Merangkul Kealamian Alam Girimulyo

banner-1.png*tulisan ini diikutkan dalam Kompetisi Blog #Astra60Jogja

GIRIMULYO, salah satu daerah perbukitan asri di Daerah Istimewa Yogyakara yang terletak di Kulon Progo. Hijau, mendamaikan. Jauh dari hiruk pikuk dan bersih dari asap knalpot.

Keberangkatan kami menggunakan kendaraan ramah lingkungan, seperti produk yang digunakan Astra dalam mengembangkan teknologinya dalam kendaraan membuat kami mantap. Menelusuri tanjakan Bukit Girimulyo.

Rute yang kami tempuh pagi itu, perlu aku tambahkan cuaca di Yogyakarta waktu itu berawan namun tidak hujan, dari Pogung Lor, ke utara menuju Ring Road Utara, hingga bertemu dengan perempatan yang ke arah Godean, lurus terus, banyak sekali kendaraan yang berseliweran, sampai di jembatan yang dialiri sungai Kulon Progo, suasana berubah. Lalu lalang kendaraan tergantikan dengan hamparan sawah yang membentang dengan latar belakang bukit. Sampai di sini, aku berpikir, jangan-jangan gambar-gambar sewaktu di sekolah dasar yang sering dibuat anak-anak sebagai tugas menggambar terinspirasi dari suasana desa seperti ini. Nyatanya menuju lereng bukit tidak dekat, namun karena sepanjang mata memandang adalah hehijaun kami menikmatinya.

Exif_JPEG_420

lereng bukit Girimulyo ketika diselimuti kabut

Hari itu gerimis rintik-rintik membasahi ketika kami sudah sampai di lereng bukit, namun karena keharusan harus sampai di tempat tujuan, sebuah sekolah mengengah pertama yang hari itu sedang menunggu kedatangan kami, untuk melakukan misi rahasia (hehe). Kami tidak gentar dalam berkendara, dahulu, sebelum jalan aspal masuk di perbukitan ini. seorang guru yang mengajar di SMP Girimulyo berujar jika tidak ada aspal daerah ini masih termasuk daerah 3T. Terpencil, Terdalam, dan Terbelakang. Namun, kenyataannya sekarang Girimulyo sudah bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi, meliuk-liuk, menanjak, dan tentu di kanan-kiri terdapat banyak pohon-pohon rindang. Continue reading

Braile

[Penunggu Kegelapan]

Setiap harinya dilalui dengan meletakkan buku-buku tanpa tulisan. Titik-titik timbul seperti bekas jahitan jarum yang lumayan memiliki diameter lebih tebal dari jarum jahit. Berderet rapi dia tata seperti kepentingan yang dia ketahaui sendiri, untuk siapa dibaca, untuk siapa?

Ruangan itu sepi. Tidak ber-AC tetapi tidak apek. Ada kipas angin membantu jalannya ventilasi. Kisi-kisi jendela kaca tertutup dengan kisi yang memiliki penarik korden kain berwarna putih. Mp3 nya bergaung-gaung sejak tadi pagi. Sekrang sudah pukul dua belas siang, sepi pengunjung. Adakalanya dia berpikir, bagaimana jika dia sendiri tidak bisa memahami apa yang setiap hari ditatanya, dalam kesunyianya sendiri dia bisa mendengarkan kelebihan sunyi dari lagu itu. Duduk di kursi berwarna merah, berdiam diri, bertanya dalam hati.

Dia memikirkan bagaimana membaca dengan benar huruf-huruf dengan guratan-guratan kasar di kertas oleh tinta. Alih-alih keseharian yang telah didapatnya. Hingga seperti dia bisa mendengarkan ritme-ritme jinjit tetapi dia mencoba hirau. Tak lebih dari sebuah sunyi, yang tak akan merubah apapun dalam hidupnya. Continue reading

Bukan Karena Terobsesi Autobiografi George Orwell

Menilik Lebih Dekat Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London

Tulisan ini dibuat karena melihat George sebenarnya tidak bisa dilupakan dalam kehidupan manusia hingga entah –kapan. Ditulis dengan ketertarikan yang membuat tidak objektif –kemungkinan, sebab sejak pertama bertemu langsung sehati dengan pemikiran Arthur. Ditulis untuk penanda George benar-benar memahami hierarki dalam masyarakat hingga sekarang. Selebihnya ditulis untuk bersenang-senang menikmati kebebasan.

Tubuhnya sudah dikubur sejak 1950 di tanah London. Kulitnya kini mungkin sudah membusuk berpuluh-puluh tahun lalu. Di tahun 1917 mungkin wajahnya tidak kalah menarik dari James Bay. Tulisannya selalu menceritakan ketidakadilan bagi kaum-kaum yang terpinggirkan dalam artian yang sebenarnya.

Tentu semua orang di kancah kepenulisan tahu lebih detail mengenai awal kehidupan George, dan bagaimana akhirnya dia bisa menulis. Semua juga gandrung dengan tulisannya yang merupakan sindiran pedas untuk perang dunia; politik keji, dan dia juga menulis autobiografi. Bahkan pembaca seantro dunia pasti juga sudah tahu nama lengkapnya adalah Eric Arthur Blair. Animal Farm, 1984, membuat namanya melambung. Dan saya akui, kisahnya tidak bisa begitu mudah dihapus dari peradaban ke perabadan. George dilahirkan sebagai anak pegawai negeri (Inggris) kemudian dia pernah ikut menjadi tentara perang, namun pernah hidup menggelandang di Paris dan London, meskipun sebenarnya dia bisa hidup normal dengan background keluarga yang dia miliki. Selebihnya bisa dicari sendiri lewat mana saja.

Continue reading

Pengingat

Banyak orang-orang yang aku temui, lalu kemudian pergi. Banyak orang-orang yang aku temui, lalu selalu tinggal seberapapun jauh jarak, dan waktu mempercepat bertambahnya usia.

Malam itu, orang-orang penggemar sastra, penikmat buku, bahkan penulis-penulis datang pada acara yang menghadirkan Mbak Okky Madasari sebagai pembicara.

Ini sebuah kebetulan, atau kesengajaan aku tidak tahu. Sebelah kananku duduk seorang perempuan berjilbab hitam, dengan mata sudah mengantuk, dan kiriku seorang yang aktif di dunia kepenulisan. Aku terjebak di tengah-tengah huru-hara yang membuatku nyaman, tidak ada orang yang menghakimi seenak udelnya, ataupun mematahkan pendapat orang meski tidak sependapat. Area keberagaman ditunjukkan untuk kemanusian merupakan kunci kedamaian batin.

Tanpa sadar bagaimana semula dimulai, aku sudah mengajak bercakap-cakap perempuan berjilbab hitam yang ada di sebelah kanan tempat dudukku.  Tak lain dan tak bukan beliau adalah teman dekat Mbak Okky Madasari sejak SMP, aku tidak menyangka merasakan kedekatan tersendiri ketika bercakap-cakap dengan teman (sahabat dan keluarga, mungkin ikatan psikologis kedekatan itu sudah mencapai taraf

ini), kedekatan secara tidak langsung dengan Mbak Okky meskipun awalnya aku hanya bercakap-cakap dengan teman dekatnya. Percakapan mengalir saja, tanpa aku harus tahu harus menghentikan percakapan ini kapan, untung acara itu selesai, jadi aku memiliki waktu untuk pamit, meskipun aku masih ingin membicarakan Mbak Okky (loh, nggopisin orang).

Akhirnya tiba di mana saya begitu dekat dengan Mbak Okky (secara fisik, dan psikologis yang aku dapat awalnya memalui membaca buku-buku Mbak Okky) hingga kami terlibat dalam beberapa pecakapan. Continue reading

Review Buku: Orang-Orang Proyek

Penulis                      : Ahmad Tohari

Penerbit                    : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman    : 256

ISBN                           : 978-602-03-2059-5

Ahmad Tohari memiliki ciri khas yang selalu mengangkat kisah fiksinya dari kegelisahan masyarakat pada umumnya. Ketika kamu memilih membaca novel ini, Orang-orang Proyek, kamu akan terusik sendiri dengan pemikiran yang kamu miliki, membandingkan pemerintahan di era orde baru dan demokrasi. Bisa saja kamu berpikir, apakah sudah ada perubahan hingga sekarang?

Seperti adanya pengkotak-kotakan antara: bawah, menengah, dan atas. Rakyat biasa, swasta, pemerintah. Hak atas lelaki dan perempuan. Ternyata itu terjadi bukan karena mak bedunduk langsung ada, tetapi memang sudah dari dulu terdapat hierarki sendiri di masyarakat yang entah siapa yang memulainya. Seperti pada hierarki yang digambarkan Orwell pada tahun 1930-an, menurut Orwell semua itu tidak berguna. Untuk apa?

Tulisan George Orwell, tidak hanya di Indonesia saja yang memiliki masyarakat miskin, pada tahun 1930-an Inggris juga dikuasai oleh kaum Partai Bengis yang menginkan kekuasaan demi keserakahan. Meskipun di Indonesia hal tersebut terjadi dengan cara yang berbeda, tetapi sejak merdeka, Indonesia masih terus digerogoti virus pemerintah yang ‘rakus’.

Exif_JPEG_420

dok pribadi

Continue reading

Review Buku: Jakarta Sebelum Pagi

Judul Buku               : Jakarta Sebelum Pagi

Penulis                      : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

ISBN                           : 978-602-375-843-2

Penerbit                    : Grasindo

Ini merupakan kali pertama saya menuliskan nama lengkap belakang Ziggy –coba cek lagi siapa tahu terdapat typo, untuk mengucapkan nama belakangnya pun lidah ini tersumbat karena otak saya lupa bagaimana cara mengeja konsonan dan vokal yang terlalu panjang selain terdapat huruf konsonan yang berdampingan tanpa vokal.

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie.

Buku pertama Ziggy yang saya baca berjudul San Fransisco, tanpa sengaja saya menemukan bagian profilnya. Penulis satu ini membawa aroma segar. Renyah, kuat, dan menyejukkan pembaca. Buku dengan tebal 270 (+3 halaman jika halaman pertama yang berupa judul, halaman keduanya berupa ucapan terima kasih, dan tentang penulis di halaman belakang juga dihitung) memiliki nuansa menyentuh dengan kekocakan yang dihadirkan tokoh aku yang diperankan oleh Emina.

Exif_JPEG_420

dok pribadi taken by Drummer Twenty One Pilots versi Indonesia

Buku ini menjadi bagian yang tidak mudah dilupakan isinya setelah saya selesai membacanya, Jakarta Sebelum Pagi menjadi karya fiksi terbaik Indonesia 2016 versi majalah Rolling Stone. Menceritakan tentang Aminah –dalam bahasa arab, nama aslinya Emina. Yang memiliki keluarga tinggal di panti jompo sedang dia di sebuah apartemen setelah kematian kedua orang tuanya. Dan, dia mengenal Pak Meneer yang memiliki perpustakaan, dan menyarankan harus membaca buku-buku itu hingga akhirnya dia mendapatkan kiriman bunga dari stalker-nya.

Suki. Nissa. Nenek. Nin. Datuk. Abel.

Karakter tokoh-tokoh yang dihadirkan sangat menarik. Continue reading

Jejak Impian Anak-anak Gunung Giri Mulya

Telah menjadi tradisi sebulan sebelum ujian mereka sibuk menata diri dengan belajar. Meskipun hari itu kabut menyelimuti bukit Giri Mulya. Sekolah masuk pukul tujuh pagi, berakhir pukul satu siang dihari Senin-Kamis, Jum’at dan Sabtu adalah hari spesial. Pulang lebih cepat sekitar tiga jam dari hari-hari biasanya. Begitu seterusnya kebiasaan anak-anak kelas tiga.

Hari itu, kabut tipis menyelimuti lereng bukit, gerimis-gerimis kecil terdengar lembut desiran angin bercampur gerimis membasahi rok biru gadis itu. Jarak sekolahnya sekitar tiga kilometer. Dari lereng menuju tengah bukit dibutuhkan waktu tiga puluh menit untuk berjalan kaki. Payung hitam sebagai peneduh adalah penyelamatnya dari kuyup yang ringan tetapi ajeg pada pagi hari itu.

Kicauan burung sampai di telinga, dinginnya angin membuat gigil, ia berjalan telanjang kaki dengan menenteng sepatu di tangan kanan dan tangan kiri memegang payung. Tas ransel yang resletingnya hampir koyak.

Alam adalah simbol kehidupan. Hujan, panas, dan diantara keduanya merupakan bagian dari kehidupan gadis itu yang harus dimulai dari pagi. Menuju sekolah. Sebulan lagi ujian nasional. Dalam perjalanan hanya ada ribut-ribut angin dan kicau burung. Ia tetap mantab melangkahkan kaki mendaki menuju sekolah.

Exif_JPEG_420

Pemandangan di sekitar SMP Giri Mulya

Birunya langit tertutup kabut. Hangatnya matahati digantikan dengan dinginnya gerimis. Ketika langkahnya mencapai tanjakkan dengan derajad hampir sembilan puluh, langkahnya memelan. Tubuhnya membungkuk sedikit. Dengan payung serong ke depan. Rok bagian belakangnya agak basah. Nafasnya terengah-engah. Rasanya ini belum seberapa jika dibandingkan perjuangan orang tuanya yang bermata pencaharian petani di lereng balik bukit. Ia menyeret kakinya pelan-pelan hingga akhirnya sampai di pucuk jalan. Kalau bukan karena ini hari Kamis, gadis itu pasti lebih memilih membantu Ibunya di ladang. Memeriksa saluran irigasi sawah sepetak milik keluarganya itu. Sehari sebelumnya telah diumukan, akan ada tamu dari Kota yang hendak memberi penyuluhan tentang pentingnya teknologi bagi pelaksanaan UN. Continue reading

Review Buku 1984: Membaca ialah Perang

“Kebodohan sama penting dengan kecerdasan, dan sama sulitnya dicapai” –George Orwell.

Ini adalah buku kedua George Orwell yang saya baca, buku pertama berjudul Animal Farm merupakan sindiran yang cerdas mengenai terjadinya perang dunia, tentunya, selama seminggu dengan waktu yang terputus-putus dikala malam. Saya berhati-hati dalam mereview buku ini, berhati-hati untuk tidak merusak isi dari buku ini, bisa dijadikan acuan dalam memahami politik dan kekuasaan, andai saja para anggota-anggota DPR, Gubernur-gubernur, bupati-bupati, lurah-lurah, hingga Presiden membaca buku ini, tersadarkan mereka akan politik yang sebenarnya?.

Selesai membaca 1984, saya bisa merasakan Orwell mencoba merangkum politik sosial budaya di dalam satu buku dengan anaslisis perkembangan sosial politik dari generasi ke generasi.

Dengan tokoh utama Winston Smith yang hidup di negara yang disebut sebagai negara Oceania, memiliki beberapa susunan Kementerian. Kementerian Kebenaran –mengurusi berita, hiburan, dan seni. Kementerian Cinta Kasih –mengurusi hukum dan ketertiban. Kementerian Perdamaian –menangani bidang perang. Dan Kementerian Tumpah Ruah –bertanggungjawab terhadap masalah perekonomian. Hampir semua daerah tidak lepas dari pengawasan teleskrim. Bagi mereka yang memiliki pemikiran untuk menggulingkan Bung Besar akan diuapkan. Bahkan anak-anak dididik untuk menjadi mata-mata. Continue reading

Rak-rak Kehidupan

JAM menunjukkan pukul dua dini hari lebih dua puluh menit. Aku berhenti membaca tepat di halaman 164. Tidak seperti biasanya, hari ini aku membuat perhitungan untuk diri sendiri, berhenti sebelum subuh berkumandang, meski hari ini adalah weekend, kuputusakan untuk tidak gegabah begadang sampai dini hari untuk 1984. Memang sekali terikat dengan cerita susah sekali memutus sampai mana harus beristirahat.

Mengenari George Orwell, namanya sudah sering aku dengar sejak lima tahun lalu, meskipun karya-karyanya sudah dikenal lebih dalam oleh teman-teman yang mengkajinya melalui studi lanjut –sastra dan filsafat. Pemikirannya menolak mentah-mentah gagasan umum partai yang sebenarnya merugikan banyak masyarakat Inggris pada waktu itu –ortodok, bahkan Pemerintah atas nama Partai bisa merubah sejarah masa lalu. Continue reading