Review Buku Seumpama Matahari

SEKETIKA aku menemukan buku ini di deretan rak toko buku dengan diskon 25% dari harga sebenarnya dengan raut senang. Semula aku berjalan menuju mesin pencari sebelum seorang teman pada akhirnya menawarkan untuk hadiah, “teman baca”. Ada stoknya, tetapi invisible di rak buku. Aku memanggil penjaga toko buku, yang kemudian menyibak beberapa buku baru, siapa tahu tertumpuk. Tidak ketemu. Kemudian dia meninggalkan rak. Aku tetap mencari, kemudian petugas itu kembali, tetapi aku tersenyum berujar, bahwa buku itu sudah ketemu. “Tertutup judul ini” jelasku.

Beberapa minggu yang lalu, tanpa sengaja aku melihat twitter penulis bersangkutan -tanpa bermaksud stalking, buku terbarunya akan segera terbit oleh Diva Press, dengan tebal 142 kamu akan disuguhi –lagi-lagi– cerita dengan latar Aceh. Dan dua hari yang lalu aku telah menemukannya di toko buku.

Mungkin Tsunami telah menghilangkan cerita personal jejak-jejak gencatan senjata oleh beberapa gerilyawan, di buku ini terdapat beberapa hal yang menarik tentang kehidupan personal seorang yang telah memutuskan menjadi gerilyawan, membuatku bertanya, bagaimana jika ada yang benar-benar angkat senjata tanpa tahu tujuan yang sebenarnya?

Exif_JPEG_420

dok pribadi

Continue reading

Sebagaimana Sabar

Ditengah hujan yang turun deras, penjaja koran berteduh menanti reda. Sebagaimana sabar mengajari mereka untuk tetap menanti cerahnya sinar matahari untuk menghangatkan tubuh meraka.

Ditengah kesibukan para pejabat yang meributkan revisi UU maupun UU Daerah, harapan keadilan dinanti oleh mereka yang berhak. Sebagaimaa sabar mengajari mereka untuk tetap berprasangka baik atas keputusan-keputusan politis yang dibuat.

Ditengah debat para politisi-politisi hebat, ada akses pendidikan yang bisa diperoleh golongan kiri. Sebagaimana sabar mengajari mereka terus membaca dan menulis dengan seragam lusuh, dan buku lawas. Continue reading

Larung, Ayu Utami: Sejarah di Balik Kemanusiaan

DI sini aku tidak buru-buru menuliskan setanda sirih untuk Larung karya Ibu Utami. Tetapi ingatanku berputar pada malam di mana temanku mengajak bercakap-cakap, atau aku yang mengajak sebenarnya, becakap hingga larut, dicukupkan sampai pukul sembilan malam saja, padahal inginnya lebih. Tetapi tidak enak dengan pengunjung lain di tempat ini.

IMG-20170428-WA0005

Dok Pribadi

            Aku menceritakan sering ngantuk di mata pelajaran sejarah, tetapi aku tidak membenci mata pelajarannya pun guru yang mengampu, itu dulu ketika masih di bangku sekolah menengah pertama. Kemudian kami sama-sama berpikir sebagaimana tanpa mencoba bertanya diri sendiri. Lalu, kita bisa membedakan mana yang bekerja dengan passion dan tidak? atau, sistem pendidikan di Indonesia harus seperti apa? sekarang sudah efektif? ya, kami sama-sama tahu sirkus politik yang merajai semua bidang di Indonesia. Sebaiknya, kami tidak melakukan percakapan itu, mungkin, karena jawaban sebenarnya ada di pemikiran mereka sendiri. Continue reading

Review Buku The Dinner

SEBAGAIMANA menikmati kekosongan waktu bersama buku adalah kebahagiaan. Seperti ada candu di antara lembar demi lembar buku yang bisa menenangkan jiwa. Kali ini liburan panjang membawaku menemukan The Dinner di salah satu sudut toko buku yang terletak di Ring Road Utara-beberapa hari yang lalu sedang tutup karena direnovasi. Wah, seperti kisah-kisah psikopat yang rapi dalam menyusun rencana melindungi anak-anak mereka dari perbuatan yang telah dilakukan meskipun keliru ataupun benar.

Bisakah berhenti mencari-cari bacaan? batinku sendiri.

IMG-20170423-WA0001

dok pribadi

            Cukup membuatku ber hah, ketika menyelesaikan buku ini di halaman 348. Alur yang disajikan oleh Herman Koch membuat ketika membaca lembar demi lembar penasaran ada apa sebenarnya, apa yang akan mereka lakukan setelah itu seusai makan malam selesai. Alur maju mundur yang berhasil membuat penasaran sejak membaca halaman 1. Continue reading

Hujan

MALAM telah kembali. Bulir-bulir air turun dari atas bercampur menjadi satu dengan samudra, menyisakan sesuatu hal yang terlanjur dirindukan yang bernama daratan. Rintik-rintiknya datang seperti rasa kepergian atau menunggu datangnya fajar. Kadang menyejukkan tetapi menyisakan tanya yang belum mendapat jawaban, Tuhan.

            Di sekitar pulau-pulau yang berdekatan dengan Sambu terlihat air berkecipak tenang dalam keremangan meskipun terkena guyuran. Merasakan apa yang terjadi dalam diam, ketika di atas sana terdapat rembulan tetapi hujan tetes demi tetes bergulir membuat kuyup nelayan di atas perahu kayu yang digunakan untuk mencari ikan Continue reading

Review Buku Lengking Burung Kasuari

AKHIR pekan ini menjadi akhir pekan yang berakhir dengan ditemani buku yang menjadi salah satu Pemenang Unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016. Cukup membutuhkan waktu lima jam tanpa jeda (kecuali untuk melirik skor Singapura Open 2017 di sektor ganda putra, hiks-hiks) saya menyelesaikannya, bagaimana keunikan karakter Asih yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Menjadikan saya terhanyut di kala waktu senggang yang bertepatan dengan jadwal siar Singapura Open 2017. Gadis berusia tujuh tahun ini menjadi kunci menggambarkan karakter lokal perantau yang ada di Papua. Buku yang ditulis oleh Nunuk Y Kusmiana ini sangat menarik, menggelitik. Kocak, iya. Getir, iya. Continue reading

Surga di Perempatan Jalan

Enlightening Minds, Expanding Horizons -Jargon di kantung plastik salah satu toko buku yang saya dapat hari ini di Bazar

SIAPA yang rela dipenjara asal bersama buku-buku, seperti Moh Hatta? Di sini, di perempatan jalan protokol kota pelajar kembali menyuguhkan pandangan yang sayang untuk dilewatkan. Bazar buku. Buku-buku berserakan rapi. Di meja-meja, buku tersusun berdasarkan penerbit dan genre-nya. Seperti penjara untuk umum. Apa nikmatnya menjadi pencinta buku? penjara ini berupa surga jika kita tenggelam di dalamnya.

            Memang, buku-buku yang disajikan bukan terbitan baru dua bulan belakangan. Tetapi tetap saja ini menjadi surga tersembunyi ketika saya menemukan novel-novel lama Tyas Effendi. Secara personal saya belum pernah berbincang-bincang langsung dengan doi, tetapi saya dipertemukan dengan sobat karibnya yang sama-sama menimba ilmu sastra tiga tahun lalu, Ilmi, dia juga seorang pilatropis buku. Ya, pilantropis, karena dia selalu meluangkan waktu yang tidak tanggung-tanggung untuk menghabiskan waktu sela di toko buku, kedai kopi, di depan laptop dan aroma kopi-kopi. Perburuan saya di bazar kali ini mengingatkan waktu-waktu lama kami yang sekarang tergadaikan oleh jarak. Seperti dua tahun lalu dia berujar.

Continue reading

Jatisaba: Teka-teki Fenomena Pekerja di Luar Negeri

Judul Buku: Jatisaba

Penulis: Ramayda Akmal

Penyunting: Septi Ws

Penerbit: Grasindo

Tahun terbit: Maret 2017

ISBN: 978-602-375-871-5

IMG_20170407_151245

dok pribadi

PERTAMA KALI membaca namanya, saya kira Ramayda Akmal adalah seorang laki-laki, akan tetapi setelah membaca ucapan terima kasih yang dia persembahkan perkiraan saya keliru. Ramayda adalah perempuan. Menjadi naskah yang diunggulkan pada tahun 2010, Jatisaba yang pada tahun ini diterbitkan, membuat saya langsung menarik perhatian untuk segera membaca dan menjelajahi tiap isinya.

Bekerja merupakan suatu cara yang awam dilakukan oleh masyarakat desa dan kota untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akan tetapi bagi mereka yang lulusan sekolah dasar bingung menghadapi masa depan, harus bekerja sebagai apa agar bisa memenuhi kebutuhan hidup? Hal tersebut ditulis oleh Akmal dengan menarik. Saya bisa mengambil kesimpulan, bahwa hal tersebut sampai sekarang masih terjadi.

Penyelundupan tenaga kerja ilegal masih terjadi. Akmal, mengupas perjalanan para pekerja itu dengan cara yang pilu. Menyisakan banyak tanya bagi pembaca, jika kamu bingung hendak membeli buku apa di akhir pekan, sebaiknya Jatisaba menjadi salah satu list yang sebaiknya kamu kantungi. Continue reading

Review Buku Kemolekan Landak

NGOMONG-NGOMONG tentang buku terjemahan dari Perancis, ini merupakan buku terjemahan yang sedap. Muriel Barbery. Di buku yang dialihbahasakan oleh Jean Couteau dan Laddy Lesmana ini memiliki tebal 364 halaman. Saya membeli buku ini bebarengan dengan Di Tanah Lada. Yang masing-masing mendapatkan diskon 30%. Kegiatan yang paling saya suka setelah membeli buku adalah membaui kertas buku-buku yang baru saya beli setelah merobek sampul plastik yang membungkusnya. Kemolekan landak termasuk memiliki kertas serupa aromah hujan. Candu yang luar biasa untuk terus semangat membaca.

Membutuhkan waktu tepat satu minggu untuk membaca buku ini, dengan cara terputus-putus. Seperti nya Muriel mencoba menjawab pertanyaan tentang arti kehidupan yang memiliki banyak perbedaan antara individu dari hierarki masyarakat yang berbeda. Continue reading

Braile [The End]

Pemikiran Dangkal No 1

[Pengunjung]

APAKAH yang dimaksud dengan kehidupan? Dia membeli buku baru tanpa bagian-bagian yang menonjol dan hari ini dia datang ke ruang kedap suara lagi. Memandang seseorang yang sedang asyik membaca seolah tidak mau diganggu. Apakah kaum mereka mengerti apa arti kehidupan? Sepertinya pemikiran gadis ini sia-sia seperti cacing kremi yang telah lama mati. “Kehidupan” di sekelilingnya hanyalah saling menghakimi, menghujat, tanpa tawaran apapun saat dia mulai membawakan segudang cerita melalui buku-buku. Continue reading