Review Buku The Dinner

SEBAGAIMANA menikmati kekosongan waktu bersama buku adalah kebahagiaan. Seperti ada candu di antara lembar demi lembar buku yang bisa menenangkan jiwa. Kali ini liburan panjang membawaku menemukan The Dinner di salah satu sudut toko buku yang terletak di Ring Road Utara-beberapa hari yang lalu sedang tutup karena direnovasi. Wah, seperti kisah-kisah psikopat yang rapi dalam menyusun rencana melindungi anak-anak mereka dari perbuatan yang telah dilakukan meskipun keliru ataupun benar.

Bisakah berhenti mencari-cari bacaan? batinku sendiri.

IMG-20170423-WA0001

dok pribadi

            Cukup membuatku ber hah, ketika menyelesaikan buku ini di halaman 348. Alur yang disajikan oleh Herman Koch membuat ketika membaca lembar demi lembar penasaran ada apa sebenarnya, apa yang akan mereka lakukan setelah itu seusai makan malam selesai. Alur maju mundur yang berhasil membuat penasaran sejak membaca halaman 1. Continue reading

Hujan

MALAM telah kembali. Bulir-bulir air turun dari atas bercampur menjadi satu dengan samudra, menyisakan sesuatu hal yang terlanjur dirindukan yang bernama daratan. Rintik-rintiknya datang seperti rasa kepergian atau menunggu datangnya fajar. Kadang menyejukkan tetapi menyisakan tanya yang belum mendapat jawaban, Tuhan.

            Di sekitar pulau-pulau yang berdekatan dengan Sambu terlihat air berkecipak tenang dalam keremangan meskipun terkena guyuran. Merasakan apa yang terjadi dalam diam, ketika di atas sana terdapat rembulan tetapi hujan tetes demi tetes bergulir membuat kuyup nelayan di atas perahu kayu yang digunakan untuk mencari ikan Continue reading

Surga di Perempatan Jalan

Enlightening Minds, Expanding Horizons -Jargon di kantung plastik salah satu toko buku yang saya dapat hari ini di Bazar

SIAPA yang rela dipenjara asal bersama buku-buku, seperti Moh Hatta? Di sini, di perempatan jalan protokol kota pelajar kembali menyuguhkan pandangan yang sayang untuk dilewatkan. Bazar buku. Buku-buku berserakan rapi. Di meja-meja, buku tersusun berdasarkan penerbit dan genre-nya. Seperti penjara untuk umum. Apa nikmatnya menjadi pencinta buku? penjara ini berupa surga jika kita tenggelam di dalamnya.

            Memang, buku-buku yang disajikan bukan terbitan baru dua bulan belakangan. Tetapi tetap saja ini menjadi surga tersembunyi ketika saya menemukan novel-novel lama Tyas Effendi. Secara personal saya belum pernah berbincang-bincang langsung dengan doi, tetapi saya dipertemukan dengan sobat karibnya yang sama-sama menimba ilmu sastra tiga tahun lalu, Ilmi, dia juga seorang pilatropis buku. Ya, pilantropis, karena dia selalu meluangkan waktu yang tidak tanggung-tanggung untuk menghabiskan waktu sela di toko buku, kedai kopi, di depan laptop dan aroma kopi-kopi. Perburuan saya di bazar kali ini mengingatkan waktu-waktu lama kami yang sekarang tergadaikan oleh jarak. Seperti dua tahun lalu dia berujar.

Continue reading

Jatisaba: Teka-teki Fenomena Pekerja di Luar Negeri

Judul Buku: Jatisaba

Penulis: Ramayda Akmal

Penyunting: Septi Ws

Penerbit: Grasindo

Tahun terbit: Maret 2017

ISBN: 978-602-375-871-5

IMG_20170407_151245

dok pribadi

PERTAMA KALI membaca namanya, saya kira Ramayda Akmal adalah seorang laki-laki, akan tetapi setelah membaca ucapan terima kasih yang dia persembahkan perkiraan saya keliru. Ramayda adalah perempuan. Menjadi naskah yang diunggulkan pada tahun 2010, Jatisaba yang pada tahun ini diterbitkan, membuat saya langsung menarik perhatian untuk segera membaca dan menjelajahi tiap isinya.

Bekerja merupakan suatu cara yang awam dilakukan oleh masyarakat desa dan kota untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akan tetapi bagi mereka yang lulusan sekolah dasar bingung menghadapi masa depan, harus bekerja sebagai apa agar bisa memenuhi kebutuhan hidup? Hal tersebut ditulis oleh Akmal dengan menarik. Saya bisa mengambil kesimpulan, bahwa hal tersebut sampai sekarang masih terjadi.

Penyelundupan tenaga kerja ilegal masih terjadi. Akmal, mengupas perjalanan para pekerja itu dengan cara yang pilu. Menyisakan banyak tanya bagi pembaca, jika kamu bingung hendak membeli buku apa di akhir pekan, sebaiknya Jatisaba menjadi salah satu list yang sebaiknya kamu kantungi. Continue reading

Review Buku Di Tanah Lada

SEKARANG isya telah berkumandang di belahan dunia saya. Di belahan dunia kamu mungkin sedang magrib, subuh, ashar, duhur, atau mengalami hal yang sama dengan dunia tempat saya bersemayam atau tidak sama sekali dengan hal yang saya sebutkan di kata sebelum ini. Saya menghabiskan menikmati hujan dengan membaca buku, Di Tanah Lada, dengan tebal 244 halaman. Saya membelinya dengan diskon tiga puluh persen -jangan tanya saya beli di toko buku mana, sebab pasti kalian selalu menduga-duga, tempat ternyaman mana yang bisa di kunjungi selain toko buku, mungkin kalimat terakhir ini di paragraf awal review tidak ada kaitannya dengan isi judul, maaf ya.

tanag lada

dok pribadi

Sebagai cacing buku –asal istilahnya tidak berubah menjadi babi buku, semua buku merupakan guru tersendiri. Romance dewasa, teenlit, atau sastra memiliki kesan sendiri. Setiap pertanyaan kehidupan memiliki jalan untuk dijawab dengan cara yang berbeda-beda. Apalagi tentang cinta. Pengaruhnya banyak, seperti mendapatkan pandangan baru dalam melihat masalah, memperkaya jiwa dengan cerita-cerita yang secara detail ada di terjadi di sekitar kita.

Continue reading

Menggunakan Transportasi Umum BRT Semarang

MACET? Apa solusi dari kemacetan? Tidak lebih dengan berjalan kaki, mungkin itu bisa sebagai alternatif untuk mengurangi kemacetan –don’t try this at capital city when 12.00 pm –lol.

Sebagai penikmat transportasi umum tentu ada pilihan yang bisa membuat perjalanan nyaman, saya selalu senang menikmati kehadiran orang-orang yang berlalu lalang dalam perjalanan. Baiknya sarana dan prasarana tranportasi umum merupakan penunjang kenyamanan itu sendiri. Di Terminal Terboyo, Semarang, dalam perjalan menuju sebuah tempat yang mungkin memiliki sedikit babi, dan banteng yang hidup dalam minimnya kebebasan berpendapat –mungkin, atau bisa saja kebalikannya, lubang-lubang tergenang air, sisa hujan hari kemarin. Di jalan utama menuju dalam terminal Terboyo terdapat lubang besar yang membuat saya harus menghindar dan berjalan kaki lebih hati-hati. Continue reading

Review Buku Di Kaki Bukit Cibalak

KETIKA kamu menganggap bahwa semua sarjana memiliki nafas yang sama ketika berhadapan dengan birokrasi yang berhubungan dengan sistem, uang, dan kekuasaan apakah kamu akan berpikir mereka akan mementingkan kualitas dan tanggung jawab dalam melakukan kegiatannya di dunia yang profesional?

Exif_JPEG_420

Dalam perjalanan (dok pribadi)

Ketika diberi kesempatan untuk bergabung dengan hal-hal yang berkaitan dengan buku, saya berjanji dengan diri sendiri. Untuk terus berkarya demi kemanusiaan, sesama, dan untuk menemani orang-orang Indonesia dengan jenis buku yang menghibur (ini mungkin tidak berkaitan dengan paragraf sebelumnya, ataupun setelahnya, seperti catatan tambahan yang harus ada karena sebagai arsip perjalanan)

Di cerita yang diangkat Ahmad Tohari kali ini saya akan bertanya-tanya dalam diri saya sendiri. Apa yang saya cari? Apa yang dicari dari sistem yang namanya pendidikan formal mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi, jika pada akhirnya mereka memiliki rasa rakus untuk memperkaya diri sendiri bahkan dengan menyingkirkan kepentingan masyarakat? Kalau hanya untuk menggelembungkan proyek-proyek bodong tanpa ujung, untuk apa ilmu itu? Continue reading

Bukan Karena Terobsesi Autobiografi George Orwell

Menilik Lebih Dekat Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London

Tulisan ini dibuat karena melihat George sebenarnya tidak bisa dilupakan dalam kehidupan manusia hingga entah –kapan. Ditulis dengan ketertarikan yang membuat tidak objektif –kemungkinan, sebab sejak pertama bertemu langsung sehati dengan pemikiran Arthur. Ditulis untuk penanda George benar-benar memahami hierarki dalam masyarakat hingga sekarang. Selebihnya ditulis untuk bersenang-senang menikmati kebebasan.

Tubuhnya sudah dikubur sejak 1950 di tanah London. Kulitnya kini mungkin sudah membusuk berpuluh-puluh tahun lalu. Di tahun 1917 mungkin wajahnya tidak kalah menarik dari James Bay. Tulisannya selalu menceritakan ketidakadilan bagi kaum-kaum yang terpinggirkan dalam artian yang sebenarnya.

Tentu semua orang di kancah kepenulisan tahu lebih detail mengenai awal kehidupan George, dan bagaimana akhirnya dia bisa menulis. Semua juga gandrung dengan tulisannya yang merupakan sindiran pedas untuk perang dunia; politik keji, dan dia juga menulis autobiografi. Bahkan pembaca seantro dunia pasti juga sudah tahu nama lengkapnya adalah Eric Arthur Blair. Animal Farm, 1984, membuat namanya melambung. Dan saya akui, kisahnya tidak bisa begitu mudah dihapus dari peradaban ke perabadan. George dilahirkan sebagai anak pegawai negeri (Inggris) kemudian dia pernah ikut menjadi tentara perang, namun pernah hidup menggelandang di Paris dan London, meskipun sebenarnya dia bisa hidup normal dengan background keluarga yang dia miliki. Selebihnya bisa dicari sendiri lewat mana saja.

Continue reading

Pengingat

Banyak orang-orang yang aku temui, lalu kemudian pergi. Banyak orang-orang yang aku temui, lalu selalu tinggal seberapapun jauh jarak, dan waktu mempercepat bertambahnya usia.

Malam itu, orang-orang penggemar sastra, penikmat buku, bahkan penulis-penulis datang pada acara yang menghadirkan Mbak Okky Madasari sebagai pembicara.

Ini sebuah kebetulan, atau kesengajaan aku tidak tahu. Sebelah kananku duduk seorang perempuan berjilbab hitam, dengan mata sudah mengantuk, dan kiriku seorang yang aktif di dunia kepenulisan. Aku terjebak di tengah-tengah huru-hara yang membuatku nyaman, tidak ada orang yang menghakimi seenak udelnya, ataupun mematahkan pendapat orang meski tidak sependapat. Area keberagaman ditunjukkan untuk kemanusian merupakan kunci kedamaian batin.

Tanpa sadar bagaimana semula dimulai, aku sudah mengajak bercakap-cakap perempuan berjilbab hitam yang ada di sebelah kanan tempat dudukku.  Tak lain dan tak bukan beliau adalah teman dekat Mbak Okky Madasari sejak SMP, aku tidak menyangka merasakan kedekatan tersendiri ketika bercakap-cakap dengan teman (sahabat dan keluarga, mungkin ikatan psikologis kedekatan itu sudah mencapai taraf

ini), kedekatan secara tidak langsung dengan Mbak Okky meskipun awalnya aku hanya bercakap-cakap dengan teman dekatnya. Percakapan mengalir saja, tanpa aku harus tahu harus menghentikan percakapan ini kapan, untung acara itu selesai, jadi aku memiliki waktu untuk pamit, meskipun aku masih ingin membicarakan Mbak Okky (loh, nggopisin orang).

Akhirnya tiba di mana saya begitu dekat dengan Mbak Okky (secara fisik, dan psikologis yang aku dapat awalnya memalui membaca buku-buku Mbak Okky) hingga kami terlibat dalam beberapa pecakapan. Continue reading

Review Buku: Orang-Orang Proyek

Penulis                      : Ahmad Tohari

Penerbit                    : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman    : 256

ISBN                           : 978-602-03-2059-5

Ahmad Tohari memiliki ciri khas yang selalu mengangkat kisah fiksinya dari kegelisahan masyarakat pada umumnya. Ketika kamu memilih membaca novel ini, Orang-orang Proyek, kamu akan terusik sendiri dengan pemikiran yang kamu miliki, membandingkan pemerintahan di era orde baru dan demokrasi. Bisa saja kamu berpikir, apakah sudah ada perubahan hingga sekarang?

Seperti adanya pengkotak-kotakan antara: bawah, menengah, dan atas. Rakyat biasa, swasta, pemerintah. Hak atas lelaki dan perempuan. Ternyata itu terjadi bukan karena mak bedunduk langsung ada, tetapi memang sudah dari dulu terdapat hierarki sendiri di masyarakat yang entah siapa yang memulainya. Seperti pada hierarki yang digambarkan Orwell pada tahun 1930-an, menurut Orwell semua itu tidak berguna. Untuk apa?

Tulisan George Orwell, tidak hanya di Indonesia saja yang memiliki masyarakat miskin, pada tahun 1930-an Inggris juga dikuasai oleh kaum Partai Bengis yang menginkan kekuasaan demi keserakahan. Meskipun di Indonesia hal tersebut terjadi dengan cara yang berbeda, tetapi sejak merdeka, Indonesia masih terus digerogoti virus pemerintah yang ‘rakus’.

Exif_JPEG_420

dok pribadi

Continue reading