Review Buku Tanah Surga Merah: Berkelakar di Tengah Kepentingan Politik

tsm

Dok Pribadi

Pertamakali saya mengenal karya Arafat di tahun 2015 yaitu melalui novel yang berjudul Tempat Paling Sunyi. Sejak pertamuan pertama saya dengan cerita beliau, secara tidak langsung saya mencari tahu lebih dalam sastrawan yang berasal dari pedalaman Aceh ini. Ternyata beberapa karyanya, novel, telah diikutkan dalam Sayembara DKJ. Bahkan satu novelnya yang berjudul Burung Terbang di Kelam Malam yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka telah dialih bahasakan dalam bahasa Inggris. Sebagai penikmat buku, saya semakin tergelitik dengan karya terbarunya yang sekarang sudah beredar di toko buku, Tanah Surga Merah, novel tersebut masuk dalam lima besar Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016. Rasanya, saya merindukan cerita yang menyegarkan dengan kritik sosial yang modern. Di sini saya menemukannya, getir memang, tetapi kocak. Apalagi ketika sampai pada bagian tokoh utama, Murad, menjadi Teungku dalam penyamaran. Penasarankan? buku ini wajib kamu baca disela-sela rutinitas yang dipenuhi orang-orang yang tidak menyukai baca buku. Meskipun hanya novel.

Sejak awal di novel ini sudah mengadirkan tanda tanya besar, seberapakah pentingnya tokoh aku yang diperankan oleh Murtad hingga Partai Merah memburunya setelah dia sempat melarikan diri selama lima tahun dalam perantauan dan kembali ke kampung halaman. Menggelitik.

Tatkala saya menghabiskan malam membaca keseluruhan novel ini, secara pribadi saya tidak akan pernah puas dengan ending novel ini, sebab kehidupan manusia sendiri dinamis. Mungkin tidak akan pernah memiliki ending yang sempurna. Seperti, apakah benar-benar ada manusia yang baik di dunia tanpa memiliki kepentingan terselubung ketika melakukan sesuatu? ini yang membuat saya ingin novel ini dilanjutkan, rasanya terlalu remaja membuat ending Murtad diselamatkan Jamela dalam pelarian. Memangnya siapa yang tidak ingin tahu sampai kapan Murtad diburu? -jelas saya ingin sekali melihat bagaimana drama politik di novel ini benar-benar dieksekusi mati. Tetapi menurut saya itu memang sesuai keadaan politik di Negeri ini. Meskipun latar novel ini berada di Aceh dan pedalaman Aceh. Secara umum menggambarkan beberapa partai politik yang saling berebut kekuasaan demi haus kemewahan dunia. Entah buat apa, sekedar gengsi hidup di dunia? ah, fana.

Saya suka.

Partai Merah mulai gaduh saat sebentar lagi pemilu. Mereka ingin partainya memenangi semuanya. Tetapi mereka merasa terusik ketika Murad kembali datang, seolah-olah hendak melakukan pemberontakan. Bagi Murad Partai Merah hanyalah taik kucing. Mereka dulu sama-sama angkat senjata melawan penguasa yang tak henti-hentinya menyengsarakan rakyat, uang dikeruk tetapi tidak ada pembangungan. Sejak itu Partai Merah berperang melawan kebatilan, tetapi kemudian menjadi kebatilan itu sendiri hingga pecahlah partai.

Murad, orang yang sebanarnya ingin menyuarakan suara rakyat dan membuat Aceh maju, dan beberapa temannya yang memiliki tujuan sama malah dikucilkan. Tetapi bandit-bandit jahat yang pintar bersilat menduduki kursi dewan, bupati, walikota, bahkan gubernur.

Inikah yang namanya pembodohan masal? ini pas sekali dengan gambaran zaman dahulu. Ketika masyarakat mengelu-elukan uang dari mencoblos disaat pemilu. Pemikiran “bar-bar”. Pembodohan. Apa karena uang semua masalah akan selesai? sekarang masyarakat semakin pintar, uang bukanlah segalanya, tetapi sistem dan kerja keras diri sendirilah yang akan membuat semua berubah. Bukan uang, kemudian pemerintah yang sudah berkuasa lepas kendali. Pembodohan masal.

Ada beberapa bagian di novel ini yang membuat saya terenyuh sekaligus tertawa. Untung tidak sampai terkencing-kencing.

            “Asal ada uang, semua rahasia bisa dibeli. Apalah artinya cuma kunci jawaban. itu masalah kecil!” Halaman 98

            “Kalau ingin jadi gubernur, jadi bupati, atau bercita-cita jadi wali kota, janganlah pernah baca buku!” seru temannya Halaman 98

            Membaca keseluruhan bagian ini membuat saya tertawa.

Kejadian itu terjadi ketika teman Murad mengadakan pentas drama berjudul; Bacalah Buku Sebelum Tuhan Mencabut Nyawamu!

Menurut saya di bagian ini terselip curhatan penulis, di desanya masih banyak orang menganggap membaca adalah hobi yang tidak berguna, bahkan tetap membuat miskin. Ha? memang kebanyak orang desa minat bacanya masih minim. Masih menganggap uang bisa membeli segala-galanya termasuk kedudukan.

Ada bagian-bagian yang membuat novel ini menjadi novel kritik yang bagus di bagian Teungku di Kekklok. Seolah-olah Murad berada di kampung yang tidak pernah ada di google earth dengan kebiasaan-kebiasaan yang kental dengan budaya, ini membuat karakter Murad semakin nampak kuat. Bengis, tetapi dia tidak berdaya memperjuangkan Aceh yang benar-benar berpihak kepada masyarakat setelah dia melihat betapa politik kejam memberengus semua termasuk kebaikan teman-temannya.

Kesedihan teman dekatnya ketika memberi Murad surat pemberitahuan bahwa kucingnya, Bambang, meninggal juga merupakan daya tarik sendiri. Kritik sosial yang dipaparkan membuat saya tersadar, kehidupan memang penuh dengan unsur politik. Sekali ada orang yang ingin memimpin dengan progam yang bagus, akan tertindih dengan mereka yang rakus di balik partai-partai.

Semoga saja sekarang ada yang benar-benar memperjuangkan masyarakat agar makmur, dan sejahtera semua melalui pendidikan dan membaca, selain membuka lapangan pekerjaan.

Drama dengan judul Bacalah Buku Sebelum Tuhan Mencabut Nyawamu! dinilai amat melukai hati dan perasaan orang Aceh yang memang tidak suka membaca buku. Pemerintah, dewan, dan orang-orang Partai Merah terasa tersinggung dengan pertunjukkan tidak lazim semacam itu, di mana si pelaku dinilai tidak memahami adat kebiasaan orang Aceh yang lebih suka menghabiskan waktu dengan duduk dan mengobrol seharian penuh di kedai kopi. Halaman 151

Sebenarnya drama ini memiliki arti tersendiri, mengajak mereka untuk membaca supaya tidak berkubang dalam kebodohan masal. Hingga dibodohi pemerintah yang rakus kekuasaan.

            Tepat seperti kata Abduh, kelak jika ingin maju, Pemerintahan Aceh terpilih harus memberlakukan hukuman tembak mati di tempat bagi siapa saja yang tidak membaca buku. Tak ada sebab lain kemunduran ini, selain kemalasan orang-orang dan kebencian mereka terhadap ilmu pengetahuan. Bagaimana mungkin bangsa ini bisa berubah kalau pemimpin dan rakyatnya sama bodoh?

Halaman 272

Saya sepakat dengan beberapa pemikiran Murad dan Abduh, mereka memiliki pemikiran yang baik untuk kemajuan tetapi pemerintahan masa itu membuat mereka tidak berkutik, berjuang tetapi ditembak mati, atau diam saja di tengah-tengah kebodohan dengan kelakar politik yang tidak berkesudahan. Andai saja semua orang memiliki pemikiran seperti Murad, tentu negara ini sudah menjadi negara maju.

Murad ingin sekali melihat Aceh seperti pada masa kecilnya, damai. Bukan seperti sekarang, tanahnya yang kaya malah semakin ‘merah’ karena orang-orang yang serakah.

Dari skala 1-5 novel ini saya berikan bintang 5, highly recomended banget untuk dibaca!

Advertisements

2 thoughts on “Review Buku Tanah Surga Merah: Berkelakar di Tengah Kepentingan Politik

  1. Ya saya juga akan memberikan bintang 5 untuk novel ini, ceritanya detail dan bagus…..jadi ingat ketika murad membuang kancut bolong…ha ha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s