Memaknai (Buku) Perjalanan

Hai kawan, yang suka intip blogku!

Maaf baru sempat update kembali.

Kali ini, aku akan menuturkan perjalananku selama di Tegal kurun waktu kurang lebih empat bulan, review sedikit saja, keren.

Satu  kata itu mewakili pengalamanku, hingga aku bercerita dengan Madi mengenai hal-hal artifisial yang kutemui selama di perjalanan ini.

“gak apa-apa, kamu harus belajar tentang semua manusia,” nasihatnya. Continue reading

Advertisements

Pelajaran yang Bisa Dipetik Hari Ini

Suatu kali orang-orang akan menertawakanmu seolah-olah kamu salah supaya mereka terihat paling benar. Ya, suatu kali kamu akan bertemu ddengan hal demikian. Namun, ibu selalu berpesan untuk terus bersikap positif atas apa-apa yang mereka lakukan.

Suatu kali orang-orang akan menertawakanmu karena kamu memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memandang masalah. Ibu selalu berpesan biarlah, teruslah bermanfaat untuk sesama.

Suatu kali orang-orang akan menerwatakanmu seolah-olah kamu adalah biang keladi. Meski kamu benarpun, tetap kamu ada seorang biang keladi. Ibumupun kemudian menasihati, merubah sudut pandang yang terlanjur keliru namun sudah berjamaah sangat susah, teruslah menanamkan kebaikan dan bersikap positif. Continue reading

Pelukan Curug Cantel

Alam yang sejuk nan merindukan

Di sebuah desa pada lereng Gunung Slamet di Kabupaten Tegal, Desa Sigedong, terdapat air terjun dengan ketinggian sekitar 70-meteran lebih terjun bebas ke dasar. Di apit oleh dua bukit yang kaya dengan vegetasi tumbuhan menjadikan lokasi ini sejuk.

Kabupaten Tegal memiliki sumber daya alam yang tak terkira taksirannya, hal tersebut bisa terlihat saat memasuki kawasan Desa Sigedong, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Hamparan perbukitan dengan berbagai variasi tanaman perkebunan: kentang, wortel, kopi, teh, kubis, strawbery, dan masih banyak lagi menjadi teman perjalanan selama menuju lokasi Curug Cantel.

Pagi itu, Minggu (14/1/2018),  dari Kota Tegal aku bertolak ke Curug Cantel pukul 07.00 WIB. Dengan jarak tempuh satu jam, akhirnya aku bisa sampai di lokasi ini tepat pukul 08.00 WIB lebih lima menit.

Untuk bisa sampai ke sumber air dari tempat parkir harus berjalan terlebih dahulu. Kira-kira 300-500 meter. Sunyi, asri, alami. Ketiga kata tersebut menggambarkan betapa takjubnya aku. Continue reading

Folosofi dan Sejarah Nama

*aku tulis untuk menghargai jerih payah orangtuaku dalam mendidikku sejak kecil hingga sekarang, mereka memahami kekeraskepalaanku untuk menjadi seorang jurnalis alih-alih ekonom daerah.

SUDAH dua bulan aku di Tegal menjadi juru tulis secara profesional di Kota Tegal, pengalaman baru tentu.

Bukan saatnya menerka-nerka bagaimana hidup di sini, di titik inilah aku melebur seperti air dalam kebiasaan-kebiasaan penduduk Tegal.

Ya, aku lebih suka menjadi air, angin dan padi alih-alih api atau pun duri.

Biarkan mereka menghakimi seperti apa, ataupun menerka-nerka yang tidak jelas mengenai diriku sebagai pendatang baru. Who’s really care?

yang terpenting aku ingin memahami mereka dan aku tidak memiliki kuasa bagaimana sikapnya terhadapku, i’tikad baik menjadi niat yang kuat perjalanan ini.

Kebiasaan orang-orang di sekelilingku dari dulu ketika mendengar pertama kali namaku, pasti akan berekspresi mengkerut.

“Benar itu nama aslimu?” seperti itulah arti kerutannya.

“Bahasa Jepang ya?”

Padahal mukamu jawa sekali, seperti itu terkaan mereka.

WEIRDO NAME. Continue reading

Mejeng di Kolom Pantura Lite Tribun Jateng

“Kin, beli koran Tribun Jateng dong, masak korannya sendiri tidak dibeli,” tutur seorang redaktur Tribun Jateng yang sarjana sastra Indonesia itu (sarjana nongkrong sana-sini).

IMG_20171223_100311.jpg

dok pribadi, Tribun Jateng edisi Senin 181217

Baru sekitar dua mingguan ini, koran cetak Tribun Jateng sudah terdistribusi sampai Kota Tegal.

Kucari-cari koran hari Senin pagi itu, pukul 09.00 WIB belum sampai di penjual yang dekat dengan Alun-alun Kota Tegal. Continue reading

Ombak Itu

IMG_20171215_170456

dok pribadi

Ombak itu tukilan pesan-pesan alam, tentang perasaan yang diam ingin menyampaikan duka, tentang perasaan yang diam ingin sampaikan tawa, tentang kamu yang tidak bisa terjangkau melalui kata.

Ombak itu berupa penghargaan terhadap kamu yang menyapa lewat debur yang keras, tentang sapaan hangat yang menggerus karang-karang, ombak itu tentang kesabaran mendapat jawaban-jawaban atas pertanyaan. Continue reading

Politik Yang Menyembuhkan Penyakit Negara

Selamat pagi, Hari Minggu.

Aku banyak belajar dari Sindhunata, penulis kolom feature Harian Kompas, mengenai memberitakan sebuah frame kehidupan-kehidupan.

Kubelajar cara dia memandang masalah yang dilewatkan oleh orang awam pada umumnya. Bukan mencari-cari hal besar agar orang membaca.

Selain Sindhunata tentu aku belajar langsung dengan Yusran Pare ketika masa penggodokan sebagai jurnalis Tribun Jateng. Banyak hal unik dan passionate dari teman-teman di Tribun Jateng. Kuakui, aku jatuh hati dengan beberapa temanku yang passionate.

Ini bukan idealisme, ini sebuah tanggungjawab memadukan kasusastraan ke dalam sebuah tulisan jurnalis. Andai semua orang meleburkan dalam keseharian mereka, tentu mereka memahami hal-hal tak kasat mata tanpa verbal-verbal yang bagiku adalah cacian dan penghakiman semata. Continue reading

aku, cita-cita, dan keputusan-keputusan

Di bangku kuliah aku lebih suka mencari-cari buku non akuntansi, aku lebih suka membaca sastra atau pun isu-isu mengenai sosial ekonomi.

Aku lebih sering menulis daripada mengikuti kegiatan teman-teman di bidang akuntansi.

Keberadaan dosen yang juga memiliki hobi menulis, Junaidi, membuatku merasa tidak menjadi alien seorang diri.

Kawan, kamu tahu? teman-temanku waktu itu berdemo karena fungsi BEM dimatikan. Hingga beberapa dari mereka dikeluarkan.

BEM pusat sementara beku. Entah beku sampai kapan aku ingin pura-pura lupa waktu itu. Kami lahir diera demokrasi tapi entah kenapa waktu itu ada masalah intern yang tidak terbuka. Terbentang tinggi. Kokoh. Rapat. Tidak tertembus kami.

Tidak pasti alasannya kenapa waktu itu demikian.

Jadi semasa kuliah, jurnalis kampus jalan sendiri.

Dan aku ikut berkontribusi di dalamnya. Untung ada Junaidi, jadi aspirasi-aspirasi di kampus tetap jalan.

Kuikut membantu diterbitkannya buku ke-2 Junaidi ini. Senang sekali rasanya. Kurasa di dalam kampus aku tidak sendiri karena memiliki orang aneh yang suka dengan buku-buku lain selain akuntansi. Continue reading

Nostalgia Dolanan Tradisional Indonesia

Terdapat pesan luhur di balik permainan tradisional

SORE tadi selepas mengantarkan benda kesayangan seorang teman, aku  melewati lapangan dan taman sebuah perumahan yang asri. Terdapat anak-anak bermain girang tiada beban. Mereka bermain lompat karet.

            Meskipun zaman millenials telah merajai semua kalangan, nyatanya sore ini kudapati sebuah pemandangan yang damai. Tidak ada benda smartphone di antara mereka. Hanya ada canda tawa dan peluh. Kebetulan aku juga tidak membawa smartphone sore ini.

Cara bermain lompat karet sangat mudah, dua orang berjaga. Saling terhubung menggunakan tali karet yang sudah mereka buat sedemikian rupa. Kemudian yang giliran melompat mengambil ancang-ancang supaya bisa melompati karet. Continue reading

Pesta Kopi, Moke, dan Sopi di Kampung Nanu

*sebelumnya artikel ini dimuat di wewerehere.id sebagai artikel yang ikut serta lomba #BeautifyingIndonesia

It’s easier to build a strong children than to repair broken men.

– Frederick Douglass

“Langit Indonesia bukan hanya Jawa, lho!” begitu seloroh seorang teman. Namanya, Irine Rahma Maulidia, yang saat itu mengikuti progam pengajar di pedalaman Nusa Tenggara Timur. Tepatnya di Manggarai, Desa Buar, di Kampung Nanu.

sederhana

dok pribadi, taken by Irine Rahma Maulidia

Berkontribusi sebagai pengajar di pedalaman membuat Irine sangat antusias. Bagi Irine, mendidik anak-anak bukan soal tawar-menawar lagi. Lebih baik mendidik anak bangsa sejak dini, sebelum terlambat. Seperti pendapat Frederick Douglass. Continue reading