Hujan

MALAM telah kembali. Bulir-bulir air turun dari atas bercampur menjadi satu dengan samudra, menyisakan sesuatu hal yang terlanjur dirindukan yang bernama daratan. Rintik-rintiknya datang seperti rasa kepergian atau menunggu datangnya fajar. Kadang menyejukkan tetapi menyisakan tanya yang belum mendapat jawaban, Tuhan.

            Di sekitar pulau-pulau yang berdekatan dengan Sambu terlihat air berkecipak tenang dalam keremangan meskipun terkena guyuran. Merasakan apa yang terjadi dalam diam, ketika di atas sana terdapat rembulan tetapi hujan tetes demi tetes bergulir membuat kuyup nelayan di atas perahu kayu yang digunakan untuk mencari ikan Continue reading

Review Buku Lengking Burung Kasuari

AKHIR pekan ini menjadi akhir pekan yang berakhir dengan ditemani buku yang menjadi salah satu Pemenang Unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016. Cukup membutuhkan waktu lima jam tanpa jeda (kecuali untuk melirik skor Singapura Open 2017 di sektor ganda putra, hiks-hiks) saya menyelesaikannya, bagaimana keunikan karakter Asih yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Menjadikan saya terhanyut di kala waktu senggang yang bertepatan dengan jadwal siar Singapura Open 2017. Gadis berusia tujuh tahun ini menjadi kunci menggambarkan karakter lokal perantau yang ada di Papua. Buku yang ditulis oleh Nunuk Y Kusmiana ini sangat menarik, menggelitik. Kocak, iya. Getir, iya. Continue reading

Surga di Perempatan Jalan

Enlightening Minds, Expanding Horizons -Jargon di kantung plastik salah satu toko buku yang saya dapat hari ini di Bazar

SIAPA yang rela dipenjara asal bersama buku-buku, seperti Moh Hatta? Di sini, di perempatan jalan protokol kota pelajar kembali menyuguhkan pandangan yang sayang untuk dilewatkan. Bazar buku. Buku-buku berserakan rapi. Di meja-meja, buku tersusun berdasarkan penerbit dan genre-nya. Seperti penjara untuk umum. Apa nikmatnya menjadi pencinta buku? penjara ini berupa surga jika kita tenggelam di dalamnya.

            Memang, buku-buku yang disajikan bukan terbitan baru dua bulan belakangan. Tetapi tetap saja ini menjadi surga tersembunyi ketika saya menemukan novel-novel lama Tyas Effendi. Secara personal saya belum pernah berbincang-bincang langsung dengan doi, tetapi saya dipertemukan dengan sobat karibnya yang sama-sama menimba ilmu sastra tiga tahun lalu, Ilmi, dia juga seorang pilatropis buku. Ya, pilantropis, karena dia selalu meluangkan waktu yang tidak tanggung-tanggung untuk menghabiskan waktu sela di toko buku, kedai kopi, di depan laptop dan aroma kopi-kopi. Perburuan saya di bazar kali ini mengingatkan waktu-waktu lama kami yang sekarang tergadaikan oleh jarak. Seperti dua tahun lalu dia berujar.

Continue reading

Pengingat

Banyak orang-orang yang aku temui, lalu kemudian pergi. Banyak orang-orang yang aku temui, lalu selalu tinggal seberapapun jauh jarak, dan waktu mempercepat bertambahnya usia.

Malam itu, orang-orang penggemar sastra, penikmat buku, bahkan penulis-penulis datang pada acara yang menghadirkan Mbak Okky Madasari sebagai pembicara.

Ini sebuah kebetulan, atau kesengajaan aku tidak tahu. Sebelah kananku duduk seorang perempuan berjilbab hitam, dengan mata sudah mengantuk, dan kiriku seorang yang aktif di dunia kepenulisan. Aku terjebak di tengah-tengah huru-hara yang membuatku nyaman, tidak ada orang yang menghakimi seenak udelnya, ataupun mematahkan pendapat orang meski tidak sependapat. Area keberagaman ditunjukkan untuk kemanusian merupakan kunci kedamaian batin.

Tanpa sadar bagaimana semula dimulai, aku sudah mengajak bercakap-cakap perempuan berjilbab hitam yang ada di sebelah kanan tempat dudukku.  Tak lain dan tak bukan beliau adalah teman dekat Mbak Okky Madasari sejak SMP, aku tidak menyangka merasakan kedekatan tersendiri ketika bercakap-cakap dengan teman (sahabat dan keluarga, mungkin ikatan psikologis kedekatan itu sudah mencapai taraf

ini), kedekatan secara tidak langsung dengan Mbak Okky meskipun awalnya aku hanya bercakap-cakap dengan teman dekatnya. Percakapan mengalir saja, tanpa aku harus tahu harus menghentikan percakapan ini kapan, untung acara itu selesai, jadi aku memiliki waktu untuk pamit, meskipun aku masih ingin membicarakan Mbak Okky (loh, nggopisin orang).

Akhirnya tiba di mana saya begitu dekat dengan Mbak Okky (secara fisik, dan psikologis yang aku dapat awalnya memalui membaca buku-buku Mbak Okky) hingga kami terlibat dalam beberapa pecakapan. Continue reading

Jejak Impian Anak-anak Gunung Giri Mulya

Telah menjadi tradisi sebulan sebelum ujian mereka sibuk menata diri dengan belajar. Meskipun hari itu kabut menyelimuti bukit Giri Mulya. Sekolah masuk pukul tujuh pagi, berakhir pukul satu siang dihari Senin-Kamis, Jum’at dan Sabtu adalah hari spesial. Pulang lebih cepat sekitar tiga jam dari hari-hari biasanya. Begitu seterusnya kebiasaan anak-anak kelas tiga.

Hari itu, kabut tipis menyelimuti lereng bukit, gerimis-gerimis kecil terdengar lembut desiran angin bercampur gerimis membasahi rok biru gadis itu. Jarak sekolahnya sekitar tiga kilometer. Dari lereng menuju tengah bukit dibutuhkan waktu tiga puluh menit untuk berjalan kaki. Payung hitam sebagai peneduh adalah penyelamatnya dari kuyup yang ringan tetapi ajeg pada pagi hari itu.

Kicauan burung sampai di telinga, dinginnya angin membuat gigil, ia berjalan telanjang kaki dengan menenteng sepatu di tangan kanan dan tangan kiri memegang payung. Tas ransel yang resletingnya hampir koyak.

Alam adalah simbol kehidupan. Hujan, panas, dan diantara keduanya merupakan bagian dari kehidupan gadis itu yang harus dimulai dari pagi. Menuju sekolah. Sebulan lagi ujian nasional. Dalam perjalanan hanya ada ribut-ribut angin dan kicau burung. Ia tetap mantab melangkahkan kaki mendaki menuju sekolah.

Exif_JPEG_420

Pemandangan di sekitar SMP Giri Mulya

Birunya langit tertutup kabut. Hangatnya matahati digantikan dengan dinginnya gerimis. Ketika langkahnya mencapai tanjakkan dengan derajad hampir sembilan puluh, langkahnya memelan. Tubuhnya membungkuk sedikit. Dengan payung serong ke depan. Rok bagian belakangnya agak basah. Nafasnya terengah-engah. Rasanya ini belum seberapa jika dibandingkan perjuangan orang tuanya yang bermata pencaharian petani di lereng balik bukit. Ia menyeret kakinya pelan-pelan hingga akhirnya sampai di pucuk jalan. Kalau bukan karena ini hari Kamis, gadis itu pasti lebih memilih membantu Ibunya di ladang. Memeriksa saluran irigasi sawah sepetak milik keluarganya itu. Sehari sebelumnya telah diumukan, akan ada tamu dari Kota yang hendak memberi penyuluhan tentang pentingnya teknologi bagi pelaksanaan UN. Continue reading

Perempuan di Balik Kesunyian

Kenangan paling berkesan seumur hidup bisa pupus karena banyaknya trauma-trauma mendalam yang dialami oleh manusia…..

 

Judul Buku                  : Kalamata

Penulis                         : Ni Made Purnama Sari

Penerbit                       : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Editor                          : Candra Gautama

Jumlah Halaman     : 255

ISBN                            : 591601264

Cetakan Pertama     : Oktober, 2016

Exif_JPEG_420

dok pribadi

Ketika saya membaca buku, selalu saya mengecek aroma-aroma kertasnya yang menguar bagaikan aroma hujan pada tanah basah. Membasuhi jiwa saya sebelum membacanya. Meracuni, sekaligus mengobati, membuat saya semakin jatuh cinta dengan membaca buku.

Membaca seperti hidup itu sendiri, saya akan tahu bagaimana kisah itu memiliki kesan apa, memiliki ajaran apa setelah selesai. Persis ketika saya bersinggungan dengan orang-orang di sekeliling saya. namun, ada kalanya sosok-sosok di sekeliling kita dengan sekali melihat ada sebuah tanda, mereka akan selalu ada dalam kehidupan kita tanpa harus mengamati dari lahir hingga sepak terjangnya sekarang, ataupun nanti. Mungkin ini disebut dengan, perasaan? Atau entahlah.

Sunyi. Gagap gempita.

Fakta. Opini Masyarakat. Kenyataan.

Kekecewaan. Trauma. Kepercayaan.
Continue reading

Moco

[1]

Kamu berdiri sudah lima menit membaca di depan rak D1.02.S1 dengan sabar. Deret D1 dikategorikan oleh toko buku di jalan Suroto itu dengan label sastra. Kamu membaca dengan kecermatan yang mendalam, mengesankan buku yang sudah terbuka di etalase D1 itu bukan buku sembarangan. D1 bersuara tentang sastra yang sebagian besar dihuni oleh penerbit KPG, Buku Mojok, Penerbit Oak, Gramedia, dan Marjin Kiri. Kamu membuka satu lembar setelah menghabiskan waktu dua menit untuk satu halaman. Deru nafasmu teratur dengan menikamti musik nge-beat membuat kamu semakin betah. Sugar, Shake It Of, Bang-bang, It Always was You. Lagu terakhir membuat kamu ikut bergumam dengan membalik halaman selanjutnya. Membaca buatmu adalah kenikmatan, setiap membaca cerita yang ditulis oleh dia kamu seperti merasakan kedukaan yang sama dalam setiap nafas yang ditiupkan pada kalimat-kalimatnya. Matamu tidak bosan-bosan menelusuri kata demi kata hingga sekarang sudah sepuluh lembar kamu lumat. Kamu memang berniat membelinya, tetapi sejak melihat ada satu buku yang sudah lepas dari plastik kamu mengurungkannya, menunggu dia yang menulis tiba. Sudah hampir dua puluh menit, kamu melirik jam tangan ketika lagu It Always was You telah habis dan berganti ke lagu lain, samar-samar seperti suara Avril Lavign tetapi kamu lupa judul lagu itu. Dia tidak kunjung datang. Urung mengirim Whatsapp kamu berjongkok, menelusuri buku-buku lain yang kiranya bisa memenuhi koleksmu, kamu gila baca. Hingga ada lanangan menjajari kamu berjongkok, dia membenahi tali sepatunya. Dia melempar senyum mencoba beramah-tamah. Matamu memandang yang lain, ke buku yang selanjutnya ada di tangan kirimu, kamu tenteng. Continue reading

Hobi Membaca itu Kuno

Tidak sengaja pada hari itu saya bertemu dengan guru saya, yang dulu hobinya sering memberi hukuman goyang itik ketika tidak bisa mengerjakan soal di depan kelas kepada muridnya, di perpustakaan. Tidak perlu dipungkiri, saya menyukai cara mengajar guru ini, dan bagaimana dia menjelaskan dengan detail asal-usul rumus yang digunakan. Tidak asal ujug-ujug sulapan muncul rumus itu begitu saja. Continue reading

Buku Kehidupan

Mungkinkah kita memiliki waktu yang tidak terbatas dalam hidup?

Jika iya, saya ingin sedetail mungkin menjelajahi setiap jengkal bumi, mengitarinya hingga tahu rasanya hidup sebagai penduduk setempat, hingga tahu pengalaman hidup mereka, mendengarkan kisah-kisah mereka, menjelajahi tempat-tempat yang masih perawan. Tentu akan sangat mengasyikkan begitu dekat dengan semesta. Namun, waktu kita sangat singkat, bahkan di luar dugaan kita.

Tidak mungkin kita hidup selamanya di dunia.

Bagaimana kita bisa menjelajahi kehidupan di dunia ini dengan waktu terbatas? Continue reading