Moco

[1]

Kamu berdiri sudah lima menit membaca di depan rak D1.02.S1 dengan sabar. Deret D1 dikategorikan oleh toko buku di jalan Suroto itu dengan label sastra. Kamu membaca dengan kecermatan yang mendalam, mengesankan buku yang sudah terbuka di etalase D1 itu bukan buku sembarangan. D1 bersuara tentang sastra yang sebagian besar dihuni oleh penerbit KPG, Buku Mojok, Penerbit Oak, Gramedia, dan Marjin Kiri. Kamu membuka satu lembar setelah menghabiskan waktu dua menit untukĀ satu halaman. Deru nafasmu teratur dengan menikamti musik nge-beat membuat kamu semakin betah. Sugar, Shake It Of, Bang-bang, It Always was You. Lagu terakhir membuat kamu ikut bergumam dengan membalik halaman selanjutnya. Membaca buatmu adalah kenikmatan, setiap membaca cerita yang ditulis oleh dia kamu seperti merasakan kedukaan yang sama dalam setiap nafas yang ditiupkan pada kalimat-kalimatnya. Matamu tidak bosan-bosan menelusuri kata demi kata hingga sekarang sudah sepuluh lembar kamu lumat. Kamu memang berniat membelinya, tetapi sejak melihat ada satu buku yang sudah lepas dari plastik kamu mengurungkannya, menunggu dia yang menulis tiba. Sudah hampir dua puluh menit, kamu melirik jam tangan ketika lagu It Always was You telah habis dan berganti ke lagu lain, samar-samar seperti suara Avril Lavign tetapi kamu lupa judul lagu itu. Dia tidak kunjung datang. Urung mengirim Whatsapp kamu berjongkok, menelusuri buku-buku lain yang kiranya bisa memenuhi koleksmu, kamu gila baca. Hingga ada lanangan menjajari kamu berjongkok, dia membenahi tali sepatunya. Dia melempar senyum mencoba beramah-tamah. Matamu memandang yang lain, ke buku yang selanjutnya ada di tangan kirimu, kamu tenteng.

[2]

Seluler mu bergetar, membuat pahamu geli. Kamu membuka, aplikasi Whatsapp, benar dari dia, mengabarkan tidak bisa memenuhi janji karena ada tugas kelompok yang harus segera diselesaikan. Mendadak.

[3]

Membaca di toko buku selalu menghadirkan nuansa yang membuat jiwa mu nyaman, membuat kamu tersedot ke jiwa penulis yang menghidupkan cerita. Kesenduan. Tidak lebih dari itu, atau pun lebih, rasa itu tidak pernah kamu dapat ketika membaca sendiri di ruang tertutup dengan situasi yang sama, menghidupkan musik-musik. Kamu lebih merasa menyatu ketika membaca di tengah keramaian. Alam, toko buku, kedai. Membaca kesunyian malah membuat mu bertanya-tanya dengan arti kenapa dia menulis ini?

[4]

Hampa. Berwarna. Getir. Suka. Duka. Begitu kamu sekali memasukkan buku dia yang sudah kamu baca sampai halaman sepuluh. Tidak di mana-mana membaca sepertinya sama rasanya, kecuali perasaan pada ruang yang sedang kamu gunakan untuk membaca, apalagi ketika mencium aroma segar kertas-kertas seperti membaui aroma basah setelah hujan. Kamu tidak kecewa dengan janjinya yang tidak bisa ditepati. Beberapa menit setelah kamu selesai memilih buku-buku yang hendak dimasukkan ke tootbag belanja berwarna transparan itu, kamu membalas dengan imoticon senyum, ya, tidak apa-apa mungkin artinya kamu sudah terbiasa dengan hal demikian.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s