Review Film Dilan 1990

Aku pernah bertemu beberapa orang yang memaksakan sudut pandang, padahal sebenarnya keberagaman adalah hal yang indah. Lalu, pernah suatu kala aku bertemu dengan para hakim-hakim sosial yang tidak saling mengenal lalu saling  berspekulasi tentang hal baru yang belum dikenalnya dari dalam, ah sudahlah, ini caraku menghabiskan hari libur di sela-sela pekerjaan (ho-ho-ho).

Kupersembahkan, review untuk Mas Bidi Baiq yang telah memberikan kami hiburan.

Ini caraku menghabiskan hari libur di sela-sela pekerjaan (ho-ho-ho).

Doakan aku kali ini kawan, aku tidak menghakimi.

Baik menghakimi sutradara (Fajar Bustomi) ataupun penulis novel Dilan 1990, Pidi Baiq, yang sangat ramah kepadaku, bahkan kepada debu sekalipun ia tak pernah merasa dia adalah senior, guru, ataupun soto(i) sapi -eh, keblablasan bercandanya.

Mari kita mulai dari, ini.

IMG_20180127_174934

dok pribadi

Film Dilan 1990 garapan Fajar Bustomi ini sebenarnya telah ditunggu-tunggu oleh penikmat buku.

Banyak di antara teman-temanku yang telah khatam buku-buku Bidi Baiq penasaran, seperti apakah sosok Dilan dengan gaya flamboyan yang bertanggungjawab.

Film dengan judul yang sama dengan novelnya ini, berdurasi kurang lebih selama 2 jam.

Bagiku, wujud visualisasinya menciptakan rasa buku.

Aku tidak akan mengobrolkan masalah teknik penggarapan film. Sebagai penikmat hiburan aku lebih suka duduk manis menikmati jalannya alur hingga teringat isi bukunya sembari nyemil popcorn, dan menyiapkan air mineral (sudah menyimpan di dalam tas, don’t try this at cinema, ho-ho), sudah cukup.

Sabtu lalu, aku ditemani seorang kawan dari Kabupaten Tegal yakni Rachma Utari menikmati film karya Fajar Bustomi. Continue reading

Advertisements

Review Buku Kubah: Jejak Kemarahan yang Berimbas Sesal

Kali terakhir aku membaca karya Ahmad Tohari adalah di Kaki Bukit Cibalak beberapa tahun lalu.

Dan sudah tiba waktunya aku selesai membaca Kubah.

Ke mana aku selama ini? baru bisa menyelesaikan buku Ahmad Tohari?

Buku dengan total halaman 211 ini menceritakan latar tahun 1975-an akibat dari peristiwa yang terjadi pada tahun 1960-an.

IMG_20171223_154046

dok pribadi, Ahmad Tohari-Kubah

Nikmatnya hidup ketika di waktu senggang (yang sedikit) masih bisa  mendengarkan pikiran-pikiran Ahmad Tohari melalui bukunya, seperti Kubah ini adalah anugerah apalagi bisa mereview isinya.

Dalam kisahnya Tohari mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dari tokoh Karman.

Sebagai seorang eks tapol, Karman mencoba memperbaiki kehidupannya. Tidak ada hal yang mudah, keterjerumusan Karman sehingga dicap sebagai seorang begundal komunis.

Kenapa judulnya Kubah? ya, sebaiknya kalian membaca sendiri biar lebih tahu betul arti Kubah bagi Karman di segala pencarian batinnya. Continue reading

Memori Dongeng Masa Kecil [1]

Huma. Bapak memberikan nama itu. Induk nya suka sekali melindungi Huma ini. Telinganya besar, memiliki belalai,  berkaki empat.

Kali bertama aku melihat kebun binatang ini sekitar usia 5 tahun.  Aku penasaran sekali dengan cerita bapak sebelum pergi ke kebun binatang pagi itu,  terus terngiang-ngian. Hingga aku tumbuh dewasa memori itu masih menempel kuat.

“Ceritakan lanjutannya Pak” Pekikku membuntuti ke mana pun bapak pergi. Ke ruang tamu, ke kamar,  ke teras. Kukuntit bapak waktu itu. Sampai ibu jengkel karena ulahku.

“Sudah lah.  Nanti lagi. Bapak juga nih! Tak perlu lagi cerita yang aneh-aneh. Kasihan masih kecil, nanti kepikiran terus. Nagih-nagih janji terus. ” Ha-ha.  Ibu begitu rasional hingga malas mendengarkanku merengek  imaginasiku yang liar terhadap  cerita bapak. Begitulah ibu menegur kami berdua. Continue reading

Sebuah Review Anak Rantau: Menjadikan Alam Sebagai Guru

JADWAL bacaku tidak seperti dulu lagi, yang berarti menunggu membaca, bengong membaca di mana pun, dan kapan pun. Jadwal mencoret-coret ku juga tidak sama seperti dulu lagi, bisa coret-coret di mana saja, kapan pun. Ada banyak hal yang membuatnya berubah.

            Di lingkungan baru, ada seorang teman yang bertanya, kapan kamu suka menulis atau pun membaca, kenapa? kenapa harus membaca? apa orang tua mu tidak marah kamu membeli buku? bagi teman-teman lamaku mungkin sudah tidak kaget lagi melihat kegemaran ku pada buku seperti misalkan orang yang tidak bisa lepas dari kegilaannya pada rokok atau pun orang yang memiliki panggilan travelling. Ini bukan tentang gaya hidup, tetapi kebutuhan hidup. Continue reading

Berintim

“Salah satu tujuanku, membuat acara Literary Lunch, sekaligus aku pamitan untuk beberapa waktu, karena aku akan bertolak ke lowa, Amerika, pada tanggal 19 nanti, diundang sebagai pembicara di Lowa” -Okky Madasari

DI SIANG yang bersejarah di Kota Tua. Di sela-sela berlangsungnya agenda ASEAN Literary Festival, di Batavia Market terdapat pembicaraan yang santai, lebih dekat, tentu saja lebih intim tanpa sekat bersama Okky Madasari. Ada agenda khusus selain bentuk apresiasi Okky Puspa Madasari kepada para pembaca buku dan penikmat sastra, pamitan sebentar karena akan segera bertolak ke Progam Residensi di Amerika, Lowa.

            Aku beruntung sekali termasuk ke dalam lima belas orang yang bisa mengikut acara ini, senang sekali bisa bertemu dengan beberapa teman lain yang memiliki minat yang kuat di bidang sastra, sekaligus berkencan dengan beberapa teman media.

            Kapan lagi aku bisa bertemu dengan Okky Madasari lagi dengan suasana yang berbeda? ini merupakan kali kedua setelah pertemuan aku untuk pertama kalinya di Yogyakarta. Kesan pertama di Yogyakarta ketika waktu itu pertama kali bertemu adalah hangat. Sosok yang sangat inspiratif. Continue reading

Review Buku Ketika Lampu Berwarna Merah: Yang Tersembunyi di Antara Kemegahan Jakarta

“Apa yang Anda mau ada di sana. Dari garam sampai mobil paling mewah. Segala macam hiburan tersedia. Dari yang kelas kambing sampai utama. Jakarta. Jakarta. Selalu melayani selera Anda.” Ketika Lampu Berwarna Merah, Hal 101.

Membaca adalah cara menjelajahi fisik dan jiwa tempat-tempat tokoh-tokoh dibuat oleh penulisnya. Manusia dan keseharian, seperti feature, yang dituangkan oleh Hamsad Rangkuti, melalui wajah novel Ketika Lampu Berwarna Merah akan membuat pembaca berpikir lebih arif mengenai kehidupan lokal Ibu Kota dan sebab akibat dari transmigrasi.

Exif_JPEG_420

dok pribadi

            APA yang kamu inginkan dari hidup? Pikiran orang tentu berbeda, tentang menghadapi pasar, mereka dibentuk pasar atau membentuk pasar? beberapa teman saya yang bekerja di beberapa perusahaan swasta internasional dan negeri menjadikan gaya hidup yang menurut saya memaksakan hal-hal yang bersifat duniawi secara berlebihan, misalnya, setelah membeli jam tangan dengan merk tertentu yang harganya mungkin bisa digunakan untuk mencicil uang gedung sekolah anak, mereka menginginkan yang lebih mahal lagi dengan merk yang berbeda, kata mereka itu adalah hadiah bagi diri sendiri. Namun secara pribadi jika kesempatan tersebut datang, saya lebih memilih menumpuk koleksi buku-buku. Sebab sebenarnya semua orang mampu membeli jam, tetapi apakah waktu itu bisa dibeli? tentu saja hidup itu perkara pilihan-pilihan, apa iya, kita semua akan terbuai dengan prinsip ekonomi mengenai sikap dasar manusia mengenai kepuasan? ada sisi kepuasan yang tamak. Continue reading

Perempuan di Balik Kesunyian

Kenangan paling berkesan seumur hidup bisa pupus karena banyaknya trauma-trauma mendalam yang dialami oleh manusia…..

 

Judul Buku                  : Kalamata

Penulis                         : Ni Made Purnama Sari

Penerbit                       : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Editor                          : Candra Gautama

Jumlah Halaman     : 255

ISBN                            : 591601264

Cetakan Pertama     : Oktober, 2016

Exif_JPEG_420

dok pribadi

Ketika saya membaca buku, selalu saya mengecek aroma-aroma kertasnya yang menguar bagaikan aroma hujan pada tanah basah. Membasuhi jiwa saya sebelum membacanya. Meracuni, sekaligus mengobati, membuat saya semakin jatuh cinta dengan membaca buku.

Membaca seperti hidup itu sendiri, saya akan tahu bagaimana kisah itu memiliki kesan apa, memiliki ajaran apa setelah selesai. Persis ketika saya bersinggungan dengan orang-orang di sekeliling saya. namun, ada kalanya sosok-sosok di sekeliling kita dengan sekali melihat ada sebuah tanda, mereka akan selalu ada dalam kehidupan kita tanpa harus mengamati dari lahir hingga sepak terjangnya sekarang, ataupun nanti. Mungkin ini disebut dengan, perasaan? Atau entahlah.

Sunyi. Gagap gempita.

Fakta. Opini Masyarakat. Kenyataan.

Kekecewaan. Trauma. Kepercayaan.
Continue reading

Review Buku Rumah Kertas

bluma-1

dok pribadi pada Pantai Selatan Yogyakarta

Dua minggu terakhir saya terkena gangguan dalam menulis, susah sekali rasanya mengutarakan apa-apa yang terjadi dengan baik. Pikiran ini terkena disktraksi dalam meluapkan cara memaparkan perasaan atau buah pikiran. Maafkan saya. Mungkin ini termasuk masalah: malas menulis, alih-alih writer’s block. Tidak tahu bagaimana caranya, saya memaksakan membaca di waktu yang kurang produktif. Saya tidak mau merenggut kebiasaan membaca buku disetiap kegiatan baru yang menyita waktu. Buku-buku yang menemani saya dalam kegaduhan perasaan dan pikiran kali ini adalah Rumah Kertas dan Kala Mata (yang belum terbaca sampai akhir).

Banyak sekali pilihan-pilihan hidup yang harus dilalui, dan membutuhkan pikiran jernih. Hal tersebut sebenarnya menjadi distraksi utama saya kesulitan menghirup oksigen untuk menulis, rasanya kosong. Saya bisa merasakan kepedihan dan bahagia secara bersamaan ketika saya menulis, maka beberapa minggu kemarin saya berhenti. Terlalu naas untuk dilanjutkan dalam kegagap kempaan dunia yang sekarang sedang saya jalani.

Tetapi, dua hari ini di sela-sela malam saya menemukan ritme untuk membaca Rumah Kertas setelah sehari sebelumnya saya ajak dia bermain-main di tepian Pantai Parangtritis. Awal saya membaca buku ini, membantu saya untuk menulis kembali minimal untuk diri sendiri.

Menemukan Rumah Kertas seperti menemukan air mineral di tengah gurun pasir. Menyejukkan relung-relung jiwa yang menggersang karena peristiwa taifun. Bagi mu mungkin agak berlebihan, suatu kali jalan hidup orang memang tidak segampang berlalunya musim hujan ke musim kemarau, memberi tanda-tanda yang pasti dalam peralihan. Continue reading

Peran Sang Partikelir di Balik The Cukoo’s Calling

Sebuah review Dekut Burung Kukuk, teruntuk Joanne Kathleen Rowling -J.K Rowling yang selalu membuat masa kecilku penuh dengan cerita-cerita yang fantastis…..

IMG_20161204_082403.jpg

In frame:

Cormoran Strike

[Seorang detektif partikelir yang; memutuskan menjadi detektif saat terjadi bencana  dia pensiun (sendiri) dari tentara, waktu itu dia ditugaskan di Afganistan dan mengalami kecelakaan yang mempengaruhi hidupnya hingga kini; terlilit hutang atas bisnisnya; memiliki pacar bernama Charlotte dan sempat tinggal di rumahnya karena inisiatif pacarnya, namun ketika Strike memiliki banyak hutang, dan luka batin konflik besar terjadi hingga ia akhirnya mengepaki semua barang dari rumah mewah itu dan tinggal di kantornya. Saat mendapat kunjungan dari Bristow ia sudah putus dengan Charllotte] Continue reading

Review Buku Inteligensi Embun Pagi

Supernova buat saya itu sebagai sistem yang di dalamnya terdapat makhluk-makhluk dengan banyak gugusan yang memiliki tujuan berbeda-beda. infiltran, savara, dan peretas. Umbra adalah bayangan mereka dengan wujud manusia. Di sini mereka menuntaskan salah satu pucuk perjalanan, fase lain tak kasat mata masih berjalan.

iep

dok pribadi, place: central library

Hallo, peeps! Alhamdulillah akhirnya seri Supernova telah sampai kepada penutupnya: Inteligensi Embun Pagi, maaf saya tidak bisa langsung membaca novel ini ketika baru terbit. Selang beberapa bulan saya baru berani membuka lembar demi lembar. Takut cerita yang telah bertahun-tahun menemani sebagai cerita di akhir pekan berakhir menguar dalam ingatan, dan the end!

(sebelum membaca review lengkap tentang IEP, ada baiknya flashback dulu review tentang Gelombang <- klik ya 🙂 )

Masih ingat dengan kisah Ichon? Gio? Zahra? Bodhi? Dan bagaimana keterkaitan Ruben, Dimas dalam hekasgonal mereka? Continue reading