Berteduh

Musim berjalan silih berganti di bulan Januari, hingga topimu koyak belum terganti. Terik siang melelehkan keringat-keringatmu mengucur dari dahi. Sore hari yang tempias, segalanya berubah kembali jalan-jalan dari panas berganti licin. Kendaraan-kendaraan di jalan protokol macet sebab kamu mengatur mereka yang ingin berbelok tak mau sabar menanti. Keringatmu digantikan dengan gigil. Kasar. Hitam. Dekil.

Berteduhlah.  Continue reading

Lelaki di Balik Mantel Biru

Ritme itu menetes tiap detik ketika kamu membelah jalanan yang ramai

Kamu tetap berjalan

Meski sayup-sayup terdengar lolongan panjang kekosongan yang pekat di tengah rinai yang menderas, apa kamu masih ingat bagaimana bernafas sejenak menikmati kehidupan?

Itu sebagai pertanda, tiap tetes yang menerjang tubuh mu setelah berbalut mantel biru, menuju sebuah tujuan. Kehangatan, kenangan.

KETIKA hujan TURUN

Cerita pendek untuk setiap tetes air hujan…..

HUJAN. Satu hal yang bisa menjadikan kejadian tersebut sebagai penanda banyak kisah. Di balik kisi-kisi jendela kamar dengan ritmenya yang menghadirkan kenangan. Di balik atap-atap dataran tinggi yang di kelilingi gunung-gunung, tetesan hujan membuat merindukan secercah sinar matahari yang menghangatkan badan.

Baginya mengabadikan beberapa kisah yang lewat mungkin akan menghibur benaknya yang dirundung segudang pertanyaan. Sebenarnya tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi dengan segala penerimaan, seperti ketika hujan turun pada malam itu. Pada celah-celah sempit dari jendela kamar yang masih terbuka. Duduk seorang dengan jari-jari sibuk pada sebuah keyboard berwarna hitam. Sentuhannya lembut, tetapi jari-jarinya begitu lincah menari di atas tanpa melihat lagi huruf apa yang jamah. Matanya memandang lurus ke depan ke dalam layar monitor. Sepertinya tetesan hujan telah membuat semuanya berjalan normal. Ia menamai semua yang ada dalam kepalanya tentang hujan.

DINGIN.

Sekaligus MENGHANGATKAN.

Masihkah ada yang mau mengerti bagaimana rasanya hati itu berbicara ketika hujan turun? Hanya ia yang masih bertanya-tanya seberapa penting penanda itu membuatnya sadar atas pertanyaannya sendiri.

Untuk apa sebuah bahagia? Continue reading