Batas yang Tak Terlihat

Disela-sela khidmat aku berdiri menatap lintasan alam. Dari biru yang diwarnai putihnya awan. Deru yang halus dari kejauhan sudah menadakan, kerinduan.
Dari tempatku berdiri sekarang aku tidak bisa menemukan, mana batasan langit itu, batasan antara langit dan lautan. Seolah mereka bersatu. Dalam diamku tentu, aku mengagumi-Mu.

This slideshow requires JavaScript.

 

Perempuan di Balik Kesunyian

Kenangan paling berkesan seumur hidup bisa pupus karena banyaknya trauma-trauma mendalam yang dialami oleh manusia…..

 

Judul Buku                  : Kalamata

Penulis                         : Ni Made Purnama Sari

Penerbit                       : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Editor                          : Candra Gautama

Jumlah Halaman     : 255

ISBN                            : 591601264

Cetakan Pertama     : Oktober, 2016

Exif_JPEG_420

dok pribadi

Ketika saya membaca buku, selalu saya mengecek aroma-aroma kertasnya yang menguar bagaikan aroma hujan pada tanah basah. Membasuhi jiwa saya sebelum membacanya. Meracuni, sekaligus mengobati, membuat saya semakin jatuh cinta dengan membaca buku.

Membaca seperti hidup itu sendiri, saya akan tahu bagaimana kisah itu memiliki kesan apa, memiliki ajaran apa setelah selesai. Persis ketika saya bersinggungan dengan orang-orang di sekeliling saya. namun, ada kalanya sosok-sosok di sekeliling kita dengan sekali melihat ada sebuah tanda, mereka akan selalu ada dalam kehidupan kita tanpa harus mengamati dari lahir hingga sepak terjangnya sekarang, ataupun nanti. Mungkin ini disebut dengan, perasaan? Atau entahlah.

Sunyi. Gagap gempita.

Fakta. Opini Masyarakat. Kenyataan.

Kekecewaan. Trauma. Kepercayaan.
Continue reading

Moco

[1]

Kamu berdiri sudah lima menit membaca di depan rak D1.02.S1 dengan sabar. Deret D1 dikategorikan oleh toko buku di jalan Suroto itu dengan label sastra. Kamu membaca dengan kecermatan yang mendalam, mengesankan buku yang sudah terbuka di etalase D1 itu bukan buku sembarangan. D1 bersuara tentang sastra yang sebagian besar dihuni oleh penerbit KPG, Buku Mojok, Penerbit Oak, Gramedia, dan Marjin Kiri. Kamu membuka satu lembar setelah menghabiskan waktu dua menit untuk satu halaman. Deru nafasmu teratur dengan menikamti musik nge-beat membuat kamu semakin betah. Sugar, Shake It Of, Bang-bang, It Always was You. Lagu terakhir membuat kamu ikut bergumam dengan membalik halaman selanjutnya. Membaca buatmu adalah kenikmatan, setiap membaca cerita yang ditulis oleh dia kamu seperti merasakan kedukaan yang sama dalam setiap nafas yang ditiupkan pada kalimat-kalimatnya. Matamu tidak bosan-bosan menelusuri kata demi kata hingga sekarang sudah sepuluh lembar kamu lumat. Kamu memang berniat membelinya, tetapi sejak melihat ada satu buku yang sudah lepas dari plastik kamu mengurungkannya, menunggu dia yang menulis tiba. Sudah hampir dua puluh menit, kamu melirik jam tangan ketika lagu It Always was You telah habis dan berganti ke lagu lain, samar-samar seperti suara Avril Lavign tetapi kamu lupa judul lagu itu. Dia tidak kunjung datang. Urung mengirim Whatsapp kamu berjongkok, menelusuri buku-buku lain yang kiranya bisa memenuhi koleksmu, kamu gila baca. Hingga ada lanangan menjajari kamu berjongkok, dia membenahi tali sepatunya. Dia melempar senyum mencoba beramah-tamah. Matamu memandang yang lain, ke buku yang selanjutnya ada di tangan kirimu, kamu tenteng. Continue reading

Review Buku Rumah Kertas

bluma-1

dok pribadi pada Pantai Selatan Yogyakarta

Dua minggu terakhir saya terkena gangguan dalam menulis, susah sekali rasanya mengutarakan apa-apa yang terjadi dengan baik. Pikiran ini terkena disktraksi dalam meluapkan cara memaparkan perasaan atau buah pikiran. Maafkan saya. Mungkin ini termasuk masalah: malas menulis, alih-alih writer’s block. Tidak tahu bagaimana caranya, saya memaksakan membaca di waktu yang kurang produktif. Saya tidak mau merenggut kebiasaan membaca buku disetiap kegiatan baru yang menyita waktu. Buku-buku yang menemani saya dalam kegaduhan perasaan dan pikiran kali ini adalah Rumah Kertas dan Kala Mata (yang belum terbaca sampai akhir).

Banyak sekali pilihan-pilihan hidup yang harus dilalui, dan membutuhkan pikiran jernih. Hal tersebut sebenarnya menjadi distraksi utama saya kesulitan menghirup oksigen untuk menulis, rasanya kosong. Saya bisa merasakan kepedihan dan bahagia secara bersamaan ketika saya menulis, maka beberapa minggu kemarin saya berhenti. Terlalu naas untuk dilanjutkan dalam kegagap kempaan dunia yang sekarang sedang saya jalani.

Tetapi, dua hari ini di sela-sela malam saya menemukan ritme untuk membaca Rumah Kertas setelah sehari sebelumnya saya ajak dia bermain-main di tepian Pantai Parangtritis. Awal saya membaca buku ini, membantu saya untuk menulis kembali minimal untuk diri sendiri.

Menemukan Rumah Kertas seperti menemukan air mineral di tengah gurun pasir. Menyejukkan relung-relung jiwa yang menggersang karena peristiwa taifun. Bagi mu mungkin agak berlebihan, suatu kali jalan hidup orang memang tidak segampang berlalunya musim hujan ke musim kemarau, memberi tanda-tanda yang pasti dalam peralihan. Continue reading

Hobi Membaca itu Kuno

Tidak sengaja pada hari itu saya bertemu dengan guru saya, yang dulu hobinya sering memberi hukuman goyang itik ketika tidak bisa mengerjakan soal di depan kelas kepada muridnya, di perpustakaan. Tidak perlu dipungkiri, saya menyukai cara mengajar guru ini, dan bagaimana dia menjelaskan dengan detail asal-usul rumus yang digunakan. Tidak asal ujug-ujug sulapan muncul rumus itu begitu saja. Continue reading

Review Buku Aib dan Martabat

Saya mencintai buku  dengan cara membacanya, merawat fisiknya untuk tidak terlipat, meyesap aroma kertasnya, dan dengan menikmati setiap kata-kata yang diperlihatkan penulisnya. Saya jatuh cinta. Kali ini –lagi, saya akan membagi highlight buku yang terakhir kali saya baca di bulan November.

Dag Solstad merupakan sastrawan asal Norwegia yang menjadi satu-satunya penulis Norwegia yang mendapatkan penghargaan Norwegian Literary Critics Awards sebanyak tiga kali. Beberapa karyanya sudah dialihbahasakan ke dalam 20 bahasanya. Salah satunya di negara Jepang, dengan penerjemah Haruki Murakami.

dag.jpg

dok pribadi

Buku dengan judul asil Genanse og Verdighet, biasanya untuk buku terjamahan saya sedikit sangsi dengan bagaimana mereka menerjemahkan –seperti terjemahan pada buku-buku romance saya merasa ada yang kurang dalam penjiwaannya, namun Aib dan Martabat ini sangat menggugah hati karena menurut saya disajikan sepenuh jiwa. Saya tidak merasakan adanya keganjilan. Saya menyukai bagaimana Irwan Syahrir mengadobsinya di bahasa Ibu –Irwan juga menerjemahkan karya penulis Norwegia lainnya; Jostein Garder.

Kalimat-kalimat di novel ini sangat mengusik, sedih, lucu meskipun serius. Benar-benar terjadi di lingkungan hingga saat ini, meskipun novel ini pertama kali terbit sudah 22 tahun yang lalu, bulan April tahun 1994. Berikut adalah potongan kalimat-kalimat yang saya suka:

Apalagi mereka adalah remaja-remaja 18 tahun yang sedang menjalani pendidikan umum.

Mereka adalah remaja yang belum bisa dianggap manusia dewasa.

Individu-individu yang belum dewasa ini disekolahkan agar terdidik dalam pengetahuan sastra Norwegia klasik.

Dia adalah pegawai yang digaji untuk itu.

Halaman 12

Wah,  saya juga pernah mengalami fase ini. Menggiurkan sebagai guru yang mengajar anak-anak sekolah menengah dengan tingkat kedewasaan yang berbeda-beda. mengulang hal-hal yang sama setiap tahun ajaran. Dulu, waktu saya masih sekolah menengah juga merasakan ketidakdewasaan itu dengan merasa jengah dengan hal yang kurang menarik minat saya (teori sejarah) pada sebuah mata pelajaran, dan itu justru saya ruahkan kepada guru. Continue reading

Tentang Kopi dan Buku

“If you love books and coffee, I’m already your lovker” –katakerja.com

cup-of

(dok pribadi)Secangkir coklat panas pengganti kopi

 

kopi-vs

(dok pribadi) Kopi pahit vs green tea, on frame: Ilmi, aku, dan buku.

Aku suka buku, dan membacanya. Aku suka kopi, tetapi berhenti mengkonsumsinya sejak satu tahun yang lalu tepat di bulan November setelah tanggal 30. Namun, aku tetap suka kopi, meskipun hanya bisa mencium aroma-aromanya. Dahulu, meskipun mengkonsumsinya itupun tidak sering, kira-kira dua atau tiga minggu sekali.  Continue reading

Buku Kehidupan

Mungkinkah kita memiliki waktu yang tidak terbatas dalam hidup?

Jika iya, saya ingin sedetail mungkin menjelajahi setiap jengkal bumi, mengitarinya hingga tahu rasanya hidup sebagai penduduk setempat, hingga tahu pengalaman hidup mereka, mendengarkan kisah-kisah mereka, menjelajahi tempat-tempat yang masih perawan. Tentu akan sangat mengasyikkan begitu dekat dengan semesta. Namun, waktu kita sangat singkat, bahkan di luar dugaan kita.

Tidak mungkin kita hidup selamanya di dunia.

Bagaimana kita bisa menjelajahi kehidupan di dunia ini dengan waktu terbatas? Continue reading

Tentang Kesabaran [Review Buku Tentang Kamu]

Saya salut dengan Tere Liye, sebab di setiap novel ia selalu membawa perbedaan. Romance dengan kerangka action, scince fiction, social economic, dan sekarang yang terbaru dengan balutan law-economics.

bkk

dok pribadi

Tidak peduli seberapa sibuk hari-hari dijalani, disela-sela nya pasti senggang. Saya lebih senang menghabiskan kesenggangan itu dengan membaca. Buku adalah kudapan yang pas untuk mengisi kekosongan waktu, meski hanya beberapa jam, bahkan menit. Menurut saya buku Tere Liye pas sekali sebagai kudapan yang pas di hari-hari ini. Seperti tubuh yang butuh makan untuk kebugaran fisik, membaca itu  merupakan makanan untuk jiwa.

Izinkanlah saya kembali mengulas sedikit tentang novel Tentang Kamu, Tere Liye. Pada 6 November 2016 Tere Liye launching buku Tentang Kamu di Gramedia Soedirman Yogyakarta (16.00-18.00), novel ini sudah beredar di toko buku sejak 31 Oktober 2016. Continue reading