Ular-ular di Mimpi

*cerita ini juga dimuat pada inspirasi.co

AKU memanggilnya jancuk, sebagai sapaan paling bersahabat. Pun sebaliknya, ia sering memanggilku dengan singkatan dari jancuk, yang adalah cuk. Dan sebagai orang Jawa bagian timur itu bukanlah sesuatu yang tidak sopan jika diperuntukkan untuk kolega dekat. Karena 1. aku bukan priyai yang haus penghormatan 2. ketika aku mendengar kata cuk aku suka, rasanya aku dan dia tidak memiliki sekat yang harus ditutupi karena semua telah tersibak oleh satu kata, jancuk 3. ini bukan diksi yang sekonyong-konyong akan membuatmu kelaparan seumur hidup.

Sebagai orang jawa; tanpa bermaksud sara. Tetapi ini sudah menjadi mitos yang telah turun menurun, aku tidak tahu runutan dari generasi siapa. Mengenai ular. Jika kamu melihat ular di 1. dekat rumah 2. dalam mimpi, itu bisa menjadi pertanda bahwa kamu akan 2.1. dekat dengan jodoh 2.2 segera menikah. Percaya atau tidak percaya itu adalah hal yang sudah melegenda di lingkunganku.

persahabatan

aku, ia, dan seorang teman beridentitas Natution

Malam yang sunyi, aku menguap tanda sudah tidak kuat lagi untuk begadang, padahal ini malam minggu. Biasanya, aku selalu menyempatkan untuk tidak menutup mata hingga dini hari hadir. Continue reading

Perburuan National Geographic

Menjadi pembaca yang setia tentu memiliki kesenangan tersendiri ketika menjelajahi los-los buku selain di toko buku. Perburuan yang menyenangkan.

            “Itu Mbak, di belakang kantor pos ada.” Begitu penjelasan tukang parkir shoping center terhadap pertanyaanku, di mana bisa membeli majalah NG.

Sebelumnya aku sudah menelusuri los-los dan bertanya kepada penjual buku-buku tentang edisi yang sedang aku cari. Mereka tidak memilikinya. Akan tetapi ada satu penjual yang menyebut salah satu tempat buku yang ada di timur Bank Indonesia dan belakang kantor pos. “Itu sebelah mana sih letaknya dari sini, timur atau barat Bank Indonesia, pokoknya di daerah situ lengkap Mbak” membuktikan penjelasan penjual tersebut, saya menelusuri tiap lekuk-lekuk daerah Bank Indonesia, nihil. Hanya bertemu dengan barisan-barisan bus pariwisata yang terparkir rapi serta beberapa orang yang sibuk dengan warung-warung, penuh dengan pembeli yang rupanya supir-supir bus dari wisatawan yang datang dari luar kota. Continue reading

Inspirasiku

Dalam keterbukaan ruang, musik menjelma di antara telinga-telinga, menuju hati-hati.

            Di kursi-kursi kosong, aku memilih duduk berdekatan dengan suara air. Bunga gelombang cinta, lidah mertua, dan sejenis jenis bunga dan tumbuhan yang asalnya dari Sumatera tetapi tumbuh juga di pulau Jawa. Aku tidak tahu bagaimana awalnya tumbuhan itu dinamai asalnya dari Sumatera. Yang aku tahu di kursi yang berdekatan dengan tumbuhan dan gemericik air menawarkan inspirasi-inspirasi lucu.Exif_JPEG_420

            Di dinding, terdapat lukisan-lukisan pemusik jazz, yang tidak kutahu nama asilnya. Di sampingnya terdapat meja dengan bebarapa buku. Angin berbisik, membuatku tanpa sengaja tahu apa yang diperbincangkan segelintir manusia yang memilih tempat paling jauh dari tempatku duduk. Dan menikmati hidup. Continue reading

Sebagaimana Sabar

Ditengah hujan yang turun deras, penjaja koran berteduh menanti reda. Sebagaimana sabar mengajari mereka untuk tetap menanti cerahnya sinar matahari untuk menghangatkan tubuh meraka.

Ditengah kesibukan para pejabat yang meributkan revisi UU maupun UU Daerah, harapan keadilan dinanti oleh mereka yang berhak. Sebagaimaa sabar mengajari mereka untuk tetap berprasangka baik atas keputusan-keputusan politis yang dibuat.

Ditengah debat para politisi-politisi hebat, ada akses pendidikan yang bisa diperoleh golongan kiri. Sebagaimana sabar mengajari mereka terus membaca dan menulis dengan seragam lusuh, dan buku lawas. Continue reading

Hujan

MALAM telah kembali. Bulir-bulir air turun dari atas bercampur menjadi satu dengan samudra, menyisakan sesuatu hal yang terlanjur dirindukan yang bernama daratan. Rintik-rintiknya datang seperti rasa kepergian atau menunggu datangnya fajar. Kadang menyejukkan tetapi menyisakan tanya yang belum mendapat jawaban, Tuhan.

            Di sekitar pulau-pulau yang berdekatan dengan Sambu terlihat air berkecipak tenang dalam keremangan meskipun terkena guyuran. Merasakan apa yang terjadi dalam diam, ketika di atas sana terdapat rembulan tetapi hujan tetes demi tetes bergulir membuat kuyup nelayan di atas perahu kayu yang digunakan untuk mencari ikan Continue reading

Review Buku Lengking Burung Kasuari

AKHIR pekan ini menjadi akhir pekan yang berakhir dengan ditemani buku yang menjadi salah satu Pemenang Unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016. Cukup membutuhkan waktu lima jam tanpa jeda (kecuali untuk melirik skor Singapura Open 2017 di sektor ganda putra, hiks-hiks) saya menyelesaikannya, bagaimana keunikan karakter Asih yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Menjadikan saya terhanyut di kala waktu senggang yang bertepatan dengan jadwal siar Singapura Open 2017. Gadis berusia tujuh tahun ini menjadi kunci menggambarkan karakter lokal perantau yang ada di Papua. Buku yang ditulis oleh Nunuk Y Kusmiana ini sangat menarik, menggelitik. Kocak, iya. Getir, iya. Continue reading

Surga di Perempatan Jalan

Enlightening Minds, Expanding Horizons -Jargon di kantung plastik salah satu toko buku yang saya dapat hari ini di Bazar

SIAPA yang rela dipenjara asal bersama buku-buku, seperti Moh Hatta? Di sini, di perempatan jalan protokol kota pelajar kembali menyuguhkan pandangan yang sayang untuk dilewatkan. Bazar buku. Buku-buku berserakan rapi. Di meja-meja, buku tersusun berdasarkan penerbit dan genre-nya. Seperti penjara untuk umum. Apa nikmatnya menjadi pencinta buku? penjara ini berupa surga jika kita tenggelam di dalamnya.

            Memang, buku-buku yang disajikan bukan terbitan baru dua bulan belakangan. Tetapi tetap saja ini menjadi surga tersembunyi ketika saya menemukan novel-novel lama Tyas Effendi. Secara personal saya belum pernah berbincang-bincang langsung dengan doi, tetapi saya dipertemukan dengan sobat karibnya yang sama-sama menimba ilmu sastra tiga tahun lalu, Ilmi, dia juga seorang pilatropis buku. Ya, pilantropis, karena dia selalu meluangkan waktu yang tidak tanggung-tanggung untuk menghabiskan waktu sela di toko buku, kedai kopi, di depan laptop dan aroma kopi-kopi. Perburuan saya di bazar kali ini mengingatkan waktu-waktu lama kami yang sekarang tergadaikan oleh jarak. Seperti dua tahun lalu dia berujar.

Continue reading

Pengingat

Banyak orang-orang yang aku temui, lalu kemudian pergi. Banyak orang-orang yang aku temui, lalu selalu tinggal seberapapun jauh jarak, dan waktu mempercepat bertambahnya usia.

Malam itu, orang-orang penggemar sastra, penikmat buku, bahkan penulis-penulis datang pada acara yang menghadirkan Mbak Okky Madasari sebagai pembicara.

Ini sebuah kebetulan, atau kesengajaan aku tidak tahu. Sebelah kananku duduk seorang perempuan berjilbab hitam, dengan mata sudah mengantuk, dan kiriku seorang yang aktif di dunia kepenulisan. Aku terjebak di tengah-tengah huru-hara yang membuatku nyaman, tidak ada orang yang menghakimi seenak udelnya, ataupun mematahkan pendapat orang meski tidak sependapat. Area keberagaman ditunjukkan untuk kemanusian merupakan kunci kedamaian batin.

Tanpa sadar bagaimana semula dimulai, aku sudah mengajak bercakap-cakap perempuan berjilbab hitam yang ada di sebelah kanan tempat dudukku.  Tak lain dan tak bukan beliau adalah teman dekat Mbak Okky Madasari sejak SMP, aku tidak menyangka merasakan kedekatan tersendiri ketika bercakap-cakap dengan teman (sahabat dan keluarga, mungkin ikatan psikologis kedekatan itu sudah mencapai taraf

ini), kedekatan secara tidak langsung dengan Mbak Okky meskipun awalnya aku hanya bercakap-cakap dengan teman dekatnya. Percakapan mengalir saja, tanpa aku harus tahu harus menghentikan percakapan ini kapan, untung acara itu selesai, jadi aku memiliki waktu untuk pamit, meskipun aku masih ingin membicarakan Mbak Okky (loh, nggopisin orang).

Akhirnya tiba di mana saya begitu dekat dengan Mbak Okky (secara fisik, dan psikologis yang aku dapat awalnya memalui membaca buku-buku Mbak Okky) hingga kami terlibat dalam beberapa pecakapan. Continue reading

Jejak Impian Anak-anak Gunung Giri Mulya

Telah menjadi tradisi sebulan sebelum ujian mereka sibuk menata diri dengan belajar. Meskipun hari itu kabut menyelimuti bukit Giri Mulya. Sekolah masuk pukul tujuh pagi, berakhir pukul satu siang dihari Senin-Kamis, Jum’at dan Sabtu adalah hari spesial. Pulang lebih cepat sekitar tiga jam dari hari-hari biasanya. Begitu seterusnya kebiasaan anak-anak kelas tiga.

Hari itu, kabut tipis menyelimuti lereng bukit, gerimis-gerimis kecil terdengar lembut desiran angin bercampur gerimis membasahi rok biru gadis itu. Jarak sekolahnya sekitar tiga kilometer. Dari lereng menuju tengah bukit dibutuhkan waktu tiga puluh menit untuk berjalan kaki. Payung hitam sebagai peneduh adalah penyelamatnya dari kuyup yang ringan tetapi ajeg pada pagi hari itu.

Kicauan burung sampai di telinga, dinginnya angin membuat gigil, ia berjalan telanjang kaki dengan menenteng sepatu di tangan kanan dan tangan kiri memegang payung. Tas ransel yang resletingnya hampir koyak.

Alam adalah simbol kehidupan. Hujan, panas, dan diantara keduanya merupakan bagian dari kehidupan gadis itu yang harus dimulai dari pagi. Menuju sekolah. Sebulan lagi ujian nasional. Dalam perjalanan hanya ada ribut-ribut angin dan kicau burung. Ia tetap mantab melangkahkan kaki mendaki menuju sekolah.

Exif_JPEG_420

Pemandangan di sekitar SMP Giri Mulya

Birunya langit tertutup kabut. Hangatnya matahati digantikan dengan dinginnya gerimis. Ketika langkahnya mencapai tanjakkan dengan derajad hampir sembilan puluh, langkahnya memelan. Tubuhnya membungkuk sedikit. Dengan payung serong ke depan. Rok bagian belakangnya agak basah. Nafasnya terengah-engah. Rasanya ini belum seberapa jika dibandingkan perjuangan orang tuanya yang bermata pencaharian petani di lereng balik bukit. Ia menyeret kakinya pelan-pelan hingga akhirnya sampai di pucuk jalan. Kalau bukan karena ini hari Kamis, gadis itu pasti lebih memilih membantu Ibunya di ladang. Memeriksa saluran irigasi sawah sepetak milik keluarganya itu. Sehari sebelumnya telah diumukan, akan ada tamu dari Kota yang hendak memberi penyuluhan tentang pentingnya teknologi bagi pelaksanaan UN. Continue reading