Review Buku The Dinner

SEBAGAIMANA menikmati kekosongan waktu bersama buku adalah kebahagiaan. Seperti ada candu di antara lembar demi lembar buku yang bisa menenangkan jiwa. Kali ini liburan panjang membawaku menemukan The Dinner di salah satu sudut toko buku yang terletak di Ring Road Utara-beberapa hari yang lalu sedang tutup karena direnovasi. Wah, seperti kisah-kisah psikopat yang rapi dalam menyusun rencana melindungi anak-anak mereka dari perbuatan yang telah dilakukan meskipun keliru ataupun benar.

Bisakah berhenti mencari-cari bacaan? batinku sendiri.

IMG-20170423-WA0001

dok pribadi

            Cukup membuatku ber hah, ketika menyelesaikan buku ini di halaman 348. Alur yang disajikan oleh Herman Koch membuat ketika membaca lembar demi lembar penasaran ada apa sebenarnya, apa yang akan mereka lakukan setelah itu seusai makan malam selesai. Alur maju mundur yang berhasil membuat penasaran sejak membaca halaman 1. Continue reading

Review Buku Lengking Burung Kasuari

AKHIR pekan ini menjadi akhir pekan yang berakhir dengan ditemani buku yang menjadi salah satu Pemenang Unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016. Cukup membutuhkan waktu lima jam tanpa jeda (kecuali untuk melirik skor Singapura Open 2017 di sektor ganda putra, hiks-hiks) saya menyelesaikannya, bagaimana keunikan karakter Asih yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Menjadikan saya terhanyut di kala waktu senggang yang bertepatan dengan jadwal siar Singapura Open 2017. Gadis berusia tujuh tahun ini menjadi kunci menggambarkan karakter lokal perantau yang ada di Papua. Buku yang ditulis oleh Nunuk Y Kusmiana ini sangat menarik, menggelitik. Kocak, iya. Getir, iya. Continue reading

Jatisaba: Teka-teki Fenomena Pekerja di Luar Negeri

Judul Buku: Jatisaba

Penulis: Ramayda Akmal

Penyunting: Septi Ws

Penerbit: Grasindo

Tahun terbit: Maret 2017

ISBN: 978-602-375-871-5

IMG_20170407_151245

dok pribadi

PERTAMA KALI membaca namanya, saya kira Ramayda Akmal adalah seorang laki-laki, akan tetapi setelah membaca ucapan terima kasih yang dia persembahkan perkiraan saya keliru. Ramayda adalah perempuan. Menjadi naskah yang diunggulkan pada tahun 2010, Jatisaba yang pada tahun ini diterbitkan, membuat saya langsung menarik perhatian untuk segera membaca dan menjelajahi tiap isinya.

Bekerja merupakan suatu cara yang awam dilakukan oleh masyarakat desa dan kota untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akan tetapi bagi mereka yang lulusan sekolah dasar bingung menghadapi masa depan, harus bekerja sebagai apa agar bisa memenuhi kebutuhan hidup? Hal tersebut ditulis oleh Akmal dengan menarik. Saya bisa mengambil kesimpulan, bahwa hal tersebut sampai sekarang masih terjadi.

Penyelundupan tenaga kerja ilegal masih terjadi. Akmal, mengupas perjalanan para pekerja itu dengan cara yang pilu. Menyisakan banyak tanya bagi pembaca, jika kamu bingung hendak membeli buku apa di akhir pekan, sebaiknya Jatisaba menjadi salah satu list yang sebaiknya kamu kantungi. Continue reading

Review Buku Kemolekan Landak

NGOMONG-NGOMONG tentang buku terjemahan dari Perancis, ini merupakan buku terjemahan yang sedap. Muriel Barbery. Di buku yang dialihbahasakan oleh Jean Couteau dan Laddy Lesmana ini memiliki tebal 364 halaman. Saya membeli buku ini bebarengan dengan Di Tanah Lada. Yang masing-masing mendapatkan diskon 30%. Kegiatan yang paling saya suka setelah membeli buku adalah membaui kertas buku-buku yang baru saya beli setelah merobek sampul plastik yang membungkusnya. Kemolekan landak termasuk memiliki kertas serupa aromah hujan. Candu yang luar biasa untuk terus semangat membaca.

Membutuhkan waktu tepat satu minggu untuk membaca buku ini, dengan cara terputus-putus. Seperti nya Muriel mencoba menjawab pertanyaan tentang arti kehidupan yang memiliki banyak perbedaan antara individu dari hierarki masyarakat yang berbeda. Continue reading

Review Buku Di Tanah Lada

SEKARANG isya telah berkumandang di belahan dunia saya. Di belahan dunia kamu mungkin sedang magrib, subuh, ashar, duhur, atau mengalami hal yang sama dengan dunia tempat saya bersemayam atau tidak sama sekali dengan hal yang saya sebutkan di kata sebelum ini. Saya menghabiskan menikmati hujan dengan membaca buku, Di Tanah Lada, dengan tebal 244 halaman. Saya membelinya dengan diskon tiga puluh persen -jangan tanya saya beli di toko buku mana, sebab pasti kalian selalu menduga-duga, tempat ternyaman mana yang bisa di kunjungi selain toko buku, mungkin kalimat terakhir ini di paragraf awal review tidak ada kaitannya dengan isi judul, maaf ya.

tanag lada

dok pribadi

Sebagai cacing buku –asal istilahnya tidak berubah menjadi babi buku, semua buku merupakan guru tersendiri. Romance dewasa, teenlit, atau sastra memiliki kesan sendiri. Setiap pertanyaan kehidupan memiliki jalan untuk dijawab dengan cara yang berbeda-beda. Apalagi tentang cinta. Pengaruhnya banyak, seperti mendapatkan pandangan baru dalam melihat masalah, memperkaya jiwa dengan cerita-cerita yang secara detail ada di terjadi di sekitar kita.

Continue reading

Review Buku: Orang-Orang Proyek

Penulis                      : Ahmad Tohari

Penerbit                    : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman    : 256

ISBN                           : 978-602-03-2059-5

Ahmad Tohari memiliki ciri khas yang selalu mengangkat kisah fiksinya dari kegelisahan masyarakat pada umumnya. Ketika kamu memilih membaca novel ini, Orang-orang Proyek, kamu akan terusik sendiri dengan pemikiran yang kamu miliki, membandingkan pemerintahan di era orde baru dan demokrasi. Bisa saja kamu berpikir, apakah sudah ada perubahan hingga sekarang?

Seperti adanya pengkotak-kotakan antara: bawah, menengah, dan atas. Rakyat biasa, swasta, pemerintah. Hak atas lelaki dan perempuan. Ternyata itu terjadi bukan karena mak bedunduk langsung ada, tetapi memang sudah dari dulu terdapat hierarki sendiri di masyarakat yang entah siapa yang memulainya. Seperti pada hierarki yang digambarkan Orwell pada tahun 1930-an, menurut Orwell semua itu tidak berguna. Untuk apa?

Tulisan George Orwell, tidak hanya di Indonesia saja yang memiliki masyarakat miskin, pada tahun 1930-an Inggris juga dikuasai oleh kaum Partai Bengis yang menginkan kekuasaan demi keserakahan. Meskipun di Indonesia hal tersebut terjadi dengan cara yang berbeda, tetapi sejak merdeka, Indonesia masih terus digerogoti virus pemerintah yang ‘rakus’.

Exif_JPEG_420

dok pribadi

Continue reading

Review Buku: Jakarta Sebelum Pagi

Judul Buku               : Jakarta Sebelum Pagi

Penulis                      : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

ISBN                           : 978-602-375-843-2

Penerbit                    : Grasindo

Ini merupakan kali pertama saya menuliskan nama lengkap belakang Ziggy –coba cek lagi siapa tahu terdapat typo, untuk mengucapkan nama belakangnya pun lidah ini tersumbat karena otak saya lupa bagaimana cara mengeja konsonan dan vokal yang terlalu panjang selain terdapat huruf konsonan yang berdampingan tanpa vokal.

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie.

Buku pertama Ziggy yang saya baca berjudul San Fransisco, tanpa sengaja saya menemukan bagian profilnya. Penulis satu ini membawa aroma segar. Renyah, kuat, dan menyejukkan pembaca. Buku dengan tebal 270 (+3 halaman jika halaman pertama yang berupa judul, halaman keduanya berupa ucapan terima kasih, dan tentang penulis di halaman belakang juga dihitung) memiliki nuansa menyentuh dengan kekocakan yang dihadirkan tokoh aku yang diperankan oleh Emina.

Exif_JPEG_420

dok pribadi taken by Drummer Twenty One Pilots versi Indonesia

Buku ini menjadi bagian yang tidak mudah dilupakan isinya setelah saya selesai membacanya, Jakarta Sebelum Pagi menjadi karya fiksi terbaik Indonesia 2016 versi majalah Rolling Stone. Menceritakan tentang Aminah –dalam bahasa arab, nama aslinya Emina. Yang memiliki keluarga tinggal di panti jompo sedang dia di sebuah apartemen setelah kematian kedua orang tuanya. Dan, dia mengenal Pak Meneer yang memiliki perpustakaan, dan menyarankan harus membaca buku-buku itu hingga akhirnya dia mendapatkan kiriman bunga dari stalker-nya.

Suki. Nissa. Nenek. Nin. Datuk. Abel.

Karakter tokoh-tokoh yang dihadirkan sangat menarik. Continue reading

Review Buku 1984: Membaca ialah Perang

“Kebodohan sama penting dengan kecerdasan, dan sama sulitnya dicapai” –George Orwell.

Ini adalah buku kedua George Orwell yang saya baca, buku pertama berjudul Animal Farm merupakan sindiran yang cerdas mengenai terjadinya perang dunia, tentunya, selama seminggu dengan waktu yang terputus-putus dikala malam. Saya berhati-hati dalam mereview buku ini, berhati-hati untuk tidak merusak isi dari buku ini, bisa dijadikan acuan dalam memahami politik dan kekuasaan, andai saja para anggota-anggota DPR, Gubernur-gubernur, bupati-bupati, lurah-lurah, hingga Presiden membaca buku ini, tersadarkan mereka akan politik yang sebenarnya?.

Selesai membaca 1984, saya bisa merasakan Orwell mencoba merangkum politik sosial budaya di dalam satu buku dengan anaslisis perkembangan sosial politik dari generasi ke generasi.

Dengan tokoh utama Winston Smith yang hidup di negara yang disebut sebagai negara Oceania, memiliki beberapa susunan Kementerian. Kementerian Kebenaran –mengurusi berita, hiburan, dan seni. Kementerian Cinta Kasih –mengurusi hukum dan ketertiban. Kementerian Perdamaian –menangani bidang perang. Dan Kementerian Tumpah Ruah –bertanggungjawab terhadap masalah perekonomian. Hampir semua daerah tidak lepas dari pengawasan teleskrim. Bagi mereka yang memiliki pemikiran untuk menggulingkan Bung Besar akan diuapkan. Bahkan anak-anak dididik untuk menjadi mata-mata. Continue reading

Perempuan di Balik Kesunyian

Kenangan paling berkesan seumur hidup bisa pupus karena banyaknya trauma-trauma mendalam yang dialami oleh manusia…..

 

Judul Buku                  : Kalamata

Penulis                         : Ni Made Purnama Sari

Penerbit                       : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Editor                          : Candra Gautama

Jumlah Halaman     : 255

ISBN                            : 591601264

Cetakan Pertama     : Oktober, 2016

Exif_JPEG_420

dok pribadi

Ketika saya membaca buku, selalu saya mengecek aroma-aroma kertasnya yang menguar bagaikan aroma hujan pada tanah basah. Membasuhi jiwa saya sebelum membacanya. Meracuni, sekaligus mengobati, membuat saya semakin jatuh cinta dengan membaca buku.

Membaca seperti hidup itu sendiri, saya akan tahu bagaimana kisah itu memiliki kesan apa, memiliki ajaran apa setelah selesai. Persis ketika saya bersinggungan dengan orang-orang di sekeliling saya. namun, ada kalanya sosok-sosok di sekeliling kita dengan sekali melihat ada sebuah tanda, mereka akan selalu ada dalam kehidupan kita tanpa harus mengamati dari lahir hingga sepak terjangnya sekarang, ataupun nanti. Mungkin ini disebut dengan, perasaan? Atau entahlah.

Sunyi. Gagap gempita.

Fakta. Opini Masyarakat. Kenyataan.

Kekecewaan. Trauma. Kepercayaan.
Continue reading

Review Buku Rumah Kertas

bluma-1

dok pribadi pada Pantai Selatan Yogyakarta

Dua minggu terakhir saya terkena gangguan dalam menulis, susah sekali rasanya mengutarakan apa-apa yang terjadi dengan baik. Pikiran ini terkena disktraksi dalam meluapkan cara memaparkan perasaan atau buah pikiran. Maafkan saya. Mungkin ini termasuk masalah: malas menulis, alih-alih writer’s block. Tidak tahu bagaimana caranya, saya memaksakan membaca di waktu yang kurang produktif. Saya tidak mau merenggut kebiasaan membaca buku disetiap kegiatan baru yang menyita waktu. Buku-buku yang menemani saya dalam kegaduhan perasaan dan pikiran kali ini adalah Rumah Kertas dan Kala Mata (yang belum terbaca sampai akhir).

Banyak sekali pilihan-pilihan hidup yang harus dilalui, dan membutuhkan pikiran jernih. Hal tersebut sebenarnya menjadi distraksi utama saya kesulitan menghirup oksigen untuk menulis, rasanya kosong. Saya bisa merasakan kepedihan dan bahagia secara bersamaan ketika saya menulis, maka beberapa minggu kemarin saya berhenti. Terlalu naas untuk dilanjutkan dalam kegagap kempaan dunia yang sekarang sedang saya jalani.

Tetapi, dua hari ini di sela-sela malam saya menemukan ritme untuk membaca Rumah Kertas setelah sehari sebelumnya saya ajak dia bermain-main di tepian Pantai Parangtritis. Awal saya membaca buku ini, membantu saya untuk menulis kembali minimal untuk diri sendiri.

Menemukan Rumah Kertas seperti menemukan air mineral di tengah gurun pasir. Menyejukkan relung-relung jiwa yang menggersang karena peristiwa taifun. Bagi mu mungkin agak berlebihan, suatu kali jalan hidup orang memang tidak segampang berlalunya musim hujan ke musim kemarau, memberi tanda-tanda yang pasti dalam peralihan. Continue reading