Merawat Hidup

KENAPA saya ingin menemui sosok Mbak Ivy selalu dalam kehidupan yang saya jalani? Dalam sosok lain tentu. Terutama sekarang. Natalia Oetama, itu nama lengkapnya. Tidak mudah menemukan sosok seperti beliau. Saya termasuk orang yang beruntung mengenal dan sempat menikmati hijaunya Jogja bersama. Pertemanan ini, mungkin disebut sebuah kebetulan yang tidak terjadwal sebelumnya. Melalui buku cerita pendek, cerita kami bersama dimuat. Di sana kemudian kami mengenal satu sama lain. Continue reading

Advertisements

Kisah Sungu Lembu oleh Yusi Avianto Pareanom

SEBENARNYA saya masih memiliki ketertarikan lebih dengan sastra jawa melalui kisah-kisah klasik seperti Mahabarata, Ramayana, yang pada umumnya diketahui sebagaian orang berasal dari India tetapi ketika cerita tersebut sudah masuk Indonesia, hal-hal tersebut sudah memiliki ciri khas tersendiri sebagai kisah kontemporer negeri agraria ini.  Dan ketika saya bertanya dengan Bapak sendiri mengenai kisah pewayangan, sebenarnya ada bagian-bagian tertentu yang menjadi kreatifitas para pencerita untuk menciptakan lakonnya. Dan kitab umum yang bisa dijadikan rujukan cerita dalah Ramayana dan Mahabarata, kedua buku tersebut tiada memiliki batas untuk dijadikan cerita baru.

            Kisah klasik tersebut saya temukan melalui Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi yang ditulis oleh Yusi Avianto Pareanom. Ia menceritakan hal klasik dengan gaya bahasa yang bagi saya menghibur. Karena sejatinya dalam Raden Mandasia merupakan kisah klasik dengan penuturan kontemporer yang tidak membosankan, seperti membaca Babat Tanah Jawa dari sisi yang berbeda. Jika sebelumnya saya beranggappan bahwa Dewi Sintha selalu bersedih karena dia diculik oleh tokoh antagonis dan terpisah dari Rama, saya jadi melihat dari sisi lain ketika Dewi Sintha ternyata juga memiliki peran politik yang ternyata menyebabkan perang, yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

mandasia.jpg

dok pribadi

          Continue reading

Sebuah Review: Alam yang Diasingkan

“Ini buku baru Mbak, belum ada diskon khusus.” Dia tersenyum ramah.

“Siapa yang menerjemahkan ini Mas?”

“Ronny Agustinus.”

“Bagus kovernya, aku belum pernah melihat buku ini dalam bahasa asli.” begitu aku melihat Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta dalam balutan kover berwarna hijau yang mendamaikan. Kutemukan harta karun ini di antara buku-buku yang meramaikan Asean Literary Festival, 6 Agustus lalu di booth penerbit Marjin Kiri. Dengan harga yang lebih tak seberapa jika dibanding kehedonisan penduduk ibu kota.

Kutemukan sesuatu setelah selesai membaca buku ini.

Alam merupakan nafas kehidupan. Yang menurut saya sekarang diasingkan dengan manfaat yang kebanyakan buruk salah satunya pendulangan isi bumi yang berlebihan. Di sana semua bersumber dan menimbulkan sebab akibat. Tidak hanya manusia, dan hewan tetapi juga makhluk hidup lainnya semua bergantung kepada alam. Tetapi makhluk hidup paling sempurna, manusia, selalu memiliki cara sendiri untuk melakukan pembelajaran lebih untuk memanfaatkan alam sebagai kelangsungan hidup. Continue reading

Definisi Bahagia

Pada Sebuah Gerbong Kereta

SAKING banyaknya orang menakar-nakar ukuran bahagia, banyak yang melupakan suara kebenaran hati nurani sendiri dan pada akhirnya ada sebuah titik yang kuakui merupakan titik nol.  Spiritual yang terkadang pada saatnya terbuka lebar. Kedamaian. Ada di dalam bathin masing-masing.

            Banyak sekali tolak ukurnya. Pada umumnya dimulai dari apa yang kasat mata. Seperti; kendaraan, rumah, perhiasan, dan hal-hal lainnya.

            Apakah senyumanmu bisa dibeli? kubertanya dalam hati.

            Pernahkah bathinmu merasakan yang kamu inginkan sebenarnya?

            Mendengarkan keinginanmu tanpa interupsi dari luar?

            Mereka adalah hal tak kasat mata kunci dari semua. Continue reading

Di Antara Jari-jari yang Menari

MENJAGA hati nurani tetap sehat merupakan hal tersulit untuk dilakukan saat ini. Pasalnya setiap hari sedih sekali menjadikan microsoft word sebagai penadah hal-hal yang sebanarnya ingin  lisan  utarakan mewakili nurani. Ketakutan untuk berujar karena ia menari-menari dengan gayanya sendiri.

            Seolah-olah menertawakan akal sehat yang mulai sinting.

            Dia sudah bersuami, begitu spekulasinya, di antara kepadatan jari-jari yang mulai patah. Dia tak mungkin melihatmu hanya gara-gara sama-sama memiliki hal yang sama diutarakan melalui microsoft word. Kucing memang. Continue reading

Review Buku Sirkus Pohon: Cinta Memihak Mereka yang Menunggu

“Fiksi, cara terbaik menceritakan fakta.” -Andrea Hirata

Terakhir kali membaca karya Andrea Hirata adalah Sebelas Patriot. Pada akhirnya, aku bisa membaca karya terbaru Sirkus Pohon yang menceritakan potret kehidupan orang-orang kecil di pulau dengan berbagai masalah yang sering terjadi di sekitarnya.

Ritual rutin yang kulakukan dengan buku-buku sebelum membacanya adalah membauinya. Kemudian teman-temanku terheran, dan ikut serta membaui kertas-kertas buku tersebut. Apa bau mereka? Gila. Ekspresi mereka terlihat dari dahi mereka yang mengernyit. Kutemukann kedamaian dari aromanya sebelum membaca sekatapun. Seperti aroma rumput hijau yang basah karena embun pagi, yang kemudian meresap ke tanah, aroma seperti itu. Bukan aroma pohon yang apek. Continue reading

Tungku

BARA merupakan bagian terpenting bagi kehidupan ku. Tanpanya aku tidak bisa menyenangkan orang-orang yang menahan nafsu. Tetes demi tetes air meredam bara yang telah menyemburkan api. Aku berharap aku tidak diciptakan dengan fungsi seperti ini. Tahan panas tetapi rapuh.

            Sore itu mendung menjadikan uap-uap air turun. Tetapi beberapa orang masih sempat memuaskan nafsu mereka di sekitarku. Menunggu hingga daging-daging itu siap panggang. Lelaki berkaus putih itu menambah kembali bara pada ceruk tubuh ku yang lebarnya tidak seberapa. Apa yang akan ia buat adalah sebuah master  piece yang akan berakhir dengan tinja. Menu favorit di sini adalah tongseng kambing, sate sapi, sate kambing, dan nasi goreng sapi serta kambing. Orang-orang mulai menganggap remeh gumpalan ayam yang direbus hanya karena cita rasanya tidak segurih sapi maupun kambing. Betapa urat-urat di lengannya kencang setelah sekian lama berdiri di depanku mengabaikan hasratnya untuk mencumbu istrinya. Ia gunakan tangannya yang kekar demi dua puluh satu ribu rupiah untuk sepiring nasi. Kuakui, ini adalah caranya bertahan dari kehidupan yang kejam. Namun dia adalah lelaki yang cukup beruntung. Continue reading

Sebuah Review Anak Rantau: Menjadikan Alam Sebagai Guru

JADWAL bacaku tidak seperti dulu lagi, yang berarti menunggu membaca, bengong membaca di mana pun, dan kapan pun. Jadwal mencoret-coret ku juga tidak sama seperti dulu lagi, bisa coret-coret di mana saja, kapan pun. Ada banyak hal yang membuatnya berubah.

            Di lingkungan baru, ada seorang teman yang bertanya, kapan kamu suka menulis atau pun membaca, kenapa? kenapa harus membaca? apa orang tua mu tidak marah kamu membeli buku? bagi teman-teman lamaku mungkin sudah tidak kaget lagi melihat kegemaran ku pada buku seperti misalkan orang yang tidak bisa lepas dari kegilaannya pada rokok atau pun orang yang memiliki panggilan travelling. Ini bukan tentang gaya hidup, tetapi kebutuhan hidup. Continue reading

Berintim

“Salah satu tujuanku, membuat acara Literary Lunch, sekaligus aku pamitan untuk beberapa waktu, karena aku akan bertolak ke lowa, Amerika, pada tanggal 19 nanti, diundang sebagai pembicara di Lowa” -Okky Madasari

DI SIANG yang bersejarah di Kota Tua. Di sela-sela berlangsungnya agenda ASEAN Literary Festival, di Batavia Market terdapat pembicaraan yang santai, lebih dekat, tentu saja lebih intim tanpa sekat bersama Okky Madasari. Ada agenda khusus selain bentuk apresiasi Okky Puspa Madasari kepada para pembaca buku dan penikmat sastra, pamitan sebentar karena akan segera bertolak ke Progam Residensi di Amerika, Lowa.

            Aku beruntung sekali termasuk ke dalam lima belas orang yang bisa mengikut acara ini, senang sekali bisa bertemu dengan beberapa teman lain yang memiliki minat yang kuat di bidang sastra, sekaligus berkencan dengan beberapa teman media.

            Kapan lagi aku bisa bertemu dengan Okky Madasari lagi dengan suasana yang berbeda? ini merupakan kali kedua setelah pertemuan aku untuk pertama kalinya di Yogyakarta. Kesan pertama di Yogyakarta ketika waktu itu pertama kali bertemu adalah hangat. Sosok yang sangat inspiratif. Continue reading

Anak Rantau, Obat Luka: Maaf dan Melupakan

ASEAN LITERARY FESTIVAL 2017, 5 Agustus 2017 menghadirkan mantra baru di soft launching Anak Rantau, A. Fuadi.

“Obat luka adalah maaf,” begitu kata A. Fuadi di awal acara. Dengan maaf bisa menyembuhkan rasa sakit, sebab luka batin tidak ada obatnya, tetapi fisik memiliki obatnya, pada akhirnya maaf merupakan penawar yang menyehatkan.

 

            Anak Rantau membawa aura lengkap, selain karena terinspirasi dari kampung halaman A Fuadi sendiri, trilogi sebelumnya, dan pesan moral untuk pembaca. Ada beberapa hal yang mengusik pemikiran penulis asal Sumatera ini. Di desanya, sudah ada datuk yang tersandung kasus narkoba, struktur kampungnya sudah berubah, sehingga untuk memperbaiki kampungnya untuk menjadi lebih baik, A Fuadi memutuskan untuk menulis. Anak Rantau sudah ada berada di benak beliau sudah lama, membutuhkan waktu empat tahun untuk menyelesaikan Anak Rantau karena berbagai hal, antara lain karena kegiatan sehari-hari dan riset. Meluangkan waktu untuk menulis memang bukan hal mudah untuk seorang yang memiliki kewajiban di luar menulis sebagai disiplin diri. Continue reading