Review Buku Kubah: Jejak Kemarahan yang Berimbas Sesal

Kali terakhir aku membaca karya Ahmad Tohari adalah di Kaki Bukit Cibalak beberapa tahun lalu.

Dan sudah tiba waktunya aku selesai membaca Kubah.

Ke mana aku selama ini? baru bisa menyelesaikan buku Ahmad Tohari?

Buku dengan total halaman 211 ini menceritakan latar tahun 1975-an akibat dari peristiwa yang terjadi pada tahun 1960-an.

IMG_20171223_154046

dok pribadi, Ahmad Tohari-Kubah

Nikmatnya hidup ketika di waktu senggang (yang sedikit) masih bisa  mendengarkan pikiran-pikiran Ahmad Tohari melalui bukunya, seperti Kubah ini adalah anugerah apalagi bisa mereview isinya.

Dalam kisahnya Tohari mencoba mencari pertanyaan atas jawaban-jawaban dari tokoh Karman.

Sebagai seorang eks tapol, Karman mencoba memperbaiki kehidupannya. Tidak ada hal yang mudah, keterjerumusan Karman sehingga dicap sebagai seorang begundal komunis.

Kenapa judulnya Kubah? ya, sebaiknya kalian membaca sendiri biar lebih tahu betul arti Kubah bagi Karman di segala pencarian batinnya. Continue reading

Advertisements

Review Film Star Wars: The Last Jedi

Film ini bercerita mengenai kehancuran dunia yang diinginkan keegoisan beberapa watak manusia seperti Supreme Leader Snoke.

Rey merupakan tokoh utama dalam Star Wars The Last Jedi, ada satu orde yang menginginkan kehidupan di bumi hancur.

star wars

dok pribadi Star Wars: The Last Jedi

Tanpa harapan, tanpa impian, Leader merupakan cermin ketamakan. Ia ingin membangun dunianya sendiri dalam kegelapan. Continue reading

Review Film Ayat-ayat Cinta 2

“Kadang kita harus mundur sedikit, hanya untuk melompat lebih jauh,” Fahri, Ayat-ayat Cinta 2.

Sudah pernah membaca novelnya? film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama, Ayat-ayat Cinta 2, yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy.

Minggu, 24/12/2017, kusempatkan menonton film ini saat liputan nobar film Bollywood, sebenarnya di dalam aku curi-curi sambil menulis, ho-ho-ho, aku suka bagian ini.

Aku sudah membaca buku Ayat-ayat Cinta 2 di tahun …. (lupa), waktu itu seorang teman yang mencintai buku daripada omong kosong menginformasikan kepadaku jika buku keduanya sudah terbit.

Pernah mendengar tentang perbedaan agama?

Film ini menceritakan dengan apik bagaimana sosok Fahri bisa menjadi contoh untuk menghargai keberagaman di negara orang. Continue reading

Mejeng di Kolom Pantura Lite Tribun Jateng

“Kin, beli koran Tribun Jateng dong, masak korannya sendiri tidak dibeli,” tutur seorang redaktur Tribun Jateng yang sarjana sastra Indonesia itu (sarjana nongkrong sana-sini).

IMG_20171223_100311.jpg

dok pribadi, Tribun Jateng edisi Senin 181217

Baru sekitar dua mingguan ini, koran cetak Tribun Jateng sudah terdistribusi sampai Kota Tegal.

Kucari-cari koran hari Senin pagi itu, pukul 09.00 WIB belum sampai di penjual yang dekat dengan Alun-alun Kota Tegal. Continue reading

Tegal Kota Bahari

Apa makna perjalanan untukmu?

Berkelana menjadi satu di antara sekian banyak cara untuk mendapatkan jawaban bermacam pertanyaan tentang hidup.

Dari sikap orang-orang, dari lalulalang kendaraan, dari politik kehidupan.

5 November 2017, aku bertolak dari Semarang ke Kota Tegal.

Tak pernah terbersit sebelumnya dari pikiran mengenai kota ini.

Sanak saudara dan teman berpesan hati-hati, jangan tanggung-tanggung menjadi juru tulis. Continue reading

Ombak Itu

IMG_20171215_170456

dok pribadi

Ombak itu tukilan pesan-pesan alam, tentang perasaan yang diam ingin menyampaikan duka, tentang perasaan yang diam ingin sampaikan tawa, tentang kamu yang tidak bisa terjangkau melalui kata.

Ombak itu berupa penghargaan terhadap kamu yang menyapa lewat debur yang keras, tentang sapaan hangat yang menggerus karang-karang, ombak itu tentang kesabaran mendapat jawaban-jawaban atas pertanyaan. Continue reading

Politik Yang Menyembuhkan Penyakit Negara

Selamat pagi, Hari Minggu.

Aku banyak belajar dari Sindhunata, penulis kolom feature Harian Kompas, mengenai memberitakan sebuah frame kehidupan-kehidupan.

Kubelajar cara dia memandang masalah yang dilewatkan oleh orang awam pada umumnya. Bukan mencari-cari hal besar agar orang membaca.

Selain Sindhunata tentu aku belajar langsung dengan Yusran Pare ketika masa penggodokan sebagai jurnalis Tribun Jateng. Banyak hal unik dan passionate dari teman-teman di Tribun Jateng. Kuakui, aku jatuh hati dengan beberapa temanku yang passionate.

Ini bukan idealisme, ini sebuah tanggungjawab memadukan kasusastraan ke dalam sebuah tulisan jurnalis. Andai semua orang meleburkan dalam keseharian mereka, tentu mereka memahami hal-hal tak kasat mata tanpa verbal-verbal yang bagiku adalah cacian dan penghakiman semata. Continue reading

aku, cita-cita, dan keputusan-keputusan

Di bangku kuliah aku lebih suka mencari-cari buku non akuntansi, aku lebih suka membaca sastra atau pun isu-isu mengenai sosial ekonomi.

Aku lebih sering menulis daripada mengikuti kegiatan teman-teman di bidang akuntansi.

Keberadaan dosen yang juga memiliki hobi menulis, Junaidi, membuatku merasa tidak menjadi alien seorang diri.

Kawan, kamu tahu? teman-temanku waktu itu berdemo karena fungsi BEM dimatikan. Hingga beberapa dari mereka dikeluarkan.

BEM pusat sementara beku. Entah beku sampai kapan aku ingin pura-pura lupa waktu itu. Kami lahir diera demokrasi tapi entah kenapa waktu itu ada masalah intern yang tidak terbuka. Terbentang tinggi. Kokoh. Rapat. Tidak tertembus kami.

Tidak pasti alasannya kenapa waktu itu demikian.

Jadi semasa kuliah, jurnalis kampus jalan sendiri.

Dan aku ikut berkontribusi di dalamnya. Untung ada Junaidi, jadi aspirasi-aspirasi di kampus tetap jalan.

Kuikut membantu diterbitkannya buku ke-2 Junaidi ini. Senang sekali rasanya. Kurasa di dalam kampus aku tidak sendiri karena memiliki orang aneh yang suka dengan buku-buku lain selain akuntansi. Continue reading

Memori Dongeng Masa Kecil (2)

Ini merupakan bagian akhir tentang pendongeng yang ada dalam kehidupanku di waktu kecil*

Selain Bapak, Nenek adalah pendongeng ulung juga di masa kecilku.

Saat kedua orangtuaku bekerja, Neneklah yang ngemong. Saat itu, aku tidak tahu kenapa selalu saja minta digendong dan dinyayikan lagu salepok. Ini adalah memori yang paling aku ingat. Nenek menggendongku, menyanyikan lagu itu hingga aku terlelap.

Ada lagi kegemaranku dikala kecil ketika diasuh Nenek. Ketagihan mendengarkan dongeng. Continue reading

Memori Dongeng Masa Kecil [1]

Huma. Bapak memberikan nama itu. Induk nya suka sekali melindungi Huma ini. Telinganya besar, memiliki belalai,  berkaki empat.

Kali bertama aku melihat kebun binatang ini sekitar usia 5 tahun.  Aku penasaran sekali dengan cerita bapak sebelum pergi ke kebun binatang pagi itu,  terus terngiang-ngian. Hingga aku tumbuh dewasa memori itu masih menempel kuat.

“Ceritakan lanjutannya Pak” Pekikku membuntuti ke mana pun bapak pergi. Ke ruang tamu, ke kamar,  ke teras. Kukuntit bapak waktu itu. Sampai ibu jengkel karena ulahku.

“Sudah lah.  Nanti lagi. Bapak juga nih! Tak perlu lagi cerita yang aneh-aneh. Kasihan masih kecil, nanti kepikiran terus. Nagih-nagih janji terus. ” Ha-ha.  Ibu begitu rasional hingga malas mendengarkanku merengek  imaginasiku yang liar terhadap  cerita bapak. Begitulah ibu menegur kami berdua. Continue reading