Review Buku Di Kaki Bukit Cibalak

KETIKA kamu menganggap bahwa semua sarjana memiliki nafas yang sama ketika berhadapan dengan birokrasi yang berhubungan dengan sistem, uang, dan kekuasaan apakah kamu akan berpikir mereka akan mementingkan kualitas dan tanggung jawab dalam melakukan kegiatannya di dunia yang profesional?

Exif_JPEG_420

Dalam perjalanan (dok pribadi)

Ketika diberi kesempatan untuk bergabung dengan hal-hal yang berkaitan dengan buku, saya berjanji dengan diri sendiri. Untuk terus berkarya demi kemanusiaan, sesama, dan untuk menemani orang-orang Indonesia dengan jenis buku yang menghibur (ini mungkin tidak berkaitan dengan paragraf sebelumnya, ataupun setelahnya, seperti catatan tambahan yang harus ada karena sebagai arsip perjalanan)

Di cerita yang diangkat Ahmad Tohari kali ini saya akan bertanya-tanya dalam diri saya sendiri. Apa yang saya cari? Apa yang dicari dari sistem yang namanya pendidikan formal mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi, jika pada akhirnya mereka memiliki rasa rakus untuk memperkaya diri sendiri bahkan dengan menyingkirkan kepentingan masyarakat? Kalau hanya untuk menggelembungkan proyek-proyek bodong tanpa ujung, untuk apa ilmu itu? Continue reading

Pengingat

Banyak orang-orang yang aku temui, lalu kemudian pergi. Banyak orang-orang yang aku temui, lalu selalu tinggal seberapapun jauh jarak, dan waktu mempercepat bertambahnya usia.

Malam itu, orang-orang penggemar sastra, penikmat buku, bahkan penulis-penulis datang pada acara yang menghadirkan Mbak Okky Madasari sebagai pembicara.

Ini sebuah kebetulan, atau kesengajaan aku tidak tahu. Sebelah kananku duduk seorang perempuan berjilbab hitam, dengan mata sudah mengantuk, dan kiriku seorang yang aktif di dunia kepenulisan. Aku terjebak di tengah-tengah huru-hara yang membuatku nyaman, tidak ada orang yang menghakimi seenak udelnya, ataupun mematahkan pendapat orang meski tidak sependapat. Area keberagaman ditunjukkan untuk kemanusian merupakan kunci kedamaian batin.

Tanpa sadar bagaimana semula dimulai, aku sudah mengajak bercakap-cakap perempuan berjilbab hitam yang ada di sebelah kanan tempat dudukku.  Tak lain dan tak bukan beliau adalah teman dekat Mbak Okky Madasari sejak SMP, aku tidak menyangka merasakan kedekatan tersendiri ketika bercakap-cakap dengan teman (sahabat dan keluarga, mungkin ikatan psikologis kedekatan itu sudah mencapai taraf

ini), kedekatan secara tidak langsung dengan Mbak Okky meskipun awalnya aku hanya bercakap-cakap dengan teman dekatnya. Percakapan mengalir saja, tanpa aku harus tahu harus menghentikan percakapan ini kapan, untung acara itu selesai, jadi aku memiliki waktu untuk pamit, meskipun aku masih ingin membicarakan Mbak Okky (loh, nggopisin orang).

Akhirnya tiba di mana saya begitu dekat dengan Mbak Okky (secara fisik, dan psikologis yang aku dapat awalnya memalui membaca buku-buku Mbak Okky) hingga kami terlibat dalam beberapa pecakapan. Continue reading

Jejak Impian Anak-anak Gunung Giri Mulya

Telah menjadi tradisi sebulan sebelum ujian mereka sibuk menata diri dengan belajar. Meskipun hari itu kabut menyelimuti bukit Giri Mulya. Sekolah masuk pukul tujuh pagi, berakhir pukul satu siang dihari Senin-Kamis, Jum’at dan Sabtu adalah hari spesial. Pulang lebih cepat sekitar tiga jam dari hari-hari biasanya. Begitu seterusnya kebiasaan anak-anak kelas tiga.

Hari itu, kabut tipis menyelimuti lereng bukit, gerimis-gerimis kecil terdengar lembut desiran angin bercampur gerimis membasahi rok biru gadis itu. Jarak sekolahnya sekitar tiga kilometer. Dari lereng menuju tengah bukit dibutuhkan waktu tiga puluh menit untuk berjalan kaki. Payung hitam sebagai peneduh adalah penyelamatnya dari kuyup yang ringan tetapi ajeg pada pagi hari itu.

Kicauan burung sampai di telinga, dinginnya angin membuat gigil, ia berjalan telanjang kaki dengan menenteng sepatu di tangan kanan dan tangan kiri memegang payung. Tas ransel yang resletingnya hampir koyak.

Alam adalah simbol kehidupan. Hujan, panas, dan diantara keduanya merupakan bagian dari kehidupan gadis itu yang harus dimulai dari pagi. Menuju sekolah. Sebulan lagi ujian nasional. Dalam perjalanan hanya ada ribut-ribut angin dan kicau burung. Ia tetap mantab melangkahkan kaki mendaki menuju sekolah.

Exif_JPEG_420

Pemandangan di sekitar SMP Giri Mulya

Birunya langit tertutup kabut. Hangatnya matahati digantikan dengan dinginnya gerimis. Ketika langkahnya mencapai tanjakkan dengan derajad hampir sembilan puluh, langkahnya memelan. Tubuhnya membungkuk sedikit. Dengan payung serong ke depan. Rok bagian belakangnya agak basah. Nafasnya terengah-engah. Rasanya ini belum seberapa jika dibandingkan perjuangan orang tuanya yang bermata pencaharian petani di lereng balik bukit. Ia menyeret kakinya pelan-pelan hingga akhirnya sampai di pucuk jalan. Kalau bukan karena ini hari Kamis, gadis itu pasti lebih memilih membantu Ibunya di ladang. Memeriksa saluran irigasi sawah sepetak milik keluarganya itu. Sehari sebelumnya telah diumukan, akan ada tamu dari Kota yang hendak memberi penyuluhan tentang pentingnya teknologi bagi pelaksanaan UN. Continue reading

Review Buku 1984: Membaca ialah Perang

“Kebodohan sama penting dengan kecerdasan, dan sama sulitnya dicapai” –George Orwell.

Ini adalah buku kedua George Orwell yang saya baca, buku pertama berjudul Animal Farm merupakan sindiran yang cerdas mengenai terjadinya perang dunia, tentunya, selama seminggu dengan waktu yang terputus-putus dikala malam. Saya berhati-hati dalam mereview buku ini, berhati-hati untuk tidak merusak isi dari buku ini, bisa dijadikan acuan dalam memahami politik dan kekuasaan, andai saja para anggota-anggota DPR, Gubernur-gubernur, bupati-bupati, lurah-lurah, hingga Presiden membaca buku ini, tersadarkan mereka akan politik yang sebenarnya?.

Selesai membaca 1984, saya bisa merasakan Orwell mencoba merangkum politik sosial budaya di dalam satu buku dengan anaslisis perkembangan sosial politik dari generasi ke generasi.

Dengan tokoh utama Winston Smith yang hidup di negara yang disebut sebagai negara Oceania, memiliki beberapa susunan Kementerian. Kementerian Kebenaran –mengurusi berita, hiburan, dan seni. Kementerian Cinta Kasih –mengurusi hukum dan ketertiban. Kementerian Perdamaian –menangani bidang perang. Dan Kementerian Tumpah Ruah –bertanggungjawab terhadap masalah perekonomian. Hampir semua daerah tidak lepas dari pengawasan teleskrim. Bagi mereka yang memiliki pemikiran untuk menggulingkan Bung Besar akan diuapkan. Bahkan anak-anak dididik untuk menjadi mata-mata. Continue reading

Rak-rak Kehidupan

JAM menunjukkan pukul dua dini hari lebih dua puluh menit. Aku berhenti membaca tepat di halaman 164. Tidak seperti biasanya, hari ini aku membuat perhitungan untuk diri sendiri, berhenti sebelum subuh berkumandang, meski hari ini adalah weekend, kuputusakan untuk tidak gegabah begadang sampai dini hari untuk 1984. Memang sekali terikat dengan cerita susah sekali memutus sampai mana harus beristirahat.

Mengenari George Orwell, namanya sudah sering aku dengar sejak lima tahun lalu, meskipun karya-karyanya sudah dikenal lebih dalam oleh teman-teman yang mengkajinya melalui studi lanjut –sastra dan filsafat. Pemikirannya menolak mentah-mentah gagasan umum partai yang sebenarnya merugikan banyak masyarakat Inggris pada waktu itu –ortodok, bahkan Pemerintah atas nama Partai bisa merubah sejarah masa lalu. Continue reading

Batas yang Tak Terlihat

Disela-sela khidmat aku berdiri menatap lintasan alam. Dari biru yang diwarnai putihnya awan. Deru yang halus dari kejauhan sudah menadakan, kerinduan.
Dari tempatku berdiri sekarang aku tidak bisa menemukan, mana batasan langit itu, batasan antara langit dan lautan. Seolah mereka bersatu. Dalam diamku tentu, aku mengagumi-Mu.

This slideshow requires JavaScript.

 

Perempuan di Balik Kesunyian

Kenangan paling berkesan seumur hidup bisa pupus karena banyaknya trauma-trauma mendalam yang dialami oleh manusia…..

 

Judul Buku                  : Kalamata

Penulis                         : Ni Made Purnama Sari

Penerbit                       : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Editor                          : Candra Gautama

Jumlah Halaman     : 255

ISBN                            : 591601264

Cetakan Pertama     : Oktober, 2016

Exif_JPEG_420

dok pribadi

Ketika saya membaca buku, selalu saya mengecek aroma-aroma kertasnya yang menguar bagaikan aroma hujan pada tanah basah. Membasuhi jiwa saya sebelum membacanya. Meracuni, sekaligus mengobati, membuat saya semakin jatuh cinta dengan membaca buku.

Membaca seperti hidup itu sendiri, saya akan tahu bagaimana kisah itu memiliki kesan apa, memiliki ajaran apa setelah selesai. Persis ketika saya bersinggungan dengan orang-orang di sekeliling saya. namun, ada kalanya sosok-sosok di sekeliling kita dengan sekali melihat ada sebuah tanda, mereka akan selalu ada dalam kehidupan kita tanpa harus mengamati dari lahir hingga sepak terjangnya sekarang, ataupun nanti. Mungkin ini disebut dengan, perasaan? Atau entahlah.

Sunyi. Gagap gempita.

Fakta. Opini Masyarakat. Kenyataan.

Kekecewaan. Trauma. Kepercayaan.
Continue reading

Moco

[1]

Kamu berdiri sudah lima menit membaca di depan rak D1.02.S1 dengan sabar. Deret D1 dikategorikan oleh toko buku di jalan Suroto itu dengan label sastra. Kamu membaca dengan kecermatan yang mendalam, mengesankan buku yang sudah terbuka di etalase D1 itu bukan buku sembarangan. D1 bersuara tentang sastra yang sebagian besar dihuni oleh penerbit KPG, Buku Mojok, Penerbit Oak, Gramedia, dan Marjin Kiri. Kamu membuka satu lembar setelah menghabiskan waktu dua menit untuk satu halaman. Deru nafasmu teratur dengan menikamti musik nge-beat membuat kamu semakin betah. Sugar, Shake It Of, Bang-bang, It Always was You. Lagu terakhir membuat kamu ikut bergumam dengan membalik halaman selanjutnya. Membaca buatmu adalah kenikmatan, setiap membaca cerita yang ditulis oleh dia kamu seperti merasakan kedukaan yang sama dalam setiap nafas yang ditiupkan pada kalimat-kalimatnya. Matamu tidak bosan-bosan menelusuri kata demi kata hingga sekarang sudah sepuluh lembar kamu lumat. Kamu memang berniat membelinya, tetapi sejak melihat ada satu buku yang sudah lepas dari plastik kamu mengurungkannya, menunggu dia yang menulis tiba. Sudah hampir dua puluh menit, kamu melirik jam tangan ketika lagu It Always was You telah habis dan berganti ke lagu lain, samar-samar seperti suara Avril Lavign tetapi kamu lupa judul lagu itu. Dia tidak kunjung datang. Urung mengirim Whatsapp kamu berjongkok, menelusuri buku-buku lain yang kiranya bisa memenuhi koleksmu, kamu gila baca. Hingga ada lanangan menjajari kamu berjongkok, dia membenahi tali sepatunya. Dia melempar senyum mencoba beramah-tamah. Matamu memandang yang lain, ke buku yang selanjutnya ada di tangan kirimu, kamu tenteng. Continue reading

Review Buku Rumah Kertas

bluma-1

dok pribadi pada Pantai Selatan Yogyakarta

Dua minggu terakhir saya terkena gangguan dalam menulis, susah sekali rasanya mengutarakan apa-apa yang terjadi dengan baik. Pikiran ini terkena disktraksi dalam meluapkan cara memaparkan perasaan atau buah pikiran. Maafkan saya. Mungkin ini termasuk masalah: malas menulis, alih-alih writer’s block. Tidak tahu bagaimana caranya, saya memaksakan membaca di waktu yang kurang produktif. Saya tidak mau merenggut kebiasaan membaca buku disetiap kegiatan baru yang menyita waktu. Buku-buku yang menemani saya dalam kegaduhan perasaan dan pikiran kali ini adalah Rumah Kertas dan Kala Mata (yang belum terbaca sampai akhir).

Banyak sekali pilihan-pilihan hidup yang harus dilalui, dan membutuhkan pikiran jernih. Hal tersebut sebenarnya menjadi distraksi utama saya kesulitan menghirup oksigen untuk menulis, rasanya kosong. Saya bisa merasakan kepedihan dan bahagia secara bersamaan ketika saya menulis, maka beberapa minggu kemarin saya berhenti. Terlalu naas untuk dilanjutkan dalam kegagap kempaan dunia yang sekarang sedang saya jalani.

Tetapi, dua hari ini di sela-sela malam saya menemukan ritme untuk membaca Rumah Kertas setelah sehari sebelumnya saya ajak dia bermain-main di tepian Pantai Parangtritis. Awal saya membaca buku ini, membantu saya untuk menulis kembali minimal untuk diri sendiri.

Menemukan Rumah Kertas seperti menemukan air mineral di tengah gurun pasir. Menyejukkan relung-relung jiwa yang menggersang karena peristiwa taifun. Bagi mu mungkin agak berlebihan, suatu kali jalan hidup orang memang tidak segampang berlalunya musim hujan ke musim kemarau, memberi tanda-tanda yang pasti dalam peralihan. Continue reading