Review Buku Rumah Kertas

bluma-1

dok pribadi pada Pantai Selatan Yogyakarta

Dua minggu terakhir saya terkena gangguan dalam menulis, susah sekali rasanya mengutarakan apa-apa yang terjadi dengan baik. Pikiran ini terkena disktraksi dalam meluapkan cara memaparkan perasaan atau buah pikiran. Maafkan saya. Mungkin ini termasuk masalah: malas menulis, alih-alih writer’s block. Tidak tahu bagaimana caranya, saya memaksakan membaca di waktu yang kurang produktif. Saya tidak mau merenggut kebiasaan membaca buku disetiap kegiatan baru yang menyita waktu. Buku-buku yang menemani saya dalam kegaduhan perasaan dan pikiran kali ini adalah Rumah Kertas dan Kala Mata (yang belum terbaca sampai akhir).

Banyak sekali pilihan-pilihan hidup yang harus dilalui, dan membutuhkan pikiran jernih. Hal tersebut sebenarnya menjadi distraksi utama saya kesulitan menghirup oksigen untuk menulis, rasanya kosong. Saya bisa merasakan kepedihan dan bahagia secara bersamaan ketika saya menulis, maka beberapa minggu kemarin saya berhenti. Terlalu naas untuk dilanjutkan dalam kegagap kempaan dunia yang sekarang sedang saya jalani.

Tetapi, dua hari ini di sela-sela malam saya menemukan ritme untuk membaca Rumah Kertas setelah sehari sebelumnya saya ajak dia bermain-main di tepian Pantai Parangtritis. Awal saya membaca buku ini, membantu saya untuk menulis kembali minimal untuk diri sendiri.

Menemukan Rumah Kertas seperti menemukan air mineral di tengah gurun pasir. Menyejukkan relung-relung jiwa yang menggersang karena peristiwa taifun. Bagi mu mungkin agak berlebihan, suatu kali jalan hidup orang memang tidak segampang berlalunya musim hujan ke musim kemarau, memberi tanda-tanda yang pasti dalam peralihan.

Ah, terlalu lancang jika menyebut saya sebagai bagian dari bibliofil. Setelah membaca Rumah Kertas, saya mendapati bahwa Breur adalah bibliofil sejati yang mendekati gila di mata orang-orang awam. Kenapa dia mengirimkan buku itu kepada Bluma Lennon?

Kisah yang ditulis oleh Carlos Masria Dominguez ini begitu keji jika ditilik melalui sosok Carlos Breur. Bagaimana mungkin semua ini ia lakukan demi kecintaannya untuk buku?

Awal kisah ini bermula ketika Ibu Profesor sastra di Universitas Cambrige, Bluma Lennon, meninggal ditabrak mobil sesaat setelah keluar dari toko buku Soho, dia membeli buku kumpulan puisi oleh Emily Dickinson kemudian membacanya dalam perjalanan pulang.

Dia, ketika saya telah selesai membaca sampai halaman 76 masih bingung dia ini perempuan atau lelaki?, menggantikan posisi Bluma di Cambrige, selang beberapa hari dia mendapatkan kiriman buku yang berlapis semen, atas nama pengirim Carlos Breur. Bagi saya, untuk kisah selanjutnya hingga dia menelusuri siapa sebenarnya Carlos hingga daratan Uruguay dengan menemukan serentetan-serentetan bibliofil-bibiliofil di belahan dunia lain, rasanya membuat hati ini semakin jatuh cinta kepada buku, saya jujur saja menyayangkan sebuah peristiwa yang terjadi terhadap Breur.

Alur di buku ini campuran, meskipun jumlah halamannya tidak setebal novel-novel lain, Rumah Kertas bagi saya menyatukan para bibliofil di seluruh dunia untuk mengenang adegan-adegan tragedi kecintaan Breur pada buku, dan bibliofil lain. Hingga di rumah-rumah mereka tidak ada tempat lagi untuk meletakkan buku yang dibeli. Hingga sudi memenangkan lelang untuk buku kuno. Semua ini terasa ajaib. Negeri buku, andai semua orang memperlakukan buku sebagai rumah mereka. alurnya di mulai di Cambrige, hingga membelah Uruguay, dan pesisir pantai Rocha.

Gabungan yang memedihkan hati, antara kejadian yang menimpa Bruer dan kata-kata Bluma semasa hidupnya, seperti diamini takdir. Saya merasakan maksud penulis yang mendalam antar bibliofil di seluruh dunia.

Kecemasan-kecemasan yang sama ditampakkan bibliofil, ketika tidak ada wadah lagi yang tersisa untuk buku-buku koleksinya, hingga memenuhi kamar mandi. Bahkan dia memutuskan tidak melihat katalog toko buku demi tidak terbawa niatan untuk memupuk buku-buku lagi. Sifat unik Breur adalah dia lebih suka tenggelam dalam buku-buku baru, lalu kemudian dia kelabakan merawat buku-buku hingga dua puluh ribuan yang lama, sampai tragedi itu terjadi.

Dari semua jenis buku, buku inilah yang sangat pas dibaca oleh bibliofil, dan merekatkan diantara mereka yang terpisah jarak.

Awesome!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s