Mejeng di Kolom Pantura Lite Tribun Jateng

“Kin, beli koran Tribun Jateng dong, masak korannya sendiri tidak dibeli,” tutur seorang redaktur Tribun Jateng yang sarjana sastra Indonesia itu (sarjana nongkrong sana-sini).

IMG_20171223_100311.jpg

dok pribadi, Tribun Jateng edisi Senin 181217

Baru sekitar dua mingguan ini, koran cetak Tribun Jateng sudah terdistribusi sampai Kota Tegal.

Kucari-cari koran hari Senin pagi itu, pukul 09.00 WIB belum sampai di penjual yang dekat dengan Alun-alun Kota Tegal. Continue reading

Advertisements

Ombak Itu

IMG_20171215_170456

dok pribadi

Ombak itu tukilan pesan-pesan alam, tentang perasaan yang diam ingin menyampaikan duka, tentang perasaan yang diam ingin sampaikan tawa, tentang kamu yang tidak bisa terjangkau melalui kata.

Ombak itu berupa penghargaan terhadap kamu yang menyapa lewat debur yang keras, tentang sapaan hangat yang menggerus karang-karang, ombak itu tentang kesabaran mendapat jawaban-jawaban atas pertanyaan. Continue reading

Politik Yang Menyembuhkan Penyakit Negara

Selamat pagi, Hari Minggu.

Aku banyak belajar dari Sindhunata, penulis kolom feature Harian Kompas, mengenai memberitakan sebuah frame kehidupan-kehidupan.

Kubelajar cara dia memandang masalah yang dilewatkan oleh orang awam pada umumnya. Bukan mencari-cari hal besar agar orang membaca.

Selain Sindhunata tentu aku belajar langsung dengan Yusran Pare ketika masa penggodokan sebagai jurnalis Tribun Jateng. Banyak hal unik dan passionate dari teman-teman di Tribun Jateng. Kuakui, aku jatuh hati dengan beberapa temanku yang passionate.

Ini bukan idealisme, ini sebuah tanggungjawab memadukan kasusastraan ke dalam sebuah tulisan jurnalis. Andai semua orang meleburkan dalam keseharian mereka, tentu mereka memahami hal-hal tak kasat mata tanpa verbal-verbal yang bagiku adalah cacian dan penghakiman semata. Continue reading

aku, cita-cita, dan keputusan-keputusan

Di bangku kuliah aku lebih suka mencari-cari buku non akuntansi, aku lebih suka membaca sastra atau pun isu-isu mengenai sosial ekonomi.

Aku lebih sering menulis daripada mengikuti kegiatan teman-teman di bidang akuntansi.

Keberadaan dosen yang juga memiliki hobi menulis, Junaidi, membuatku merasa tidak menjadi alien seorang diri.

Kawan, kamu tahu? teman-temanku waktu itu berdemo karena fungsi BEM dimatikan. Hingga beberapa dari mereka dikeluarkan.

BEM pusat sementara beku. Entah beku sampai kapan aku ingin pura-pura lupa waktu itu. Kami lahir diera demokrasi tapi entah kenapa waktu itu ada masalah intern yang tidak terbuka. Terbentang tinggi. Kokoh. Rapat. Tidak tertembus kami.

Tidak pasti alasannya kenapa waktu itu demikian.

Jadi semasa kuliah, jurnalis kampus jalan sendiri.

Dan aku ikut berkontribusi di dalamnya. Untung ada Junaidi, jadi aspirasi-aspirasi di kampus tetap jalan.

Kuikut membantu diterbitkannya buku ke-2 Junaidi ini. Senang sekali rasanya. Kurasa di dalam kampus aku tidak sendiri karena memiliki orang aneh yang suka dengan buku-buku lain selain akuntansi. Continue reading

Nostalgia Dolanan Tradisional Indonesia

Terdapat pesan luhur di balik permainan tradisional

SORE tadi selepas mengantarkan benda kesayangan seorang teman, aku  melewati lapangan dan taman sebuah perumahan yang asri. Terdapat anak-anak bermain girang tiada beban. Mereka bermain lompat karet.

            Meskipun zaman millenials telah merajai semua kalangan, nyatanya sore ini kudapati sebuah pemandangan yang damai. Tidak ada benda smartphone di antara mereka. Hanya ada canda tawa dan peluh. Kebetulan aku juga tidak membawa smartphone sore ini.

Cara bermain lompat karet sangat mudah, dua orang berjaga. Saling terhubung menggunakan tali karet yang sudah mereka buat sedemikian rupa. Kemudian yang giliran melompat mengambil ancang-ancang supaya bisa melompati karet. Continue reading

Pesta Kopi, Moke, dan Sopi di Kampung Nanu

*sebelumnya artikel ini dimuat di wewerehere.id sebagai artikel yang ikut serta lomba #BeautifyingIndonesia

It’s easier to build a strong children than to repair broken men.

– Frederick Douglass

“Langit Indonesia bukan hanya Jawa, lho!” begitu seloroh seorang teman. Namanya, Irine Rahma Maulidia, yang saat itu mengikuti progam pengajar di pedalaman Nusa Tenggara Timur. Tepatnya di Manggarai, Desa Buar, di Kampung Nanu.

sederhana

dok pribadi, taken by Irine Rahma Maulidia

Berkontribusi sebagai pengajar di pedalaman membuat Irine sangat antusias. Bagi Irine, mendidik anak-anak bukan soal tawar-menawar lagi. Lebih baik mendidik anak bangsa sejak dini, sebelum terlambat. Seperti pendapat Frederick Douglass. Continue reading

Merayakan Ruang Baru Post Book

DI tengah huru-hara kehidupan kota metropolitan Jakarta, ada surga tersembunyi di kota yang beratmosfer tempramen dalam arti sebenarnya atau pun kiasan. Terletak di Jakarta Selatan, Pasar Santa. Begitu kamu sampai di tempat ini atmosfer tempramen Jakarta berubah dingin, mencair, namun penuh dengan kehangatan yang ramah.

            Hari itu berbeda. Tepat di tanggal 23 September 2017 tempat dengan lebar kira-kira 4×6 meter ini selesai direnovasi dengan menambah ruang untuk buku-buku yang menjadi tuan rumah utama. Continue reading

Kisah Sungu Lembu oleh Yusi Avianto Pareanom

SEBENARNYA saya masih memiliki ketertarikan lebih dengan sastra jawa melalui kisah-kisah klasik seperti Mahabarata, Ramayana, yang pada umumnya diketahui sebagaian orang berasal dari India tetapi ketika cerita tersebut sudah masuk Indonesia, hal-hal tersebut sudah memiliki ciri khas tersendiri sebagai kisah kontemporer negeri agraria ini.  Dan ketika saya bertanya dengan Bapak sendiri mengenai kisah pewayangan, sebenarnya ada bagian-bagian tertentu yang menjadi kreatifitas para pencerita untuk menciptakan lakonnya. Dan kitab umum yang bisa dijadikan rujukan cerita dalah Ramayana dan Mahabarata, kedua buku tersebut tiada memiliki batas untuk dijadikan cerita baru.

            Kisah klasik tersebut saya temukan melalui Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi yang ditulis oleh Yusi Avianto Pareanom. Ia menceritakan hal klasik dengan gaya bahasa yang bagi saya menghibur. Karena sejatinya dalam Raden Mandasia merupakan kisah klasik dengan penuturan kontemporer yang tidak membosankan, seperti membaca Babat Tanah Jawa dari sisi yang berbeda. Jika sebelumnya saya beranggappan bahwa Dewi Sintha selalu bersedih karena dia diculik oleh tokoh antagonis dan terpisah dari Rama, saya jadi melihat dari sisi lain ketika Dewi Sintha ternyata juga memiliki peran politik yang ternyata menyebabkan perang, yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

mandasia.jpg

dok pribadi

          Continue reading

Sebuah Review: Alam yang Diasingkan

“Ini buku baru Mbak, belum ada diskon khusus.” Dia tersenyum ramah.

“Siapa yang menerjemahkan ini Mas?”

“Ronny Agustinus.”

“Bagus kovernya, aku belum pernah melihat buku ini dalam bahasa asli.” begitu aku melihat Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta dalam balutan kover berwarna hijau yang mendamaikan. Kutemukan harta karun ini di antara buku-buku yang meramaikan Asean Literary Festival, 6 Agustus lalu di booth penerbit Marjin Kiri. Dengan harga yang lebih tak seberapa jika dibanding kehedonisan penduduk ibu kota.

Kutemukan sesuatu setelah selesai membaca buku ini.

Alam merupakan nafas kehidupan. Yang menurut saya sekarang diasingkan dengan manfaat yang kebanyakan buruk salah satunya pendulangan isi bumi yang berlebihan. Di sana semua bersumber dan menimbulkan sebab akibat. Tidak hanya manusia, dan hewan tetapi juga makhluk hidup lainnya semua bergantung kepada alam. Tetapi makhluk hidup paling sempurna, manusia, selalu memiliki cara sendiri untuk melakukan pembelajaran lebih untuk memanfaatkan alam sebagai kelangsungan hidup. Continue reading

Definisi Bahagia

Pada Sebuah Gerbong Kereta

SAKING banyaknya orang menakar-nakar ukuran bahagia, banyak yang melupakan suara kebenaran hati nurani sendiri dan pada akhirnya ada sebuah titik yang kuakui merupakan titik nol.  Spiritual yang terkadang pada saatnya terbuka lebar. Kedamaian. Ada di dalam bathin masing-masing.

            Banyak sekali tolak ukurnya. Pada umumnya dimulai dari apa yang kasat mata. Seperti; kendaraan, rumah, perhiasan, dan hal-hal lainnya.

            Apakah senyumanmu bisa dibeli? kubertanya dalam hati.

            Pernahkah bathinmu merasakan yang kamu inginkan sebenarnya?

            Mendengarkan keinginanmu tanpa interupsi dari luar?

            Mereka adalah hal tak kasat mata kunci dari semua. Continue reading