Review Buku The Dinner

SEBAGAIMANA menikmati kekosongan waktu bersama buku adalah kebahagiaan. Seperti ada candu di antara lembar demi lembar buku yang bisa menenangkan jiwa. Kali ini liburan panjang membawaku menemukan The Dinner di salah satu sudut toko buku yang terletak di Ring Road Utara-beberapa hari yang lalu sedang tutup karena direnovasi. Wah, seperti kisah-kisah psikopat yang rapi dalam menyusun rencana melindungi anak-anak mereka dari perbuatan yang telah dilakukan meskipun keliru ataupun benar.

Bisakah berhenti mencari-cari bacaan? batinku sendiri.

IMG-20170423-WA0001

dok pribadi

            Cukup membuatku ber hah, ketika menyelesaikan buku ini di halaman 348. Alur yang disajikan oleh Herman Koch membuat ketika membaca lembar demi lembar penasaran ada apa sebenarnya, apa yang akan mereka lakukan setelah itu seusai makan malam selesai. Alur maju mundur yang berhasil membuat penasaran sejak membaca halaman 1. Continue reading

Hujan

MALAM telah kembali. Bulir-bulir air turun dari atas bercampur menjadi satu dengan samudra, menyisakan sesuatu hal yang terlanjur dirindukan yang bernama daratan. Rintik-rintiknya datang seperti rasa kepergian atau menunggu datangnya fajar. Kadang menyejukkan tetapi menyisakan tanya yang belum mendapat jawaban, Tuhan.

            Di sekitar pulau-pulau yang berdekatan dengan Sambu terlihat air berkecipak tenang dalam keremangan meskipun terkena guyuran. Merasakan apa yang terjadi dalam diam, ketika di atas sana terdapat rembulan tetapi hujan tetes demi tetes bergulir membuat kuyup nelayan di atas perahu kayu yang digunakan untuk mencari ikan Continue reading

Review Buku Lengking Burung Kasuari

AKHIR pekan ini menjadi akhir pekan yang berakhir dengan ditemani buku yang menjadi salah satu Pemenang Unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016. Cukup membutuhkan waktu lima jam tanpa jeda (kecuali untuk melirik skor Singapura Open 2017 di sektor ganda putra, hiks-hiks) saya menyelesaikannya, bagaimana keunikan karakter Asih yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Menjadikan saya terhanyut di kala waktu senggang yang bertepatan dengan jadwal siar Singapura Open 2017. Gadis berusia tujuh tahun ini menjadi kunci menggambarkan karakter lokal perantau yang ada di Papua. Buku yang ditulis oleh Nunuk Y Kusmiana ini sangat menarik, menggelitik. Kocak, iya. Getir, iya. Continue reading

Surga di Perempatan Jalan

Enlightening Minds, Expanding Horizons -Jargon di kantung plastik salah satu toko buku yang saya dapat hari ini di Bazar

SIAPA yang rela dipenjara asal bersama buku-buku, seperti Moh Hatta? Di sini, di perempatan jalan protokol kota pelajar kembali menyuguhkan pandangan yang sayang untuk dilewatkan. Bazar buku. Buku-buku berserakan rapi. Di meja-meja, buku tersusun berdasarkan penerbit dan genre-nya. Seperti penjara untuk umum. Apa nikmatnya menjadi pencinta buku? penjara ini berupa surga jika kita tenggelam di dalamnya.

            Memang, buku-buku yang disajikan bukan terbitan baru dua bulan belakangan. Tetapi tetap saja ini menjadi surga tersembunyi ketika saya menemukan novel-novel lama Tyas Effendi. Secara personal saya belum pernah berbincang-bincang langsung dengan doi, tetapi saya dipertemukan dengan sobat karibnya yang sama-sama menimba ilmu sastra tiga tahun lalu, Ilmi, dia juga seorang pilatropis buku. Ya, pilantropis, karena dia selalu meluangkan waktu yang tidak tanggung-tanggung untuk menghabiskan waktu sela di toko buku, kedai kopi, di depan laptop dan aroma kopi-kopi. Perburuan saya di bazar kali ini mengingatkan waktu-waktu lama kami yang sekarang tergadaikan oleh jarak. Seperti dua tahun lalu dia berujar.

Continue reading

Jatisaba: Teka-teki Fenomena Pekerja di Luar Negeri

Judul Buku: Jatisaba

Penulis: Ramayda Akmal

Penyunting: Septi Ws

Penerbit: Grasindo

Tahun terbit: Maret 2017

ISBN: 978-602-375-871-5

IMG_20170407_151245

dok pribadi

PERTAMA KALI membaca namanya, saya kira Ramayda Akmal adalah seorang laki-laki, akan tetapi setelah membaca ucapan terima kasih yang dia persembahkan perkiraan saya keliru. Ramayda adalah perempuan. Menjadi naskah yang diunggulkan pada tahun 2010, Jatisaba yang pada tahun ini diterbitkan, membuat saya langsung menarik perhatian untuk segera membaca dan menjelajahi tiap isinya.

Bekerja merupakan suatu cara yang awam dilakukan oleh masyarakat desa dan kota untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akan tetapi bagi mereka yang lulusan sekolah dasar bingung menghadapi masa depan, harus bekerja sebagai apa agar bisa memenuhi kebutuhan hidup? Hal tersebut ditulis oleh Akmal dengan menarik. Saya bisa mengambil kesimpulan, bahwa hal tersebut sampai sekarang masih terjadi.

Penyelundupan tenaga kerja ilegal masih terjadi. Akmal, mengupas perjalanan para pekerja itu dengan cara yang pilu. Menyisakan banyak tanya bagi pembaca, jika kamu bingung hendak membeli buku apa di akhir pekan, sebaiknya Jatisaba menjadi salah satu list yang sebaiknya kamu kantungi. Continue reading

Review Buku Kemolekan Landak

NGOMONG-NGOMONG tentang buku terjemahan dari Perancis, ini merupakan buku terjemahan yang sedap. Muriel Barbery. Di buku yang dialihbahasakan oleh Jean Couteau dan Laddy Lesmana ini memiliki tebal 364 halaman. Saya membeli buku ini bebarengan dengan Di Tanah Lada. Yang masing-masing mendapatkan diskon 30%. Kegiatan yang paling saya suka setelah membeli buku adalah membaui kertas buku-buku yang baru saya beli setelah merobek sampul plastik yang membungkusnya. Kemolekan landak termasuk memiliki kertas serupa aromah hujan. Candu yang luar biasa untuk terus semangat membaca.

Membutuhkan waktu tepat satu minggu untuk membaca buku ini, dengan cara terputus-putus. Seperti nya Muriel mencoba menjawab pertanyaan tentang arti kehidupan yang memiliki banyak perbedaan antara individu dari hierarki masyarakat yang berbeda. Continue reading

Braile [The End]

Pemikiran Dangkal No 1

[Pengunjung]

APAKAH yang dimaksud dengan kehidupan? Dia membeli buku baru tanpa bagian-bagian yang menonjol dan hari ini dia datang ke ruang kedap suara lagi. Memandang seseorang yang sedang asyik membaca seolah tidak mau diganggu. Apakah kaum mereka mengerti apa arti kehidupan? Sepertinya pemikiran gadis ini sia-sia seperti cacing kremi yang telah lama mati. “Kehidupan” di sekelilingnya hanyalah saling menghakimi, menghujat, tanpa tawaran apapun saat dia mulai membawakan segudang cerita melalui buku-buku. Continue reading

Review Buku Di Tanah Lada

SEKARANG isya telah berkumandang di belahan dunia saya. Di belahan dunia kamu mungkin sedang magrib, subuh, ashar, duhur, atau mengalami hal yang sama dengan dunia tempat saya bersemayam atau tidak sama sekali dengan hal yang saya sebutkan di kata sebelum ini. Saya menghabiskan menikmati hujan dengan membaca buku, Di Tanah Lada, dengan tebal 244 halaman. Saya membelinya dengan diskon tiga puluh persen -jangan tanya saya beli di toko buku mana, sebab pasti kalian selalu menduga-duga, tempat ternyaman mana yang bisa di kunjungi selain toko buku, mungkin kalimat terakhir ini di paragraf awal review tidak ada kaitannya dengan isi judul, maaf ya.

tanag lada

dok pribadi

Sebagai cacing buku –asal istilahnya tidak berubah menjadi babi buku, semua buku merupakan guru tersendiri. Romance dewasa, teenlit, atau sastra memiliki kesan sendiri. Setiap pertanyaan kehidupan memiliki jalan untuk dijawab dengan cara yang berbeda-beda. Apalagi tentang cinta. Pengaruhnya banyak, seperti mendapatkan pandangan baru dalam melihat masalah, memperkaya jiwa dengan cerita-cerita yang secara detail ada di terjadi di sekitar kita.

Continue reading

Menggunakan Transportasi Umum BRT Semarang

MACET? Apa solusi dari kemacetan? Tidak lebih dengan berjalan kaki, mungkin itu bisa sebagai alternatif untuk mengurangi kemacetan –don’t try this at capital city when 12.00 pm –lol.

Sebagai penikmat transportasi umum tentu ada pilihan yang bisa membuat perjalanan nyaman, saya selalu senang menikmati kehadiran orang-orang yang berlalu lalang dalam perjalanan. Baiknya sarana dan prasarana tranportasi umum merupakan penunjang kenyamanan itu sendiri. Di Terminal Terboyo, Semarang, dalam perjalan menuju sebuah tempat yang mungkin memiliki sedikit babi, dan banteng yang hidup dalam minimnya kebebasan berpendapat –mungkin, atau bisa saja kebalikannya, lubang-lubang tergenang air, sisa hujan hari kemarin. Di jalan utama menuju dalam terminal Terboyo terdapat lubang besar yang membuat saya harus menghindar dan berjalan kaki lebih hati-hati. Continue reading

Review Buku Di Kaki Bukit Cibalak

KETIKA kamu menganggap bahwa semua sarjana memiliki nafas yang sama ketika berhadapan dengan birokrasi yang berhubungan dengan sistem, uang, dan kekuasaan apakah kamu akan berpikir mereka akan mementingkan kualitas dan tanggung jawab dalam melakukan kegiatannya di dunia yang profesional?

Exif_JPEG_420

Dalam perjalanan (dok pribadi)

Ketika diberi kesempatan untuk bergabung dengan hal-hal yang berkaitan dengan buku, saya berjanji dengan diri sendiri. Untuk terus berkarya demi kemanusiaan, sesama, dan untuk menemani orang-orang Indonesia dengan jenis buku yang menghibur (ini mungkin tidak berkaitan dengan paragraf sebelumnya, ataupun setelahnya, seperti catatan tambahan yang harus ada karena sebagai arsip perjalanan)

Di cerita yang diangkat Ahmad Tohari kali ini saya akan bertanya-tanya dalam diri saya sendiri. Apa yang saya cari? Apa yang dicari dari sistem yang namanya pendidikan formal mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi, jika pada akhirnya mereka memiliki rasa rakus untuk memperkaya diri sendiri bahkan dengan menyingkirkan kepentingan masyarakat? Kalau hanya untuk menggelembungkan proyek-proyek bodong tanpa ujung, untuk apa ilmu itu? Continue reading