Review Buku Animal Farm: Pemberontakan Hewan Rasa Manusia

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan  -Animal Farm, George Orwell

Apakah terlambat membaca buku ini di tahun 2017? Buku yang ditulis Geroge tahun 1945 ini membawanya sebagai salah satu penulis dunia yang berpengaruh terhadap peradapan. Cantik! Terlambat membaca boleh daripada tidak sama sekali, saya tertarik membaca buku ini ketika sampul berwarna kuning ini menarik, George memang sudah bukan nama yang asing lagi bagi sastrawan, filsuf, dan pegiat buku. Maaf saya baru berani membacanya di tahun ini.

Exif_JPEG_420

dok pirbadi

Aroma kertas yang sensual mengaduk-aduk isi pikiranku, saya pikir ada pengaruh aroma kertas terhadap psikologi. Menenangkannya tidak terperi. Hanya beberapa hari di waktu malam saya berhasil menamatkan kisah Animal Farm yang penuh dengan alegori politik. Terbayang nggak pada waktu itu Orwell mengimaginasikan Perang Dunia II atas nama hewan? Sungguh di zaman sekarangpun pemikrian Orwell seperti hujan yang membawa aroma aneh pada tanah tetapi benar adanya keserakahan adalah penghancur segalanya.

            Judul Buku                  : Animal Farm

            Penulis                         : George Orwell

            Penerjemah                : Prof Bakdi Soemanto

            Penerbit                       : Bentang Pustaka

            Cetakan Pertama       : Januari 2015

Jangan bertanya kenapa orang yang gemar membaca memiliki kecanduan yang tidak bisa dijelaskan: membaui kertas-kertas cetakan untuk buku tertentu. Apakah langsung bisa memahami isinya dengan aroma itu? hahaha.

Kisah ini wajib dibaca untuk kamu yang mengklaim sebagai penikmat sastra.

Saya tidak bisa berhenti membaca sejak membuka halaman pertama. Ketika Pak Jones lupa menutup lubang masuk keluar ayam karena mabuk berat. Kemudian si babi Putih-Tengah, si tua Major menyampaikan mimpinya yang aneh tentang pemberontakan hewan terhadap manusia. Continue reading

Review Buku Tanah Surga Merah: Berkelakar di Tengah Kepentingan Politik

tsm

Dok Pribadi

Pertamakali saya mengenal karya Arafat di tahun 2015 yaitu melalui novel yang berjudul Tempat Paling Sunyi. Sejak pertamuan pertama saya dengan cerita beliau, secara tidak langsung saya mencari tahu lebih dalam sastrawan yang berasal dari pedalaman Aceh ini. Ternyata beberapa karyanya, novel, telah diikutkan dalam Sayembara DKJ. Bahkan satu novelnya yang berjudul Burung Terbang di Kelam Malam yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka telah dialih bahasakan dalam bahasa Inggris. Sebagai penikmat buku, saya semakin tergelitik dengan karya terbarunya yang sekarang sudah beredar di toko buku, Tanah Surga Merah, novel tersebut masuk dalam lima besar Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016. Rasanya, saya merindukan cerita yang menyegarkan dengan kritik sosial yang modern. Di sini saya menemukannya, getir memang, tetapi kocak. Apalagi ketika sampai pada bagian tokoh utama, Murad, menjadi Teungku dalam penyamaran. Penasarankan? buku ini wajib kamu baca disela-sela rutinitas yang dipenuhi orang-orang yang tidak menyukai baca buku. Meskipun hanya novel.

Sejak awal di novel ini sudah mengadirkan tanda tanya besar, seberapakah pentingnya tokoh aku yang diperankan oleh Murtad hingga Partai Merah memburunya setelah dia sempat melarikan diri selama lima tahun dalam perantauan dan kembali ke kampung halaman. Menggelitik. Continue reading

Perempuan di Balik Kesunyian

Kenangan paling berkesan seumur hidup bisa pupus karena banyaknya trauma-trauma mendalam yang dialami oleh manusia…..

 

Judul Buku                  : Kalamata

Penulis                         : Ni Made Purnama Sari

Penerbit                       : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Editor                          : Candra Gautama

Jumlah Halaman     : 255

ISBN                            : 591601264

Cetakan Pertama     : Oktober, 2016

Exif_JPEG_420

dok pribadi

Ketika saya membaca buku, selalu saya mengecek aroma-aroma kertasnya yang menguar bagaikan aroma hujan pada tanah basah. Membasuhi jiwa saya sebelum membacanya. Meracuni, sekaligus mengobati, membuat saya semakin jatuh cinta dengan membaca buku.

Membaca seperti hidup itu sendiri, saya akan tahu bagaimana kisah itu memiliki kesan apa, memiliki ajaran apa setelah selesai. Persis ketika saya bersinggungan dengan orang-orang di sekeliling saya. namun, ada kalanya sosok-sosok di sekeliling kita dengan sekali melihat ada sebuah tanda, mereka akan selalu ada dalam kehidupan kita tanpa harus mengamati dari lahir hingga sepak terjangnya sekarang, ataupun nanti. Mungkin ini disebut dengan, perasaan? Atau entahlah.

Sunyi. Gagap gempita.

Fakta. Opini Masyarakat. Kenyataan.

Kekecewaan. Trauma. Kepercayaan.
Continue reading

Review Buku Rumah Kertas

bluma-1

dok pribadi pada Pantai Selatan Yogyakarta

Dua minggu terakhir saya terkena gangguan dalam menulis, susah sekali rasanya mengutarakan apa-apa yang terjadi dengan baik. Pikiran ini terkena disktraksi dalam meluapkan cara memaparkan perasaan atau buah pikiran. Maafkan saya. Mungkin ini termasuk masalah: malas menulis, alih-alih writer’s block. Tidak tahu bagaimana caranya, saya memaksakan membaca di waktu yang kurang produktif. Saya tidak mau merenggut kebiasaan membaca buku disetiap kegiatan baru yang menyita waktu. Buku-buku yang menemani saya dalam kegaduhan perasaan dan pikiran kali ini adalah Rumah Kertas dan Kala Mata (yang belum terbaca sampai akhir).

Banyak sekali pilihan-pilihan hidup yang harus dilalui, dan membutuhkan pikiran jernih. Hal tersebut sebenarnya menjadi distraksi utama saya kesulitan menghirup oksigen untuk menulis, rasanya kosong. Saya bisa merasakan kepedihan dan bahagia secara bersamaan ketika saya menulis, maka beberapa minggu kemarin saya berhenti. Terlalu naas untuk dilanjutkan dalam kegagap kempaan dunia yang sekarang sedang saya jalani.

Tetapi, dua hari ini di sela-sela malam saya menemukan ritme untuk membaca Rumah Kertas setelah sehari sebelumnya saya ajak dia bermain-main di tepian Pantai Parangtritis. Awal saya membaca buku ini, membantu saya untuk menulis kembali minimal untuk diri sendiri.

Menemukan Rumah Kertas seperti menemukan air mineral di tengah gurun pasir. Menyejukkan relung-relung jiwa yang menggersang karena peristiwa taifun. Bagi mu mungkin agak berlebihan, suatu kali jalan hidup orang memang tidak segampang berlalunya musim hujan ke musim kemarau, memberi tanda-tanda yang pasti dalam peralihan. Continue reading

Peran Sang Partikelir di Balik The Cukoo’s Calling

Sebuah review Dekut Burung Kukuk, teruntuk Joanne Kathleen Rowling -J.K Rowling yang selalu membuat masa kecilku penuh dengan cerita-cerita yang fantastis…..

IMG_20161204_082403.jpg

In frame:

Cormoran Strike

[Seorang detektif partikelir yang; memutuskan menjadi detektif saat terjadi bencana  dia pensiun (sendiri) dari tentara, waktu itu dia ditugaskan di Afganistan dan mengalami kecelakaan yang mempengaruhi hidupnya hingga kini; terlilit hutang atas bisnisnya; memiliki pacar bernama Charlotte dan sempat tinggal di rumahnya karena inisiatif pacarnya, namun ketika Strike memiliki banyak hutang, dan luka batin konflik besar terjadi hingga ia akhirnya mengepaki semua barang dari rumah mewah itu dan tinggal di kantornya. Saat mendapat kunjungan dari Bristow ia sudah putus dengan Charllotte] Continue reading

Review Buku Inteligensi Embun Pagi

Supernova buat saya itu sebagai sistem yang di dalamnya terdapat makhluk-makhluk dengan banyak gugusan yang memiliki tujuan berbeda-beda. infiltran, savara, dan peretas. Umbra adalah bayangan mereka dengan wujud manusia. Di sini mereka menuntaskan salah satu pucuk perjalanan, fase lain tak kasat mata masih berjalan.

iep

dok pribadi, place: central library

Hallo, peeps! Alhamdulillah akhirnya seri Supernova telah sampai kepada penutupnya: Inteligensi Embun Pagi, maaf saya tidak bisa langsung membaca novel ini ketika baru terbit. Selang beberapa bulan saya baru berani membuka lembar demi lembar. Takut cerita yang telah bertahun-tahun menemani sebagai cerita di akhir pekan berakhir menguar dalam ingatan, dan the end!

(sebelum membaca review lengkap tentang IEP, ada baiknya flashback dulu review tentang Gelombang <- klik ya 🙂 )

Masih ingat dengan kisah Ichon? Gio? Zahra? Bodhi? Dan bagaimana keterkaitan Ruben, Dimas dalam hekasgonal mereka? Continue reading

Review Buku Aib dan Martabat

Saya mencintai buku  dengan cara membacanya, merawat fisiknya untuk tidak terlipat, meyesap aroma kertasnya, dan dengan menikmati setiap kata-kata yang diperlihatkan penulisnya. Saya jatuh cinta. Kali ini –lagi, saya akan membagi highlight buku yang terakhir kali saya baca di bulan November.

Dag Solstad merupakan sastrawan asal Norwegia yang menjadi satu-satunya penulis Norwegia yang mendapatkan penghargaan Norwegian Literary Critics Awards sebanyak tiga kali. Beberapa karyanya sudah dialihbahasakan ke dalam 20 bahasanya. Salah satunya di negara Jepang, dengan penerjemah Haruki Murakami.

dag.jpg

dok pribadi

Buku dengan judul asil Genanse og Verdighet, biasanya untuk buku terjamahan saya sedikit sangsi dengan bagaimana mereka menerjemahkan –seperti terjemahan pada buku-buku romance saya merasa ada yang kurang dalam penjiwaannya, namun Aib dan Martabat ini sangat menggugah hati karena menurut saya disajikan sepenuh jiwa. Saya tidak merasakan adanya keganjilan. Saya menyukai bagaimana Irwan Syahrir mengadobsinya di bahasa Ibu –Irwan juga menerjemahkan karya penulis Norwegia lainnya; Jostein Garder.

Kalimat-kalimat di novel ini sangat mengusik, sedih, lucu meskipun serius. Benar-benar terjadi di lingkungan hingga saat ini, meskipun novel ini pertama kali terbit sudah 22 tahun yang lalu, bulan April tahun 1994. Berikut adalah potongan kalimat-kalimat yang saya suka:

Apalagi mereka adalah remaja-remaja 18 tahun yang sedang menjalani pendidikan umum.

Mereka adalah remaja yang belum bisa dianggap manusia dewasa.

Individu-individu yang belum dewasa ini disekolahkan agar terdidik dalam pengetahuan sastra Norwegia klasik.

Dia adalah pegawai yang digaji untuk itu.

Halaman 12

Wah,  saya juga pernah mengalami fase ini. Menggiurkan sebagai guru yang mengajar anak-anak sekolah menengah dengan tingkat kedewasaan yang berbeda-beda. mengulang hal-hal yang sama setiap tahun ajaran. Dulu, waktu saya masih sekolah menengah juga merasakan ketidakdewasaan itu dengan merasa jengah dengan hal yang kurang menarik minat saya (teori sejarah) pada sebuah mata pelajaran, dan itu justru saya ruahkan kepada guru. Continue reading

Review Buku Ibuk

Buku berjudul IBUK ini merupakan buku ketiga dari Mas Iwan Setyawan. Buku pertamanya berupa kumpulan fotografi dengan puisi-puisi: Melankoli Kota Batu. Kemudian buku keduanya terbit dengan judul 9 summers 10 autumns.

bayek

dok pribadi

Saya lebih suka memanggil Mas Iwan dengan Mas Bayek (hehehehe), sebelumnya ketika saya membeli buku ini pada bulan Juli 2016 –ke mana saja saya selama ini, tidak menyadari jika penulis buku ini itu ya Mas Bayek, penulis 9 summers 10 autumns. Baru pada bulan ini saya membaca buku ini dengan sekali jalan. Karena saya pertama kali melihat judulnya.

Menggetarkan. Dan menumbuhkan spirit of life yang kuat bagi pemuda-pemudi, orang tua, dan anak-anak. Khususnya untuk seseorang yang berjuang mewujudkan impian-impiannya dengan kerja keras. Rasanya tidak ada manusia yang ingin hidup dengan rintangan, tetapi ini adalah dunia yang luas, dan tidak memiliki batas ilmu pengetahuan. maka arungilah dengan gembira dan kerja keras untuk mewujudkan semua impian-impian itu agar menjelma menjadi nyata.

Saya teringat dengan kalimat Mas Bayek ketika ia hadir diacara Kick Andy setahun lalu dengan narasumber dua mahasiswa Indonesia yang sudah lulus, berhasil mematahkan ketiadaan harapan dengan berjuang. Bahwa pendidikan adalah alat yang bisa mengentaskan mereka dari kemarginalan yang sengaja dikotak-kotakan manusia sejak dulu. Kira-kira seperti ini kalimat Mas Bayek waktu itu:

Cita-cita saya waktu itu ingin memiliki kamar sendiri dan saya kejar sampai New York City.”

“Kebangkitan kelas bawah Indonesia, itu tidak akan terjadi tanpa pendidikan yang bagus.” Pertanyaan-pertanyaan Bung Andy sebenarnya bisa dibaca semua teman-teman melalui buku Ibuk.

Anak-anak sekarang itu cenderung pintar di sekolah, tetapi spirit of life sangat jarang saya temui dari orang-orang, kecuali dari Mas Alfat dan Mbak Anggi tadi.”

Tidak bisa dipungkiri apa yang disampaikan nara sumber pada waktu itu adalah hal-hal yang sangat membangkitkan semangat pemuda-pemudi di luar sana yang mungkin memiliki kondisi yang sama. Hati saya tercabik-cabik dan malu dengan diri sendiri. Membaca buku Mas Bayek selalu membuat saya percaya bahwa semangat dan usaha yang gigih akan selalu bersisian dengan rencana Tuhan yang baik.

Motivasi yang sangat berdarah-darah, meskipun itu kembali kepada diri sendiri. Disiplin untuk bekerja keras adalah kunci utama. Tidak ada hal yang datangnya dengan mudah, dan instan. Continue reading

Melihat Perjuangan Tuna Netra pada Biola Pasir dari Masa Lalu

IJINKANLAH kali ini saya berbicara kembali pada sebuah review buku. Hari itu ketika saya mendapat kesempatan mengunjungi Semarang (baca: on duty to do something) –sebelum kembali lagi ke Yogyakarta, saya melewati jajaran jalan Pandaran, dan membaca baliho dengan poster besar: bazar buku gramedia mulai dari harga 5K. Saya menjadi teringat cuci gudang di gudang buku Gramedia Yogyakarta yang akan melakukan alih fungsi gedung, maka sampai tanggal 30 September 2016 diadakan cuci buku besar-besaran.

Seperti hari-hari lain, yang lalu ketika terdapat bazar di Pandanaran. Tratak memenuhi halaman depan toko buku Gramedia seperti biasa. Dengan deretan buku-buku yang tertata rapi di meja-meja besar dan pada sebuah rak-rak untuk buku-buku berbahasa asing. Continue reading