Alamat

Persiapkan ingatanmu untuk mencatat. Nama jalan pada sebuah kertas di jaman yang masih belum akrab dengan google map, aplikasi waze, dan sejenisnya. Hanya ada surat-surat yang menghubungkan sanak-saudara yang terpisah jarak. Sekarang, jalan-jalan yang hendak dilewati berbeda, ruko-ruko telah berjejeran. Menembus ingatanmu yang telah hilang. Ke mana perginya hujau-hijauan?. Continue reading

Payung

[1]

Putih. Transparan. Warna payungmu, yang delapan tahun ia beli.

Hujan membuat kamu mengurung menstarter kendaraan roda dua untuk menjemput seseorang, kala itu. Mblawur, pandangamu blawur saat kamu berjalan di sepanjang gang semangat ketika sepeda motor melewatimu dengan meninggalkan noda cipatran karena tidak menghindari jalan yang berlubang. Mau mengumpat tidak perlu, sebab langkahmu sedang tergesa menjemput seseorang yang sudah mengabari sampai di shelter bus dekat taman pintar. Payung yang kamu gunakan adalah pelindung yang tabah, kepala mu terlindungi dari tetes hujan meski beberapa bagian tubuhnya merasa gigil akibat percikan air yang tampias, dan celanamu basah karena kena ciprat. Jarak tidak membuatmu berat, cuaca tidak membuatmu menciut. Jalanmu mantap. Continue reading

Moco

[1]

Kamu berdiri sudah lima menit membaca di depan rak D1.02.S1 dengan sabar. Deret D1 dikategorikan oleh toko buku di jalan Suroto itu dengan label sastra. Kamu membaca dengan kecermatan yang mendalam, mengesankan buku yang sudah terbuka di etalase D1 itu bukan buku sembarangan. D1 bersuara tentang sastra yang sebagian besar dihuni oleh penerbit KPG, Buku Mojok, Penerbit Oak, Gramedia, dan Marjin Kiri. Kamu membuka satu lembar setelah menghabiskan waktu dua menit untuk satu halaman. Deru nafasmu teratur dengan menikamti musik nge-beat membuat kamu semakin betah. Sugar, Shake It Of, Bang-bang, It Always was You. Lagu terakhir membuat kamu ikut bergumam dengan membalik halaman selanjutnya. Membaca buatmu adalah kenikmatan, setiap membaca cerita yang ditulis oleh dia kamu seperti merasakan kedukaan yang sama dalam setiap nafas yang ditiupkan pada kalimat-kalimatnya. Matamu tidak bosan-bosan menelusuri kata demi kata hingga sekarang sudah sepuluh lembar kamu lumat. Kamu memang berniat membelinya, tetapi sejak melihat ada satu buku yang sudah lepas dari plastik kamu mengurungkannya, menunggu dia yang menulis tiba. Sudah hampir dua puluh menit, kamu melirik jam tangan ketika lagu It Always was You telah habis dan berganti ke lagu lain, samar-samar seperti suara Avril Lavign tetapi kamu lupa judul lagu itu. Dia tidak kunjung datang. Urung mengirim Whatsapp kamu berjongkok, menelusuri buku-buku lain yang kiranya bisa memenuhi koleksmu, kamu gila baca. Hingga ada lanangan menjajari kamu berjongkok, dia membenahi tali sepatunya. Dia melempar senyum mencoba beramah-tamah. Matamu memandang yang lain, ke buku yang selanjutnya ada di tangan kirimu, kamu tenteng. Continue reading