Buku: Kunci Pengelana Waktu

*Tulisan (Aku dan Buku) ini dipublish untuk Volunteer Radio Buku Batch #5

Saya sempat mendapat teguran dari Ibu ketika sedang ujian nasional malah diam-diam di kamar membaca novel Badai Pasti Terharu, dan ada dua serial Harry Potter tergeletak di atas meja alih-alih buku soal latihan UAN SMA kala itu. Boleh membaca buku apa saja, tetapi harus melihat prioritas begitu teguran Ibu. Kejadian itu semakin membuat saya semakin menikmati buku-buku apapun, dan tidak membeda-bedakan genre.

Bagi saya buku adalah kunci untuk mengelana. Anggap saja itu sebagai mesin waktu. Saya lupa sejak kapan saya kranjingan membaca, diiringi dengan hobi membaca  saya juga tidak tahu sejak kapan tepatnya saya tertarik dengan dunia literasi dan tulis-menulis. Sudah puluhan buku sudah saya baca,  setiap saya selesai membacanya saya taruh rapi di rak-rak buku, dan saya beri garis bawah untuk bagian tertentu. Mengenai aroma kertas dan warna kertas yang berubah dari buku-buku yang saya beli lebih dari lima tahun lalu justru membuat tertarik mencari karya-karya lain yang bagus jika disandingkan dengan buku-buku lama. Meskipun lapuk oleh waktu, beberapa di antaranya saya masih ingat di mana saya membelinya, di bazar, di toko-toko buku yang sempat saya kunjungi. Setiap saya pergi di kota-kota tertentu saya menyempatkan diri mengunjungi toko buku. Rasanya saya bisa mengetahui sejarah cerita lampau, sekarang, ataupun kelak yang disajikan dalam cerita-cerita yang terbungkus rapi. Continue reading

Alamat

Persiapkan ingatanmu untuk mencatat. Nama jalan pada sebuah kertas di jaman yang masih belum akrab dengan google map, aplikasi waze, dan sejenisnya. Hanya ada surat-surat yang menghubungkan sanak-saudara yang terpisah jarak. Sekarang, jalan-jalan yang hendak dilewati berbeda, ruko-ruko telah berjejeran. Menembus ingatanmu yang telah hilang. Ke mana perginya hujau-hijauan?. Continue reading

Payung

[1]

Putih. Transparan. Warna payungmu, yang delapan tahun ia beli.

Hujan membuat kamu mengurung menstarter kendaraan roda dua untuk menjemput seseorang, kala itu. Mblawur, pandangamu blawur saat kamu berjalan di sepanjang gang semangat ketika sepeda motor melewatimu dengan meninggalkan noda cipatran karena tidak menghindari jalan yang berlubang. Mau mengumpat tidak perlu, sebab langkahmu sedang tergesa menjemput seseorang yang sudah mengabari sampai di shelter bus dekat taman pintar. Payung yang kamu gunakan adalah pelindung yang tabah, kepala mu terlindungi dari tetes hujan meski beberapa bagian tubuhnya merasa gigil akibat percikan air yang tampias, dan celanamu basah karena kena ciprat. Jarak tidak membuatmu berat, cuaca tidak membuatmu menciut. Jalanmu mantap. Continue reading

Perempuan di Balik Kesunyian

Kenangan paling berkesan seumur hidup bisa pupus karena banyaknya trauma-trauma mendalam yang dialami oleh manusia…..

 

Judul Buku                  : Kalamata

Penulis                         : Ni Made Purnama Sari

Penerbit                       : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Editor                          : Candra Gautama

Jumlah Halaman     : 255

ISBN                            : 591601264

Cetakan Pertama     : Oktober, 2016

Exif_JPEG_420

dok pribadi

Ketika saya membaca buku, selalu saya mengecek aroma-aroma kertasnya yang menguar bagaikan aroma hujan pada tanah basah. Membasuhi jiwa saya sebelum membacanya. Meracuni, sekaligus mengobati, membuat saya semakin jatuh cinta dengan membaca buku.

Membaca seperti hidup itu sendiri, saya akan tahu bagaimana kisah itu memiliki kesan apa, memiliki ajaran apa setelah selesai. Persis ketika saya bersinggungan dengan orang-orang di sekeliling saya. namun, ada kalanya sosok-sosok di sekeliling kita dengan sekali melihat ada sebuah tanda, mereka akan selalu ada dalam kehidupan kita tanpa harus mengamati dari lahir hingga sepak terjangnya sekarang, ataupun nanti. Mungkin ini disebut dengan, perasaan? Atau entahlah.

Sunyi. Gagap gempita.

Fakta. Opini Masyarakat. Kenyataan.

Kekecewaan. Trauma. Kepercayaan.
Continue reading

Moco

[1]

Kamu berdiri sudah lima menit membaca di depan rak D1.02.S1 dengan sabar. Deret D1 dikategorikan oleh toko buku di jalan Suroto itu dengan label sastra. Kamu membaca dengan kecermatan yang mendalam, mengesankan buku yang sudah terbuka di etalase D1 itu bukan buku sembarangan. D1 bersuara tentang sastra yang sebagian besar dihuni oleh penerbit KPG, Buku Mojok, Penerbit Oak, Gramedia, dan Marjin Kiri. Kamu membuka satu lembar setelah menghabiskan waktu dua menit untuk satu halaman. Deru nafasmu teratur dengan menikamti musik nge-beat membuat kamu semakin betah. Sugar, Shake It Of, Bang-bang, It Always was You. Lagu terakhir membuat kamu ikut bergumam dengan membalik halaman selanjutnya. Membaca buatmu adalah kenikmatan, setiap membaca cerita yang ditulis oleh dia kamu seperti merasakan kedukaan yang sama dalam setiap nafas yang ditiupkan pada kalimat-kalimatnya. Matamu tidak bosan-bosan menelusuri kata demi kata hingga sekarang sudah sepuluh lembar kamu lumat. Kamu memang berniat membelinya, tetapi sejak melihat ada satu buku yang sudah lepas dari plastik kamu mengurungkannya, menunggu dia yang menulis tiba. Sudah hampir dua puluh menit, kamu melirik jam tangan ketika lagu It Always was You telah habis dan berganti ke lagu lain, samar-samar seperti suara Avril Lavign tetapi kamu lupa judul lagu itu. Dia tidak kunjung datang. Urung mengirim Whatsapp kamu berjongkok, menelusuri buku-buku lain yang kiranya bisa memenuhi koleksmu, kamu gila baca. Hingga ada lanangan menjajari kamu berjongkok, dia membenahi tali sepatunya. Dia melempar senyum mencoba beramah-tamah. Matamu memandang yang lain, ke buku yang selanjutnya ada di tangan kirimu, kamu tenteng. Continue reading

Tentang Warna

Dari bangku sekolah dasar, aku selalu diberi tahu oleh bapak dan ibu guru. Kalau menulis harus menggunakan tinta hitam. Tidak tahu mengapa, kenapa harus menggunakan tinta hitam. Ada yang salah dengan warna yang lain?

Ketika aku menulis dengan menggunakan tinta lain, merah, beberapa temanku yang melihatnya selalu menegur. Tidak boleh menulis dengan menggunakan tinta merah.  Tidak sopan. Aku tidak pernah bertanya langsung kepada bapak dan ibu guru, kenapa harus hitam? Kenapa merah dianggap tidak sopan?

Bagi anak-anak masa itu, pertanyaan itu hanya sempat mengendap beberapa saat di kepalaku yang kemudian berlalu tanpa sisa. Aku tidak meributkan masalah warna, toh yang penting bisa dibaca ketika aku lupa dengan penjelasan-penjelasan itu. Atau malah jarang kembali di buka.

Waktu itu, dengan alasan untuk kepuasan pribadi. Mungkin aku akan melakukan menulis dengan menggunakan tinta warna-warni. Mencatat di atas kertas putih dengan warna selain hitam. Tetapi, hal itu aku urungkan, dulu. Sebab aku tidak mau dianggap anak yang membangkang. Warna merah, kata teman-teman ku mencerminkan sikap membangkang. Continue reading

Review Buku Rumah Kertas

bluma-1

dok pribadi pada Pantai Selatan Yogyakarta

Dua minggu terakhir saya terkena gangguan dalam menulis, susah sekali rasanya mengutarakan apa-apa yang terjadi dengan baik. Pikiran ini terkena disktraksi dalam meluapkan cara memaparkan perasaan atau buah pikiran. Maafkan saya. Mungkin ini termasuk masalah: malas menulis, alih-alih writer’s block. Tidak tahu bagaimana caranya, saya memaksakan membaca di waktu yang kurang produktif. Saya tidak mau merenggut kebiasaan membaca buku disetiap kegiatan baru yang menyita waktu. Buku-buku yang menemani saya dalam kegaduhan perasaan dan pikiran kali ini adalah Rumah Kertas dan Kala Mata (yang belum terbaca sampai akhir).

Banyak sekali pilihan-pilihan hidup yang harus dilalui, dan membutuhkan pikiran jernih. Hal tersebut sebenarnya menjadi distraksi utama saya kesulitan menghirup oksigen untuk menulis, rasanya kosong. Saya bisa merasakan kepedihan dan bahagia secara bersamaan ketika saya menulis, maka beberapa minggu kemarin saya berhenti. Terlalu naas untuk dilanjutkan dalam kegagap kempaan dunia yang sekarang sedang saya jalani.

Tetapi, dua hari ini di sela-sela malam saya menemukan ritme untuk membaca Rumah Kertas setelah sehari sebelumnya saya ajak dia bermain-main di tepian Pantai Parangtritis. Awal saya membaca buku ini, membantu saya untuk menulis kembali minimal untuk diri sendiri.

Menemukan Rumah Kertas seperti menemukan air mineral di tengah gurun pasir. Menyejukkan relung-relung jiwa yang menggersang karena peristiwa taifun. Bagi mu mungkin agak berlebihan, suatu kali jalan hidup orang memang tidak segampang berlalunya musim hujan ke musim kemarau, memberi tanda-tanda yang pasti dalam peralihan. Continue reading

Peran Sang Partikelir di Balik The Cukoo’s Calling

Sebuah review Dekut Burung Kukuk, teruntuk Joanne Kathleen Rowling -J.K Rowling yang selalu membuat masa kecilku penuh dengan cerita-cerita yang fantastis…..

IMG_20161204_082403.jpg

In frame:

Cormoran Strike

[Seorang detektif partikelir yang; memutuskan menjadi detektif saat terjadi bencana  dia pensiun (sendiri) dari tentara, waktu itu dia ditugaskan di Afganistan dan mengalami kecelakaan yang mempengaruhi hidupnya hingga kini; terlilit hutang atas bisnisnya; memiliki pacar bernama Charlotte dan sempat tinggal di rumahnya karena inisiatif pacarnya, namun ketika Strike memiliki banyak hutang, dan luka batin konflik besar terjadi hingga ia akhirnya mengepaki semua barang dari rumah mewah itu dan tinggal di kantornya. Saat mendapat kunjungan dari Bristow ia sudah putus dengan Charllotte] Continue reading

Review Buku Inteligensi Embun Pagi

Supernova buat saya itu sebagai sistem yang di dalamnya terdapat makhluk-makhluk dengan banyak gugusan yang memiliki tujuan berbeda-beda. infiltran, savara, dan peretas. Umbra adalah bayangan mereka dengan wujud manusia. Di sini mereka menuntaskan salah satu pucuk perjalanan, fase lain tak kasat mata masih berjalan.

iep

dok pribadi, place: central library

Hallo, peeps! Alhamdulillah akhirnya seri Supernova telah sampai kepada penutupnya: Inteligensi Embun Pagi, maaf saya tidak bisa langsung membaca novel ini ketika baru terbit. Selang beberapa bulan saya baru berani membuka lembar demi lembar. Takut cerita yang telah bertahun-tahun menemani sebagai cerita di akhir pekan berakhir menguar dalam ingatan, dan the end!

(sebelum membaca review lengkap tentang IEP, ada baiknya flashback dulu review tentang Gelombang <- klik ya 🙂 )

Masih ingat dengan kisah Ichon? Gio? Zahra? Bodhi? Dan bagaimana keterkaitan Ruben, Dimas dalam hekasgonal mereka? Continue reading