seperti pendapat Frederick Douglass. Continue reading

Berhujan Di Langit Yang Sama

Menikmati malam pekat dengan buku-buku adalah kesukaanmu. Aku tidak tahu kenapa kamu suka buku. “Aku seperti kamu,” begitu ucapmu. Selain itu hobi mu mengabadikan momen dengan Nikon D5000 selalu membuatmu seperti orang yang menikmati hidup di luar kebiasaan teman-teman pergaulanku di luar dunia literasi. “Memaknai hidup itu dengan hati,” katamu.

            “Berpikir juga dengan hati.” suaru bergema. Kemudian kamu sibuk sendiri dengan rancauan di seberang sana. Aku tidak bisa melihat ekspresimu saat ini karena kita sedang berbicara melalui telepon. Continue reading

Merayakan Ruang Baru Post Book

DI tengah huru-hara kehidupan kota metropolitan Jakarta, ada surga tersembunyi di kota yang beratmosfer tempramen dalam arti sebenarnya atau pun kiasan. Terletak di Jakarta Selatan, Pasar Santa. Begitu kamu sampai di tempat ini atmosfer tempramen Jakarta berubah dingin, mencair, namun penuh dengan kehangatan yang ramah.

            Hari itu berbeda. Tepat di tanggal 23 September 2017 tempat dengan lebar kira-kira 4×6 meter ini selesai direnovasi dengan menambah ruang untuk buku-buku yang menjadi tuan rumah utama. Continue reading

Kerinduan-kerinduan yang Bungkam

KITA tidak tahu jadinya akan seperti apa setelah  kehidupan di dunia berakhir, untuk saat ini. Mungkin saja aku tidak bisa kembali membaca buku-buku bersama kamu dengan nikmat seperti seusai menjelajahi los-los toko buku independen di Jakarta. Atau pun toko-toko buku dependen di semua tempat. Jika aku mendapat hadiah neraka. Kudapati diriku pasti tidak mendapati yang kumau. Seperti kedamaian menjelajahi los-los berisi jutaan buku.

            Untuk membayangkannya pun susah. Apakah aku akan merindukan hari ini di masa ketika otak-otakku terbetot keluar, ruh ku meninggalkan semuanya. Continue reading