aku, cita-cita, dan keputusan-keputusan

Di bangku kuliah aku lebih suka mencari-cari buku non akuntansi, aku lebih suka membaca sastra atau pun isu-isu mengenai sosial ekonomi.

Aku lebih sering menulis daripada mengikuti kegiatan teman-teman di bidang akuntansi.

Keberadaan dosen yang juga memiliki hobi menulis, Junaidi, membuatku merasa tidak menjadi alien seorang diri.

Kawan, kamu tahu? teman-temanku waktu itu berdemo karena fungsi BEM dimatikan. Hingga beberapa dari mereka dikeluarkan.

BEM pusat sementara beku. Entah beku sampai kapan aku ingin pura-pura lupa waktu itu. Kami lahir diera demokrasi tapi entah kenapa waktu itu ada masalah intern yang tidak terbuka. Terbentang tinggi. Kokoh. Rapat. Tidak tertembus kami.

Tidak pasti alasannya kenapa waktu itu demikian.

Jadi semasa kuliah, jurnalis kampus jalan sendiri.

Dan aku ikut berkontribusi di dalamnya. Untung ada Junaidi, jadi aspirasi-aspirasi di kampus tetap jalan.

Kuikut membantu diterbitkannya buku ke-2 Junaidi ini. Senang sekali rasanya. Kurasa di dalam kampus aku tidak sendiri karena memiliki orang aneh yang suka dengan buku-buku lain selain akuntansi. Continue reading

Advertisements

Memori Dongeng Masa Kecil (2)

Ini merupakan bagian akhir tentang pendongeng yang ada dalam kehidupanku di waktu kecil*

Selain Bapak, Nenek adalah pendongeng ulung juga di masa kecilku.

Saat kedua orangtuaku bekerja, Neneklah yang ngemong. Saat itu, aku tidak tahu kenapa selalu saja minta digendong dan dinyayikan lagu salepok. Ini adalah memori yang paling aku ingat. Nenek menggendongku, menyanyikan lagu itu hingga aku terlelap.

Ada lagi kegemaranku dikala kecil ketika diasuh Nenek. Ketagihan mendengarkan dongeng. Continue reading

Memori Dongeng Masa Kecil [1]

Huma. Bapak memberikan nama itu. Induk nya suka sekali melindungi Huma ini. Telinganya besar, memiliki belalai,  berkaki empat.

Kali bertama aku melihat kebun binatang ini sekitar usia 5 tahun.  Aku penasaran sekali dengan cerita bapak sebelum pergi ke kebun binatang pagi itu,  terus terngiang-ngian. Hingga aku tumbuh dewasa memori itu masih menempel kuat.

“Ceritakan lanjutannya Pak” Pekikku membuntuti ke mana pun bapak pergi. Ke ruang tamu, ke kamar,  ke teras. Kukuntit bapak waktu itu. Sampai ibu jengkel karena ulahku.

“Sudah lah.  Nanti lagi. Bapak juga nih! Tak perlu lagi cerita yang aneh-aneh. Kasihan masih kecil, nanti kepikiran terus. Nagih-nagih janji terus. ” Ha-ha.  Ibu begitu rasional hingga malas mendengarkanku merengek  imaginasiku yang liar terhadap  cerita bapak. Begitulah ibu menegur kami berdua. Continue reading

Nostalgia Dolanan Tradisional Indonesia

Terdapat pesan luhur di balik permainan tradisional

SORE tadi selepas mengantarkan benda kesayangan seorang teman, aku  melewati lapangan dan taman sebuah perumahan yang asri. Terdapat anak-anak bermain girang tiada beban. Mereka bermain lompat karet.

            Meskipun zaman millenials telah merajai semua kalangan, nyatanya sore ini kudapati sebuah pemandangan yang damai. Tidak ada benda smartphone di antara mereka. Hanya ada canda tawa dan peluh. Kebetulan aku juga tidak membawa smartphone sore ini.

Cara bermain lompat karet sangat mudah, dua orang berjaga. Saling terhubung menggunakan tali karet yang sudah mereka buat sedemikian rupa. Kemudian yang giliran melompat mengambil ancang-ancang supaya bisa melompati karet. Continue reading

Currently Reading Royyan Julian: Tanjung Kemarau

Bekerjalah sebaik-baiknya dan Tuhan tidak akan meninggalkanmu. Roti dan susu bisa datang dari arah mana saja, melalui tangan siapa saja — Tanjung Kemarau, halaman 48.

PERNAH aku ditanya tentang buku yang bagus di toko buku biasanya dilihat dari mana?

            Secara pribadi aku tidak pernah membeda-bedakan jenis buku. Biasanya aku memilih yang sedang ingin aku baca. Namun memang aku menggandrungi beberapa seniman dibidang tulis menulis sehingga beberapa karya beliau-beliau ini selalu aku tunggu-tunggu; Okky Madasari, Eka Kurniawan, George Orwell, Andrea Hirata, Haruki Murakami, Arafat Nur, Vabyo, M Aan Manyur, SDD, Hamsad Rangkuti dan masih banyak lagi  akan ada banyak list, lain waktu bisa dibahas lebih panjang. Jika kamu memiliki buku rekomendasi yang bagus untuk dibaca, aku sangat senang jika kamu mau berbagi.

Pernah tidak memilih buku dengan hanya mencium buku kemudian mengambilnya dari rak buku berdasarkan aroma kertas yang paling menggairahka? Harap jangan ditiru — aku hanya mencoba mencairkan suasana ketika kamu membaca blog ku.

            Sebenarnya aku memilih buku itu biasanya dari cerita yang akan disampaikan penulisnya. Ketika aku tanpa sengaja melihat deretan buku-buku baru di raknya, aku melihat Tanjung Kemarau, buku dengan aroma memikat ini memiliki cerita yang menarik dan memiliki pesan sarat makna. Continue reading

Pesta Kopi, Moke, dan Sopi di Kampung Nanu

*sebelumnya artikel ini dimuat di wewerehere.id sebagai artikel yang ikut serta lomba #BeautifyingIndonesia

It’s easier to build a strong children than to repair broken men.

– Frederick Douglass

“Langit Indonesia bukan hanya Jawa, lho!” begitu seloroh seorang teman. Namanya, Irine Rahma Maulidia, yang saat itu mengikuti progam pengajar di pedalaman Nusa Tenggara Timur. Tepatnya di Manggarai, Desa Buar, di Kampung Nanu.

sederhana

dok pribadi, taken by Irine Rahma Maulidia

Berkontribusi sebagai pengajar di pedalaman membuat Irine sangat antusias. Bagi Irine, mendidik anak-anak bukan soal tawar-menawar lagi. Lebih baik mendidik anak bangsa sejak dini, sebelum terlambat. Seperti pendapat Frederick Douglass. Continue reading

Merayakan Ruang Baru Post Book

DI tengah huru-hara kehidupan kota metropolitan Jakarta, ada surga tersembunyi di kota yang beratmosfer tempramen dalam arti sebenarnya atau pun kiasan. Terletak di Jakarta Selatan, Pasar Santa. Begitu kamu sampai di tempat ini atmosfer tempramen Jakarta berubah dingin, mencair, namun penuh dengan kehangatan yang ramah.

            Hari itu berbeda. Tepat di tanggal 23 September 2017 tempat dengan lebar kira-kira 4×6 meter ini selesai direnovasi dengan menambah ruang untuk buku-buku yang menjadi tuan rumah utama. Continue reading

Kerinduan-kerinduan yang Bungkam

KITA tidak tahu jadinya akan seperti apa setelah  kehidupan di dunia berakhir, untuk saat ini. Mungkin saja aku tidak bisa kembali membaca buku-buku bersama kamu dengan nikmat seperti seusai menjelajahi los-los toko buku independen di Jakarta. Atau pun toko-toko buku dependen di semua tempat. Jika aku mendapat hadiah neraka. Kudapati diriku pasti tidak mendapati yang kumau. Seperti kedamaian menjelajahi los-los berisi jutaan buku.

            Untuk membayangkannya pun susah. Apakah aku akan merindukan hari ini di masa ketika otak-otakku terbetot keluar, ruh ku meninggalkan semuanya. Continue reading

Dari Pulau Dewata Hingga ke Nihon

*Cerita pendek ini dibukukan oleh Ellunar Publisher 2015 pada sebuah Antologi Town Sweet Town

nihon ke dewata

picture taken by Dite

Kabut tipis menyelimuti desa yang teletak di lereng gunung Kintamani. Suasana gemericik air yang mengalir dari pipa berbentuk bambu yang tertancap langsung di tanah yang terletak di bukit di pemukiman desa itu menambah suasana sejuk. Tidak jauh dari bukit, hamparan sawah yang hijau semakin menambah potret Indonesia yang masih asri, jauh dari polusi, dan menambah betah pemuda yang sedang memegangi buku sketsa, dan pensil gambar yang tengah ia pegang. Ia sebaya dengan ku. Di sana ada wajah yang sudah tidak asing lagi di mata ku sendiri. Bola matanya terhenti tepat di sketsa itu. Continue reading

Pertemuan Di Sebuah Kedai

AKU sedih ketika kamu berujar tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Kata mu cinta adalah omong kosong mutlak semenjak kepergian seseorang yang sangat kamu sayangi. Kumenduga hari ini kita tidak akan pernah bertemu dengan mu kembali. Tidak ada lagi yang akan membacakan ku puisi-puisi Sapardi Djoko Damono seperti dulu.

            Namun setiap hari aku masih sering membaca puisi-puisi yang sunyi, karena aku suka berdiam diri di tempat ramai. Menikmati kesunyian yang bernyawa miliki M Aan Mansyur. Kumencoba melupakan puisi-puisi Sapardi. Yang selalu kamu bacakan dengan terang-terangan di kamar. Dengan lampu yang temaram. Kamu duduk bedes bersandar pada dinding cat hijau toska membuka halaman demi halaman Hujan Bulan Juni. Itu beberapa tahun yang lalu sebelum akhirnya kamu memutuskan untuk hidup sendiri. Continue reading