Perempuan di Balik Kesunyian

Kenangan paling berkesan seumur hidup bisa pupus karena banyaknya trauma-trauma mendalam yang dialami oleh manusia…..

 

Judul Buku                  : Kalamata

Penulis                         : Ni Made Purnama Sari

Penerbit                       : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Editor                          : Candra Gautama

Jumlah Halaman     : 255

ISBN                            : 591601264

Cetakan Pertama     : Oktober, 2016

Exif_JPEG_420

dok pribadi

Ketika saya membaca buku, selalu saya mengecek aroma-aroma kertasnya yang menguar bagaikan aroma hujan pada tanah basah. Membasuhi jiwa saya sebelum membacanya. Meracuni, sekaligus mengobati, membuat saya semakin jatuh cinta dengan membaca buku.

Membaca seperti hidup itu sendiri, saya akan tahu bagaimana kisah itu memiliki kesan apa, memiliki ajaran apa setelah selesai. Persis ketika saya bersinggungan dengan orang-orang di sekeliling saya. namun, ada kalanya sosok-sosok di sekeliling kita dengan sekali melihat ada sebuah tanda, mereka akan selalu ada dalam kehidupan kita tanpa harus mengamati dari lahir hingga sepak terjangnya sekarang, ataupun nanti. Mungkin ini disebut dengan, perasaan? Atau entahlah.

Sunyi. Gagap gempita.

Fakta. Opini Masyarakat. Kenyataan.

Kekecewaan. Trauma. Kepercayaan.

            Cerita ini menjadi biografi yang menyayat. Dimulai dari sosok Ni Rumyig di mata masyarakat Bali pada waktu itu, Ni Rumyig tidak mungkin menghentikan bisik-bisik, opini publik yang dibentuk tetangga-tetangganya pada waktu itu. Tidak bisa dia ikut menggunjing yang belum benar faktanya, tidak pernah dia mencoba membuktikan apa yang sebenarnya terjadi kepada tetangga-tetangganya yang sudah memiliki opini sendiri.

Kisah ini dimulai ketika salah seorang penulis –tokoh aku, diminta seorang teman untuk menulis biografi seorang dalang perempuan berasal dari Bali, Ni Rumyig. Dia sangsi apakah bisa menulis biografi Ni Rumyig. Ni, dalang perempuan yang pada masa tersohor itu mengalami dismensia.

Ketika sampai bagian tokoh aku bermain di kediaman orang Indonesia yang sudah menetap di Belanda, saya merasa beban si tokoh yang dilarang pulang setelah selesai belajar di Belanda pada era 1998-an ditolak oleh Indonesia ini mirip seperti nasib tokoh-tokoh cerita pada novel Pulang karya Leila S.Chudhori. Mereka seperti memiliki tali ikatan penting, sama-sama ditolak negeri sendiri.

Saya jadi membayangkan, bagaimana jika tokoh di novel ini bertemu dengan tokoh-tokoh lain di novel yang beda. Pasti seru!

Kisah Kalamata di awali dengan penelusuran, dan pendekatan tokoh aku terhadap Ni Rumyig. Hingga ia tinggal di rumahnya pada waktu tertentu di temani Metta, dan Irana.

Saya tergelitik untuk mengulas bagian ini,

Andaikan aku, atau anak muda manapun di masa sekarang ini, mengalami nasib seperti dia dahulu, apakah bisa, apakah sanggup, kami mengolah gemuruh batin akibat kenyataan pahit diasingkan, dibuang, dilupakan?

Halaman 76

 

Di situ tokoh aku, merasa ketidakadilan terjadi terhadap mahasiswa-mahasiswi yang waktu era 90-an sekolah luar negeri di tolak kembali ke Indonesia, padahal mereka tidak mengerti apa-apa, si tokoh aku yang kebetulan bersekolah di Belanda, malah mendapat nasehat untuk kembali pulang ke Indonesia agar bisa berkontribusi untuk negeri sendiri. Ironi yang menggelitik, hal tersebut disampaikan tanpa beban, bahkan dengan senyuman. Oleh seseorang yang dianggap sebagai seorang eksil.

Andai Ni Rumyig meyikapi serius dugaan saya ini, tentu peristiwa bunuh diri Made Numadi tidak akan terjadi. Lalu ke mana Emilio? Dia pergi tanpa kabar.

Halaman 160

Saat itu tokoh aku masih di Indonesia dan sedang mewawancarai orang-orang terdekat di masanya. Dia mendapatkan data-data yang mencengangkan, sebegini terlukakah seseorang sehingga berniat memutus waktu untuk dirinya sendiri?

Made Numadi bunuh diri setelah beberapa bulan bergabung dengan group pedalangan Ni Rumyig. Tokoh aku saat menelusuri dokumen dan bukti-bukti sekunder, tidak langsung mendapatkan penjelasan yang sebenarnya dari Ni Rumyig. Ni sendiri terkena dimensia, bagaimana mungkin? Tetapi dari orang-orang terdekatnya di masa itu, terkuak hal yang pahit untuk dikuak. Apakah mungkin ini alasan yang menjadikan Ni dismensia? Memilih membunuh waktu.

Waktu adalah musuh bagi siapa saja yang kesepian.

Halaman 162

Tidak semua orang dapat bertahan untuk hidup sendiri. Meskipun ditakdirkan sebagai pribadi soliter, harus diakui, ternyata manusia tetap tidak mampu terus perhadapan dengan kesunyiannya.

Halaman 163

            Tokoh aku sempat putus asa menulis biografi Ni, bagaimana dia bisa mendapat verifikasi yang valid dari seorang yang mengalami hilang ingatan di masa-masa mudanya? Di masa-masa dia sedang gemilang menjadi dalang perempuan. Bahkan dia tidak mempedulikan dulu, ketika masa muda sempat dicap yang tidak-tidak oleh tetangganya. Keterangan inipun dari rekan terdekatnya.

Novel ini bagus sekali untuk dibaca, dikala senggang. Ada satu hal yang membuat saya masih bertanya-tanya, kenapa hubungan tokoh aku, dan Metta menjadi renggang? Seperti tarik-ulur karena jarak mungkin? Hingga si tokoh aku, menuliskan kalimat demikian pada halaman 207.

Hanya kalimat klise inilah aku berpegang: waktu niscaya mengubah segalanya. Dan ketika waktu itu tiba, kuharap aku telah siap menghadapinya.

Tekanan-tekanan yang dihadapi mungkin membuat seseorang bisa memutuskan untuk memutus waktunya hingga mengakibatkan hal yang fatal.

Akhirya saya akan memberikan empat bintang dari lima kepada novel ini. Novel ini sangat bagus untuk dibaca di waktu luang lho, sampai jumpa!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s